Dawuk; Apa Anak dari Pasar dan Cantik Itu Luka?

SAVANA- Ada banyak novel yang sudah saya baca (banyak di sini berarti lebih dari tiga, ya! Jangan katai sombong), namun hanya sedikit sekali yang berakhir dengan umpatan. Dawuk salah satu novel yang saya baca yang diakhiri dengan umpatan.

Makna umpatan di sini bisa seperti seorang santri yang sedang membuka-buka majalah dewasa, lalu dengan fasihnya ia mengucap “Astagfirullah… Astagfirullah…”, tapi saat menemui halaman terakhir, ia pun mendesah, “Ah.., habis.”

Dawuk adalah kisah tak teladan yang diceritakan ulang oleh Warto Kemplung: pembual besar yang tak kalah mengesalkan. Penulisnya (Mahfud Ikhwan) terus menerus menegaskan bahwa kisah Dawuk hanya bualan semata dari orang yang bercakap besar: Warto Kemplung. Di sini kita bisa menggugat Mahfud Ikhwan: bualan kok ditulis? Dimenangkan oleh sayembara Dewan Kesenian Jakarta Tahun 2017 pula! Ternyata tak hanya pada karyanya, pada penulisnya langsung pun kita mesti mengumpat.

Ini seperti jargon “merokok dapat membunuhmu” yang dihadirkan pada tiap kemasan rokok, dan justru karena itu orang-orang semakin tertantang untuk terus mengkonsumsinya, dengan alasan: jarang-jarang lho ada produk yang jujur seperti itu! Kalaulah Mahfud Ikhwan kuasa, sepertinya ia bakal lebih senang kalau dalam sampul bukunya ada logo haram, dengan begitu hanya orang-orang yang punya nyali tinggi sajalah yang dapat mengkonsumsinya, seperti karya-karya Pramoedya pada masa Orba.

Membaca Dawuk memang dapat mengingatkan saya pada Kuntowijoyo. Tapi Kunto hanya “ngawur” pada cara penuturannya saja, tidak sampai masuk pada bangunan plot. Bangunan plot yang tangkas ada pada Eka Kurniawan. Apa iya pengkawinan antara Kuntowijoyo dan Eka Kurniawan dapat melahirkan Mahfud Ikhwan? Atau lebih spesifiknya, apa perpaduan antara novel Pasar (Kuntowijoyo) dan novel Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan) dapat melahirkan novel Dawuk (Mahfud Ikhwan)? Bisa ya, bisa tidak, bisa juga Mahfud Ikhwan geram karena diidentikkan dengan para pendahulunya. Tapi ini tulisan saya!

Ini memang gak penting, tapi apakah “harus ada” sesuatu yang penting dari novel bualan macam Dawuk?

Saya masih geram kenapa harus membaca kumpulan cerpen yang terbit tiap pekan di koran yang ditulis oleh seseorang yang mendengar bualan Warto Kemplung yang bercerita tentang Dawuk di warung kopi itu. Saya masih geram kenapa Muhamad Daud harus dipanggil Dawuk dan mempunyai wajah buruk seburuk nasibnya yang jadi pembunuh bayaran di negeri seberang Malasyia dan harus dimusuhi sekampung Rumbuk Randu karena menikahi Inayatun yang berparas cantik sekaligus anak seorang Priyayi yang dihormati.

Saya masih geram kenapa Inayatun harus mati ketika mereka sedang bahagia-bahagianya dan malah Dawuk yang dituduh jadi pembunuhnya yang lalu Dawuk diburu bak babi yang akan dimangsa anjing-anjing kelaparan yang tiga hari tidak makan. Saya masih geram kenapa saya harus geram pada sebuah novel yang sudah jelas-jelas dilabeli fiksi dan diberi taukid bualan dari seseorang yang doyang ngutang kopi dan menyambar rokok yang digeletakkan begitu saja oleh pemiliknya dan padahal itu hanya cerita karangan dari seseorang yang mendengar cerita bualan itu dan entah kenapa ia menuliskannya yang lalu diterbitkan tiap pekan di koran. Kenapa?

Jika benar-benar harus ada sesuatu yang dapat dipetik dari sebuah buku, maka saya akan menyerah pada sebuah judul: Kebahagiaan itu Bagai Secangkir Kopi. Tak bisa saya pungkiri, membaca novel Dawuk juga seperti saya sedang meneguk kopi; diteguk pelan, semakin nikmat, dan tau-tau sudah habis.

Tuliskan Komentarmu !