Dari Singelillah sampai Menikah; Teladan untuk Sohibul Hijrah

anisa anandito menikah
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- “Eh tau nggak, Anisa mantan Cherybelle mau nikah, lhoo,” seorang ukhti membuka forum gosip dengan semangat.

“Iya, tau. Sama Anandito, kan?” jawabku datar.

Bagi yang belum tahu, Anandito itu akhi-akhi selebgram yang suka nyanyi lagu cinta-cintaan islami gitu. Eh, gak semua cinta-cintaan, sih. Nah kalau Anisa Chibi Chibi Chibi, udah pada tahu dong ya? Bedanya, dia sekarang berhijab dan bergabung dalam barisan seleb hijrah hits.

“Ya ampun.. akutu terharu banget lho sama pernikahan mereka. Akutu ngikutin banget project bareng mereka, dari bikin lagu, mini drama, terus eh beneran kejadian. Masyaallah…”

Ukhtiku masih eksaited banget menceritakan kisah cinta Anisa-Anandito yang sebenarnya aku pun tahu. Sebagai pengamat selebgram, mana mungkin aku melewatkan kisah mereka yang awalnya kukira gimmick, eh ternyata beneran.

Anisa dan Anandito pertama kali dipersatukan dalam satu proyek mini drama YouTube, judulnya Singlelillah-Taaruf-Khitbah. Tiap episode terdiri dari narasi dan lagu yang dinyanyikan oleh Anisa dan Anandito dari perspektif mereka. Biar lebih greget, masing-masing episode ada edisi extended-nya (yah macam serial mengakhiri cinta dalam 3 episode yang nggak beneran 3 itu).

Project yang semacam tutorial menjemput jodoh syar’i itu memang cukup hits di kalangan sohibul hijrah. Yang (awalnya) nggak banyak orang tahu, ternyata Annisa dan Anandito beneran menjalani proses itu di dunia nyata mereka: taaruf, khitbah, dan menikah. Demi meyakinkan diri kalau gosip yang beredar bukanlah gimmick dalam rangka promo project mereka semata, aku pun mencari informasi Ring 1 di CIA cabang Indonesia alias Lambe Turah. Ternyata benar, mereka menikah pada tanggal 16 September kemarin.

Biasanya kalau akhi-ukhti (termasuk sohibku tadi) pada berisik soal nikahan selebgram hijrah, bawaanku pasti nyinyir selalu. Kebelet nikah lah, fangirling syari’ah lah, dll dsb. Tapi entah kenapa terhadap pasangan ini akutu nggak bisa nyinyir.

Aku nggak melihat ada yang salah dengan proses mereka. Maksudnya salah ketika judulnya ta’aruf tapi kayak pacaran, atau nggak pacaran tapi baperan. Tentu saja ini benar-salah menurut kacamataku sebagai netijen. Ngomong begitu pun belum tentu aku paling benar. Nah sebagai netijen yang budiman, aku nggak merasa Anisa dan Anandito ini menjual kebaperan semata. Kalau menjual seminar pra-nikah, jelas iya, sebab itulah goal project mereka. Tapi akademi “singlelillah” yang mereka jual di mataku ya cuma kayak biro jodoh pada umumnya.

Namanya biro jodoh, kamu ke sana ketika emang sudah siap mencari jodoh. Tujuannya jelas, pengen membangun rumah tangga, nggak cuma “mengenal lawan jenis” ala modus pacaran anak SMP. Prioritas pencarian jodoh pun biasanya dilihat dari kesiapan peserta (usia/pekerjaan, misalnya). Yah soal standar kesiapan ini bisa diperdebatkan tapi kapan-kapan saja. Aku sedang ingin melihat ta’aruf para sohibul hijrah dari sisi yang lebih manusiawi.

Sebagai perempuan yang terbiasa sendiri selama lebih dari seperempat abad, belum nemu partner ibadah seumur hidup mungkin nggak terlalu masalah buatku. I am independent gitu loch. Tapi lain soal dengan sohibul hijrah yang sudah terbiasa pacaran sejak SD. Menurut pengakuan seorang teman, kalau udah biasa pacaran gitu, hati “lowong” sebentar aja rasanya sesak banget. Makanya kiat move on mereka adalah dengan cari pengganti, alias putus dengan A, jadian dengan B (kalau peluang balikan dengan A nol persen). Pokoknya nggak bisa kalo nggak pacaran.

Ya gimana ya, mereka udah terlanjur merasakan nikmatnya dicintai, disayangi, diperhatikan, dirindui, ditraktir (hmm) oleh seseorang. Hal-hal yang menurutku nggak banget dan lebay (karena belum pernah menjalani) itu bisa jadi berarti sekali buat mereka. Kan pacaran nggak mesti soal berbuat maksiat. Ada yang buat penyemangat, partner diskusi, partner bisnis, dan apapun modus lainnya. Bisa kubayangkan betapa perjuangan para sohibul hijrah yang dulunya hidup dengan privilege ini lalu memilih mengakhiri dan tidak lagi membuka hati kecuali pada yang halal. Berat, Mblo!

Makanya ketika mereka bisa menjaga diri dalam penantian, fokus dalam mengejar impian, hingga akhirnya menemukan pasangan dengan jalan yang Insyaallah baik, rasanya perlu banget diapresiasi. Kayak Mbak Anisa Chibi. Kalau Anandito sih, dia emang agak baperan yah menurutku (gatau juga apa dia emang self-branding begitu menyesuaikan audiens-nya). Tapi lho, Anisa Chibi!

FYI, Anisa ini setelah hijrah pun tetap jadi diri sendiri. Ya dia nggak mengekslusifkan diri alias tetap bergaul sama temen-temen Cherrybelle lain, meskipun sekedar buat kolaborasi vlog. Dia juga lolos dari sindrom ngerasa lebih baik, penyakit pejuang hijrah kebanyakan (iya, termasuk akuh). Soal hati pun dia nggak banyak ngumbar, medsosnya fokus buat endorse. Jadi ketika pada akhirnya cerita mereka diperjalankan Allah seperti itu, aku pun ikut bahagia.

Baarakallahu lakuma wa baraka alaykuma wa jama’a baynakuma fii khair ya, Anisa dan Anandito…

***

“Sekarang kamu melunak ya Es, sama ukhti-akhi?”

Melunak gimana nih?

“Ya nggak nyinyir lagi.”

Lho, lho, lho. Kan kita mesti adil sejak dalam pikiran. Kalau salah ya dinasihati. Kalau benar ya diapresiasi. Lagipula mereka nggak kampanye nikah muda yang membuat ABG belum siap umur pada kebelet nikah padahal belum siap. Mereka juga nikahnya nggak pake tagline “daripada zina” seolah pernikahan cuma soal syahwat. Mereka berdua menikah karena Insyaallah sudah siap lahir batin. Gitu.

Jadi, kenapa mesti nyinyir?

Kalau setiap melihat orang bahagia hatiku harus banget menjadi sempit, hmm… gimana nanti aku bisa merasakan kebahagiaan itu sendiri?

Meski begitu, dear ukhti wa akhi tercinta, plis nggak usah mainan hestek patah hati kayak pas Muzammil nikah dulu. Malu lah sama jenggot dan jilbab lebar.

Baca Juga: Pemuda Pengikat Cinta (Bagian 1)

Tuliskan Komentarmu !