CURHATAN AKHIR NGAMPUS #9

Buat Film Dokumenter

Di sela-sela hari menunggu wisuda, kami, anak-anak Savana ditantang untuk membuat film dokumenter oleh Pak Rosihan Fahmi, yang selanjutnya akan dilombakan di salah satu perguruan tinggi yang ada di Jogja. Bekal kami hanyalah keberanian dan rasa ingin belajar.

Seketika, kami pun seakan bergelut dengan dunia perfilman. Aku belajar membikin naskah. Yang lain ada yang belajar jadi Sutradara, kameramen, artis, asisten sutradara dan yang lainnya yang lazim ada dalam pembuatan perfilman.

Ide ceritanya ada dua, yaitu cecep (cewek-cewek pabrik) dan KAA (konferensi asia-afrika). Setelah melewati berbagai sesi diskusi, diperhitungkan juga kesulitan-kesulitan yang bakal terjadi di lapangan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat ide cerita KAA.

Aku segera menulis naskah, dan itu yang pertama kalinya. Aku melewati berbagai kesulitan, tapi atas kepercayaan kawan-kawan Savana, aku rampungkan juga naskah itu. Memang agak belepotan, karena aku mengerjakannya pun penuh dengan keterbatasan. Tak jauh beda dengan isi buku ini.

Inti cerita dalam film dokumenter itu adalah ingin menumbangkan statement pak Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang mengatakan bahwa peringatan KAA tahun 2015 “sukses”.

Yang pertama ditelisik yaitu mengenai sejarah. Semangat KAA adalah duduk bersama demi satu tujuan, yaitu kesetaraan bangsa-bangsa. KAA juga menjadi cika-bakal adanya non-blok, yaitu dengan melenyapkan diskriminasi pada bangsa-bangsa berkulit hitam. Semangatnya adalah kesatuan, kesetaraan dan persaudaraan.

Namun yang tercermin dari peringatan KAA yang dielu-elukan oleh Pak Ridwan Kamil itu adalah “berawal dari sejarah yang kini disulap menjadi tempat wisata”. Kami pun mewawancarai tukang parkir, pak polisi, pedagang ilegal dan pengunjung. Ucapan mereka adalah pijakan bagi kami, bahwa efek yang mereka rasakan dari peringatan KAA tak lain dari kota Bandung yang disulap bak permadani indah. Mereka datang dan memadati kota Bandung tak lain untuk berfose di depan kamera.

Di akhir film tersebut, kami membuat statement, “KAA sejatinya melahirkan diversity (keberagaman) yang tak sekedar selfi”.

Setelah film dokumenter itu selesai melewati proses editing, aku meresapi kembali uncapan Andrea Hirata dalam novel Cinta Dalam Gelas, bahwa belajar adalah melawan ketidak-mungkinan.

Menjelang Wisuda

Sepatutnya aku sama dengan teman-teman sekelasku: menyiapkan untuk menyonsong hari besar dalam hidupnya, mungkin juga dijadikan sejarah kebanggaan, yaitu wisuda. Namun aku masih biasa saja, terlebih saat aku menyadari bahwa wisuda adalah mimpi buruk bagiku.

Aku mengingat ucapan teman, bahwa wisuda bukan cepat, tapi tepat. Aku rasai bahwa wisudaku tidaklah tepat. Aku masih manja, belum berpikir dewasa. Aku hanya berpikir, bahwa wisudaku hayalah takdir.

Tak ada banyak cerita tentang ini, karena aku mulai disibukan untuk menulis sebuah apologi mahasiswa tak teladan. Maksudku, hanya ingin membuat sebuah perbandingan, karena kita pun butuh contoh yang tidak baik, supaya yang baik, lebih dikagumi dan dihormati. Dan beginilah contoh yang tidak baik itu.

Tuliskan Komentarmu !