CURHATAN AKHIR NGAMPUS #8

Belajar Bikin Koran

Saat ngampus, aku sering berkumpul dengan orang-orang yang senasib denganku, yaitu pengangguran. Maksud pengangguran, karena aku dan mereka masih punya banyak waktu untuk berkumpul di kampus setelah jam mata kuliah selesai. Tak seperti kebanyakannya, yang sibuk dengan ini-itu, hingga nyaris tak punya waktu untuk bersantai, nongkrong, dan kongkow.

Saat sudah berkumpul, beragam yang suka kami lakukan. Dari mulai membicarakan pujaan hati yang enggan bersimpati, hingga membicarakan ketidak nyamanan kami dengan sebuah kisah yang entah apa maknanya. Kami pun mulai membaca teks seketemunya, dan mulai juga memperbincangkannya.

Berangsur cukup lama, hingga kebosanan pun mulai merajai kami. Hangga akhirnya datang sosok Hasan, bukan Hasannya yang kami banggakan, tapi isi kepalanya yang ingin menggagas sebuah koran. Koran itu akhirnya bertemakan Savana Post.

Memang kami bukanlah manusia hero yang mampu mencipta sesuatu dengan mudah. Kami hanyalah manusia biasa yang paling tidak, punya keinginan. Dari keinginan itulah akhirnya kami ditempa untuk terus belajar, walau seringkali kami harus menggadaikan waktu kuliah.

Pilihan hidup seseorang memang tak sama, maka jangan salahkan kami jika kami memilih jalan yang berbeda.

Saat menuntaskan edisi pertama, kami mengalami begitu banyak jalan cerita. Pengalaman memang guru terbaik dalam hidup, dan kami adalah manusia-manusia yang tak punya pengalaman dalam bidang ini. Namun, bagi kami ini adalah sejarah, sejarah bagaimana kalutnya membuat koran pada masa edisi yang pertama.

 Dalam hal apapun, sejatinya manusia punya guru, walau kadang kita menafikan perannya sebagai guru atau guru itu yang tak mau disebut sebagai guru. Dalam pembuatan koran Savana Post, kami dibimbing oleh Pak Rosihan Fahmi. Dia adalah pengamat, teman sejawat, namun kadang juga suka bertindak sebagai “ibu tiri” yang kerjaannya ngomel-ngomel. Jujur saja, omelannya lah yang melekat pada diri kami masing-masing, dan aku sangat rindu itu. Kalaulah aku bisa, akan kupajang omelannya itu di dinding kamarku, supaya di setiap bangun pagi, aku bisa mendengarnya.

Ada satu omelan yang kini masih benar-benar melekat pada diriku, “Kamu adalah manusia yang bernilai. Seburuk apapun tingkahmu, sejelek apapun perangaimu, tetap, kamu adalah manusia yang bernilai.” Maka wajar, jika kemudian aku menulis sebuah buku tentang apologi seperti ini. Akhirnya aku menganggap, “Aku ‘bernilai’ dihadapan orang-orang yang bernilai. Ya, karena bagiku, orang bernilai itu adalah orang yang tak pernah menganggap orang lain rendah.

Nyusun Skripsi

Skripsi kadang menjadi mimpi buruk bagi kebanyakan mahasiswa, begitu pun bagiku.

Skripsi bukan soal membaca buku, melakukan penelitian, berdiskusi dan menulis. Skripsi adalah mengemis-ngemis bertemu dengan pembimbing, setelah bertemu, membiarkan ia mencorat-coret sekehendak hatinya, dan yang amat penting, mendapat  tanda tangan dari pembimbing, bagaimana pun caranya.

Jujur saja, aku adalah salah satu mahasiswa yang terlalu menikmati dunia kampus. Bukan karena suka belajar di kelasnya, tapi karena nongkrong, ngeceng dan bertutur so bijak saat disuruh nulis untuk koran Savana.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir kadang amat dielukan. Paling tidak, dianggap paling banyak makan garam dunia perkampusan. Maka aku pun dianggap paling tahu, paling bijak, dan paling-paling lainnya yang bagiku amat menjijikan. Tapi paling tidak, seharusnya banyak perempuan yang mulai terkesan padaku.

Seminar proposal aku lalui dengan penuh percaya diri, karena memang tak ada revisi yang begitu berarti. Tak berselang lama, surat keputusan (SK) penelitian pun turun, dengan judul “Perbandingan Pemikiran Paulo Freire dengan Ivan Illich tentang Pendidikan Kritis”. Kadang membanggakan memang, karena judul itu begitu berbeda dengan temanku yang lainnya.

Namun, semangat mengerjakan skripsi mengendor setelah tahu pengetahuan pembimbingnya amat mengerikan soal metodologi, terlebih, ia jarang ke kampus karena memang bukan dosen tetap.

Setelah proposal, pembahasan skripsi hanya baru berupa diskusi-diskusi kecil, belum aku tulis, karena malas dan alasan tak rasional lainnya.

Semester 8, aku habiskan waktu untuk jalan-jalan, naik gunung, menulis koran, dan sesekali juga membaca novel. Itu semua aku lakukan karena aku tak bermaksud untuk buru-buru lulus. Sudah kukatakan, bahwa aku masih betah untuk kuliah, walau bukan untuk belajar di dalam kelasnya.

Saat sedang asyik-asyiknya menikmati dunia tanpa beban namun penuh resiko itu, aku ditelepon ketua Prodi, bahwa masih banyak nilaiku yang masih kosong, dan aku harus mengikuti semester pendek (SP).

Dengan begitu, aku tak bisa mengikuti sidang Komprehensif gelombang pertama, dan harus mulai was-was karena cita-citaku sepertinya akan terwujud.

Aku tak begitu menghiraukan wejangan ketua Prodi itu, tapi malah baru mengerjakan skripsi. Teman-temanku rata-rata sudah beres bab 3, dan sudah mengikuti beberapakali bimbingan. Aku belum pernah sekali pun bimbingan.

Sebulan kemudian, aku menghadap pembimbing, dan langsung menyetorkan sampai bab 3.

Awalnya aku mengira, paling akan ada revisi yang tak begitu berarti, namun aku salah, aku harus mengulang lagi dari awal.

Katanya, skripsiku tak mencitrakan islam, sedang aku berada di jurusan Pendidikan Agama Islam. Aku terima kata pembimbing itu. Yang tak kuterima, kenapa tidak sejak seminar proposal judul itu dipermasalahkan? Kenapa judul itu dipermasalahkan setelah aku mendapatkan SK? Jadi yang bego itu siapa sih? Memang bukan saatnya untuk mempermasalahkan masa lalu.

Aku mengajukan pada pembimbing, bagaimana kalau Ivan Illic diganti oleh Ahmad Tafsir (karena Ahmad Tafsir merupakan pemikir pendidikan keislaman), dan judul barunya adalah “Perbandingan Pamikiran Ahmad Tafsir dengan Paulo Freire mengenai Filsafat dan Ilmu Pendidikan”. Pembimbing menyetujui.

Aku sudah benar-benar diambang ketidak-lulusan. Kadang untuk sebuah cita-cita, yang diperlukan hanyalah tidur, nongkrong, jalan-jalan dan tak menghiraukan segala tugas.

Aku kembali dipanggil oleh ketua Prodi, dan disuruh menghadap. Seharusnya aku berdebar-debar, dan menyiapkan segala lelucon agar ia tak begitu geram. Namun aku ditakdirkan untuk biasa-biasa saja.

Setibanya di kantor Prodi PAI, Bu Ela  (ketua Prodinya) malah menyanjungku. Katanya, “Masa yang suka nulis gak bisa lulus tahun ini? Aktivis baiknya lulus tepat waktu.” Mungkin ia suka baca tulisan so bijakku di koran Savana, hingga bisa-bisanya dia berkata seperti itu.

Bu Ela memberiku kesempatan untuk yang ketiga kalinya. Baik sekali memang dia, namun itu artinya, cita-citaku untuk tak lulus tahun ini bisa buyar. Kadangkali, orang baik itu suka jadi penghalang.

Tak lama dari itu, aku mengambil SP. Bukan murni hasil keputusanku sendiri, tapi penuh intervensi orang tua. Aku pun mulai membeli dan membaca buku-buku Ahmad Tafsir. Sebuah keterlambatan yang penuh dengan arti. Setidaknya bagi diriku sendiri.

Aku ngebut mengerjakan skripsi. Aku sadar, sesuatu yang dikerjakan terburu-buru, tak akan menghasilkan hal yang maksimal. Namun kemaksimalan, tak bisa menghilangkan kualitas bila punya sebuah dasar. Maka aku pun tak ada hak untuk merendahkan diri di hadapan yang lainnya. Sewajarnya saja.

Pengerjaan skripsi aku lakukan di kampung halamanku, Talegong, Garut. Aku keluar rumah jika akal seakan sudah tak berfungsi lagi. Itupun hanya ke rumah kakak saja, bermain dengan dede bayi yang lahir dua bulan lalu. Memang, bermain dengan bayi, bisa memulihkan saraf-saraf otak yang sudah kejang.

Dua minggu kemudian, aku kembali ke kampus. Untuk bimbingan sekaligus melangsungkan SP. Perjalanan akhir kuliah yang cukup dramatis.

Dua minggu kemudiannya lagi, aku sidang Komprehenshif, hanya seorang diri. Esoknya aku sidang Munaqasah, ditemani seorang mahasiswa lain. Menegangkan.

Dengan begitu, aku dinyatakan lulus beberapa hari sebelum acara wisuda digelar. Cita-citaku punah seketika. Hatiku hancur tak karuan. Ah, aku bakal jadi sarjana. Apa yang mesti aku lalukan sesudah jadi sarjana? Mungkin aku hanya akan menambah panjang daftar sarjana pengangguran.

Tuliskan Komentarmu !