CURHATAN AKHIR NGAMPUS #7

Cerita di KKN

Mahasiswa mempunyai tridarma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Mungkin atas dasar itulah, Kuliah Kerja Nyata (KKN) tercipta.

Menjelang semester 7, aku pun mengikuti KKN yang diselenggarakan oleh kampusku, STAIPI Bandung. Aku ditempatkan di desa Wanasuka, Pangalengan, bersama 16 teman.

Kami tinggal di dua rumah, -satu untuk laki-laki, satu lagi untuk perempuan-, yang tak begitu berjauhan. Belakang rumah yang kami diami, terhampar perkebunan teh. Bahkan pinggir kanan rumah yang didiami perempuan, ada sebuah lapang besar yang selalu dijadikan tempat bersantai saat senja sudah mulai tiba.

Penduduk desa Wanasuka, pada umumnya adalah buruh pemetik teh. Pergi pagi pulang petang. Kalau sedang tidak bekerja, biasanya mereka nangkring saja di depan rumah, sesekali juga berkerumun untuk kongkow.

Hal yang memilukannya, mereka tak punya tanah sejengkal pun. Rumah yang mereka diami, tempat ibadah, madrasah, sekolah, wc umum, kantor desa, dan segalanya yang ada, berdiri diatas tanah milik perkebunan, dalam hal ini milik BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Sekali waktu, bisa saja mereka terusir tanpa bisa memungut apapun, sebagaimana yang sudah dicontohkan di tempat lain.

Namun sepertinya tak ada yang mesti mereka sesali. Dapat hidup pun, sudah menjadi satu anugerah yang luar biasa. Tak perlulah menyeruakkan “Gelandangan di Kampung Sendiri” seperti kata Cak Nun. Napas, adalah hal yang tak terbeli, selama bisa bernapas, maka selama itu ucapan syukur tak boleh berhenti. Begitulah dalam doktrin agama.

Karena ini bukan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) KKN, maka aku tak mesti nyebutkan luas wilayah desa Wanasuka, ada berapa kedusunan, berapakan pegawai tetap dan berapakah pekerja harian lepas, siapa saja aparatus pemerintahannya, atau pernak-pernik lainnya.

Aku hanya ingin mengungkap hal yang tak lazim terjadi dari kelompok kami dengan kelompok lainnya. Jika kelompok lain tempat tinggalnya “menyatu” dengan masyarakat, setiap harinya disibukkan untuk mengajar ana-anak, tak bisa nyanyi-nyanyi tengah malam, banyak program unggulan, dan selalu tampil seramah mungkin di depan warga, maka di kelompok kami, bertentangan dengan itu.

Tampat tinggal kami terpisah dari masyarakat. Hanya ada dua keluarga yang dekat dengan kami, dengan cacatan, tak pernah melarang apa yang kami lakukan setiap malamnya. Meraka malah mendukung, dengan ikut nimbrung dan ikut nyanyi-nyanyi juga. Kadang juga mereka meyediakan kopi beserta cemilannya. Tetangga yang baik hati.

Isak tangis pun pecah saat hendak berpisah. Mereka merengek karena katanya akan menyepi kembali. Kami adalah kebisingan. Kami adalah riuh rendah. Namun pada saat tertentu, kami adalah hal yang paling dirindukan karena bising dan riuh rendahnya.

Kelompok kami tak disibukkan dengan mengajar anak-anak. Hampir setiap sorenya diisi dengan menikmati alunan senja sambil berbagi cerita. Baradu tawa dan melempar luka. Mengais cerita epik nan heroik. Kami adalah apa yang kami inginkan.

Memang tak ada program unggulan yang dapat kami banggakan, karena bagaimana pun, masyarakatlah yang menilai bermangfaat atau tidaknya keberadaan kami selama sebulan di sini. Bukan kami yang tentukan sendiri.

Namun, bisa berendam di pemandian air panas Cibolang secara cuma-cuma adalah cermin bagi kami, bahwa kami tak segagal yang kami kira. Selalu menyimpan cerita unik ketika kita bersikap apa adanya pada masyarakat, tanpa editan ataupun settingan. Kadang manusia merasa sempurna jika “wajahnya” sudah dipoles berbagai pernak-pernik, padahal kalaulah melihat cermin, ia akan menyadari betapa “menornya” tingkahnya itu.

Aku selalu bersyukur, melewati tugas ini bersama orang-orang yang menyenangkan. Mereka adalah pelawak, ustaz, guru, rekan, ibu, dan sederat kata lainnya. Aku selalu bersyukur, akan ada cerita yang tak habis dimakan usia.

Tuliskan Komentarmu !