CURHATAN AKHIR NGAMPUS #6

Gedung dan Warung Kopi

Aku masih saja suka kebingungan, di mana sebenarnya tempat aku kuliah? Sebagian ada yang menjawab di kelas, ruangan terbatas namun nalar tak terbatas. Sebagian lagi ada yang mengatakan, belajar yang asyik itu di universitas kehidupan.

Jika aku tak menampik, maka keduanya memang memberi arti sendiri-sendiri. Katanya, jawaban seperti itu merupakan jalan tengah, dan selalu digolongkan paling bijak. Namun, kata-kata bijak sudah tersebar dimana-mana, dan aku sudah mulai sedikit bosan dengan cara itu.

Bagiku, kita bisa dikatakan belajar jika kita disuguhkan atau menemukan sesuatu yang baru. Jika saat di ruangan kelas, tak disuguhkan oleh hal yang “menggairahkan”, maka aku lebih suka keluar kelas.

Tentu ini tak selamanya terjadi, karena aku pun butuh nilai untuk diberikan kepada orang tua. Adakalanya aku memaksakan diri hadir, hanya untuk sebuah angka. Keterpaksaan ini untuk sebagian kelas yang terasa hambar.

Begitulah riwayatku kuliah. Sering bolos, sering gak ngerjain tugas, sering baru bangun langsung masuk, sering bikin dosen ngomel, tapi kadang-kadang juga tidur di kelas.

Walau aku terbilang sering bolos, tapi aku juga sangat jarang berdiam diri di rumah. Itu karena kalau aku berdiam diri di rumah, maka orang tuaku akan tau kalau aku sedang bolos. Untuk menghindari itu, maka aku sering ikut demo, diskusi, baksos, dan yang paling sering, nongkrong di warung kopi. Belajar di dalam ruangan aku ubah jadi belajar di ruangan terbuka.

Ada orang yang sesumbar, katanya UKM Mahapalalah yang menyebabkan aku begitu. Padahal tak ada kegiatan Mahapala yang mengganggu kuliah, kecuali yang kuliahnya di hari jumat dan sabtu. Yang banyak kegiatan di hari kuliah itu adalah anak-anak Hima Persis. Tentu menjadi tak logis, jika ada yang mengatakan bahwa kegiatan Mahapala menghambat prestasi mahasiswa. Prestasi ditentukan oleh mahasiswa dan dosennya. Tentu, aku pun mengharap tak terlalu banyak contoh-contoh yang tidak baik. Kalau bisa, hanya aku.

Berkat kelakuanku itu juga, katanya yang menyebabkan banyak nilai kosong di transkip nilai saat akhir kuliah. Sebuah pembelaan, nilai kosong itu bukan seutuhnya karena aku sering bolos dan tidak mengerjakan tugas, tapi nasib saja yang berkata lain. Aku katakan, bahwa tak hanya aku yang rajin membolos itu, tapi teman sepembolosanku santai-santai saja, karena nasib baik sedang memihak pada mereka. Ini soal sanggup bayar UAS tepat waktu atau tidak. Kalau bayarnya telat, ya ikutannya UAS nya juga bakal telat. Kalau belum bisa bayar UAS, ya harus rela gak bisa ikutan UAS dan itu artinya nilainya jadi kosong.

Selanjutnya aku ingin menyuguhkan sebuah filosofi dangkal perihal gedung dan warung kopi. Aku tak tau, apa sebelumnya sudah ada yang menulis tentang ini atau tidak.

Gedung, sebagaimana yang aku lihat dan rasakan saat berada di dalamnya, selalu memberi batas dengan kokohnya dinding-dinding. Manusia dibuat senyaman mungkin. Terhindar dari terik matahari dan berbagai polusi. Pengemis dan pengamen pun tak ada yang berani masuk. Gudung, bermakna “kemewahan”.

Sedangkan warung kopi, begitu bersahaja kepada siapa saja yang datang. Terik matahari dan berbagai polusi, kapan saja boleh datang. Tak ada yang berani menendang pengemis dan pengamen jika datang. Warung kopi, bermakna “kesederhanaan”.

Setiap orang boleh menyimpulkan apa saja. Yang hendak kumaksud adalah, setiap orang cenderung sudah siap “berlagak” mewah, ketimbang berlagak sederhana. Aku belajar berlagak sederhana, agar sudah siap, jika kelak tak ada kemewahan yang bisa aku tampilkan.

Bagiku, belajar jadi orang susah itu lebih sulit ketimbang belajar jadi orang kaya. Maka aku lebih suka belajar di warung kopi ketimbang di gedung.

Memang logika yang tak sederhana, gak konsisten pula, karena ini merupakan bagian dari apologi.

Tuliskan Komentarmu !