CURHATAN AKHIR NGAMPUS #5

“Hidup adalah bagaimana hari ini bisa belajar, tertawa dan berkarya. Menyambung jejak-jejak yang sudah diperbuat hari kemarin.”

Jalan-Jalan ke Wonosobo

Selepas bulan Ramadhan, tepatnya 26 agustus 2013 dalam kalender masehinya, anak-anak Mahapala Jirim mengagendakan akan naik gunung Sindoro-Sumbing di Wonosobo, Jawa Tengah.

2 bulan sebelum itu, aku sudah kocar-kacir mencari dana, karena aku begitu inginnya ke sana. Terlebih, itu untuk pertama kalinya aku akan mendaki gunung yang letak geografisnya di luar Jawa Barat. Bermodalkan motor yang dibelikan Ibu, selama 2 bulan itu aku ngojek, entah orang maupun barang. Kalau sedang bernasib baik, penumpangnya kadang kali perempuan cantik.

Aku siap bekerja hanya karena ingin jalan-jalan ke luar Jawa Barat, bukan untuk beli buku (karena bisa pinjam), bukan untuk bayar kuliah (karena orang tuaku masih sanggup), bukan pula untuk diberikan kepada yang membutuhkan (karena aku pun merasa butuh). Maka boleh saja aku mendapat stigma sebagai contoh yang tidak baik. Jalan cerita satu orang dengan orang lainya tak mesti sama. Kita pun butuh contoh yang tidak baik, agar yang baik, lebih dikagumi dan dihormati.

Pada tanggal 23 agustusnya kami berkumpul, untuk persiapan barang sekaligus memastikan siapa saja yang akan ikut.

Memilukan. Dalam perkumpulan itu, hanya tiga orang saja yang siap, yaitu aku, Iqbal dan Wita, dan ketiganya merupakan anggota baru. Tentu, kami sempat putus asa.

Berkat wejangan para pendahulu dan sesepuh, akhirnya kami bertiga pun siap untuk berangkat. Hari itu, kami langsung membeli tiket kereta api dengan tujuan Kutoarjo, Jawa Tengah.

Dari stasiun Kiaracondong, kami berangkat sekitar jam 20:00, dan diperkirakan esok paginya kami akan sampai ke Kutoarjo. Ini pertama kalinya aku naik kereta api semenjak dewasa. Dulu sewaktu aku masih kecil, katanya aku sempat naik kereta api dari Cicalengka menuju Kiaracondong, tapi aku sudah benar-benar lupa.

Waktu itu, sudah beredar film 5 cm. Sewaktu aku memasuki gerbong kereta dengan ransel besar di punggung, aku berasa mengalami apa yang ditayangkan dalam film itu. Tentu bagi para pendaki, akan menstigma banyak hal yang luput dalam film itu. Naik gunung tak seheroik itu

Kami tiba di Kutoarjo saat hari masih gelap, yaitu sekitar jam 04.00. Aku tau bahwa Kutoarjo masih termasuk negara Indonesia, namun aku merasa seperti berada di negara asing, ketika aku banyak mendengar bahasa yang tak aku mengerti: bahasa Jawa.

Sangat memalukan memang. Aku baru keluar dari lingkungan Jawa Barat. Mungkin, untuk orang sepertiku, dunia ini terlalu besar. Setiap celahnya, selalu ada ruang yang tak terlihat. Setiap sudutnya, selalu ada misteri yang tak teraba.

Ketika jam 06.00, kami naik bis menuju Wonosobo. Sepanjang perjalanan, aku dapat melihat berbagai rupa wajah dan tingkah. Hiruk-pikuknya pun tak mungkin bisa aku gambarkan secara mendetail. Maafkan, karena bagiku masih terasa asing.

Sekitar jam 08.00 kami tiba di Wonosobo, namun harus naik bis satu kali lagi untuk sampai di kaki gunung Sumbing dan Sindoro.

Ketika kami sedang duduk santai di dalam bis, kami disuguhkan sebuah pemandangan yang tak lazim. Jalur bis berada di tengah-tengah antar gunung Sumbing dan Sindoro. Saat dilintasi dari arah Purwekerto, sebelah kiriku adalah gunung Sindoro, sedang sebelah kananku adalah gunung Sumbing. Keduanya berdiri begitu gagah. Sungguh eksotis, walau dilihat dari kaki gunungnya saja.

Untuk sampai basecamp gunung Sumbing, kami harus berjalan terlebih dulu sekitar 3 km. Saat dalam perjalanan, sepintas aku seperti berada di daerah Garut. Tembakau yang sudah di potong-potong, dijajarkan di bahu jalan maupun lapang. Menanam tembakau menjadi pilihan utama petani di lereng gunung Sumbing, sering aku jumpai juga di daerah Leles, Garut.

Hari itu kami tak langsung mendaki, tapi istirahat terlebih dahulu di basecamp, sebagaimana yang dititahkan oleh Pak Roni, sesepuh Mahapala.

Sewaktu senggang, kami berputar-putar daerah basecamp. Aku menebak, bahwa warga lereng gunung Sumbing, orang-orangnya sangat telaten. Aku memerhatikan, jalan yang kami lalui, terdiri dari susunan batu-batu yang membentuk satu ukiran seni, dan sangat mustahil jika itu suatu kebetulan.

Saat sore hari, aku berniat membeli rokok untuk persediaan besok. Namun penjualnya seperti orang bego, ia hanya melongo saja. Aku sempat kesal, kenapa orang bego sepeti dia, disuruh jaga warung. Kepalaku ditepuk oleh Iqbal, “jangan pakai bahasa sunda, penjaganya gak akan ngerti”. Maafkan atas kekhilafan hamba-Mu ini, Tuhan.

Esok paginya kami mulai mendaki, bermodalkan peta yang sudah disediakan penjaga basecamp, dan yang paling penting, insting untuk menbaca guratan kertas dengan ‘lapangan’.

Hari itu yang mendaki hanya kami saja, bertiga. Sebenarnya kemarin sorenya ada yang naik juga, dan ngecamp di pos 2. Jadi hanya ada dua kelompok saja yang sedang ada di gunung Sumbing waktu itu.

Jam 16.00, kami sampai di pos 4, dan memilih untuk bermalam di sana, sesuai intruksi juga. Selalu ada sesuatu yang bisa dibanggakan setelah berjuang, walau pun yang diperjuangkannya bukanlah butiran mutiara yang bisa dipamerkan. Di sana, saat aku termangu menatap senja, sambil menikmati belaian rasa dingin, aku lupa apa itu kapitalis, sosialis, humanis, anarkis, islamis, dan lain sebagainya. Aku seakan amnesia terhadap segalanya, kecuali dalam tiga hal, yaitu “aku”, alam, dan sosok yang tak “terkatakan”.

Esok paginya kami mendaki kembali, namun tanpa ransel dan keruwetan hidup. Kami hanya membawa termos kecil, makanan ringan, kopi, dan gairah hidup.

Sekitar jam 08.00, kami sampai puncak gunung Sumbing, dengan ketinggian 3371 mdpl. Tentu, puncak gunung Sumbing bukanlah tujuan kami, tapi hanya sebagai salah satu jejak, di antara ribuan jejak lainnya. Jejak hanyalah satu langkah untuk sampai kepada tujuan hidup, dan kami tak berniat sama sekali untuk berhenti di sana.

Memang, ini seperti mencari kesenangan dengan menghambur-hamburkan uang. Tapi, apalah harganya uang kalau hanya terpajang di bank? Apalah harganya hidup, kalau hanya sekedar diam, bergumam, dan sesekali menelan ludah sendiri?

Petualanganku bersama anak-anak Mahapala, selalu mempunyai definisi tersendiri. Arti hidup tentang seorang petani, nelayan, pegembala, pemungut batu, pengais pasir, dan pencari rezeki lainnya, dan mereka mampu memberi perspektif lain mengenai kehidupan.

Atau ketika dalam perjalanan kehabisan bekal. Kata gembel pun bukan lagi menjadi kata yang harus dicaci maki, karena memang sangat jarang manusia mencaci maki dirinya sendiri. Ada sisi unik dari contoh-contoh yang tidak baik, dan tak selamanya yang tidak baik itu, tak memberikan apa-apa.

Hidup memang tak semudah apa yang diumbar dalam kata-kata. Tapi hidup juga tak sejelimet apa yang dirumuskan dalam matematika dan fisika. Hidup adalah bagaimana hari ini bisa belajar, tertawa dan berkarya. Menyambung jejak-jejak yang sudah diperbuat hari kemarin.

Tuliskan Komentarmu !