CURHATAN AKHIR NGAMPUS #4

Kembali Ngampung

Di kampus yang mempunyai julukan “kampus perjuangan” itu, ada kumpulan yang dinamai Mahapala Jirim (mahasiswa pecinta alam jiwa rimba). Kalau di UIN mungkin namanya UKM (unit kegiatan mahasiswa), namun di kampus baruku itu, perkumpulan-perkumpulan semacam itu tak jelas legalitasnya.

Bagiku, amat membosankan bila sehabis kuliah, langsung pulang ke rumah, karena memang kalau di rumah, gak punya mainan apa-apa. Maka aku menceburkan diri dalam komunitas Mahapala Jirim.

Sebelum bisa jadi anggota, aku harus mengikuti beberapa tahap. Pertama, mengikuti Diklatsar (pendidikan dan latihan dasar) di dalam ruangan. Kedua, pengenalan medan di alam bebas. Dan ketiga adalah pengembaraan.

Yang amat membekas dari tiga tahap itu adalah saat pengembaraan. Waktu itu, aku harus berjalan kaki sejauh 80 km, dalam jangka waktu lima hari. Yaitu dari daerah Cisompet hingga Cikajang, Garut. Melelahkan memang.

Aku berangkat dengan lima orang teman. Wita, Lutfah, Nadfi, Yamin dan Budi. Berjalan bermodalkan peta usang dan keberanian untuk bertanya pada warga. Selama dalam perjalanan, kami selalu dipantau oleh para sesepuh Mahapala Jirim, karena di Mahapala, keanggotaan tak dibatas oleh umur maupun status.

Dari Bandung, kami naik mobil angkutan umum menuju Cisompet, Garut. Lalu menginap di kampung Depok. Esok paginya, kami memulai pengembaraan.

Hari pertama, tujuan kami adalah kampung Cibentang, masih di kecamatan Cisompet. Kami mulai berjalan sekitar jam 07.00 dari alun-alun Cisompet.

Di tengah perjalanan kami sempat nyasar, jauhnya sekitar 200 meter. Kalau bolak-balik berarti 400 meter. Lumayan, bisa bikin kaki gempor, karena ditambah berat ransel yang selalu bertengker di atas punggung kami.

Kami tiba di kampung Cibentang sekitar jam 13.00. Konon katanya kami sudah berjalan sejauh 6 km, plus 400 meter dengan yang nyasar.

Di kampung Cibentang, kami disambut hangat oleh Pak Umuh. Malahan tenda yang kami bawa pun, masih terpajang di ransel, karena Pak Umuh sudah menyiapkan kamar untuk kami menginap.

Selain diberi tempat menginap, Pak Umuh pun menyediakan kami makan 2 kali. Makan sore dan pagi esoknya. Saat malam, rebus jagung dan kacang tanah pun ia hidangkan. Jujur saja, kami semua baru kenalan dengan Pak Umuh itu, tapi ia sudah sebegitu baiknya.

Di hari ke dua, tujuan kami adalah kampung Cikondang. Kata Pak Umuh, jaraknya cuma 5 km. Kami berangkat sekitar jam 06.00. Saat di jalan, kami berpapasan dengan anak-anak yang hendak pergi ke sekolah. Mereka memakai sandal jepit. Entah memang tak ditegur oleh gurunya atau mereka adalah anak-anak nakal yang tak tau peraturan. Aku jadi ingat, sewaktu SD aku pun suka memakai sandal jepit. Aku memakai sepatu saat mau dibagi rapor saja. Parahnya, kelakuan itu melekat hingga aku berstatus mahasiswa. Sungguh tak teladan.

Sekitar jam 10.00, persediaan air sudah habis, dan kami sedang kelelahan. Waktu itu Budi bertindak sebagai pahlawan, karena bertindak lugas saat melihat kocoran air. Kami pun dengan lahapnya meminum air tersebut. Tak sekedar meminumnya, tapi juga memasukkannya ke dalam botol untuk persediaan.

 Setelah botol terisi penuh, kami pun melanjutkan perjalanan, dan jalanan kini menanjak. Setibanya di ujung tanjakkan, kami baru menyadari dari mana kocoran air itu berasal. Yaitu dari kolam ikan yang ada tempat buang air besarnya.  Kami hampir saja mau muntah, tapi gak jadi. Air yang sudah dimasukkan ke dalam botol pun dibuang kembali.

Kami tiba di kampung Cikondang sekitar jam 13.00. Lalu melapor ke RT dan RW. Kami bermalam di halaman mesjid, dengan mendirikan tenda. Bukan karena tidak ada yang bersedia menampung kami, namun karena kami ingin merasakan sensasi pengembaraan yang sesungguhnya.

Tak disangka, kedatangan kami menyedot perhatian. Dari mulai anak-anak hingga orang tua. Selepas salat magrib, hampir semua lapisan masyarakat berkerumun di dalam maupun halaman mesjid. Semua ingin tau tentang kami. Tentang mengapa kami mau-maunya berjalan di perkampungan, tanpa kendaraan maupun tujuan yang jelas.

Jangankan mereka, aku pun masih bingung mengapa aku mengembara di perkampungan. Berjalan jauh hingga kaki dan punggung terasa sakit. Makan dan minum semau dan seketemunya. Menyusuri jalan bermodalkan peta usang dan keberanian bertanya.

Esoknya, pagi-pagi sekali kami harus sudah membereskan tenda, karena katanya, perjalanan kali ini benar-benar menyeramkan. Menyeramkan karena jaraknya sampai 20 km dan melintasi satu bukit yang jauh dari peradaban manusia. Kami yang belum tau apa-apa, mengamini ucapan para warga itu.

Sepanjang perjalanan, orang-orang yang berpapasan dengan kami selalu bertanya kemana tujuan kami, dan mereka seolah dipandu untuk berekpresi dengan wajah yang sama, yaitu wajah yang menganggap kami orang “gila” karena berjalan jauh tanpa membawa tujuan yang logis bagi mereka. Termasuk bagi diriku sendiri. Memilukan.

Setelah kami sudah kelelahan, kami pun istirahat di pinggir jalan. Duduk-duduk sambil melepaskan napas panjang. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan setengah baya dengan kored di tangannya. Prediksiku, perempuan itu hendak pergi ke kebun.

Dengan tatapan heran, perempuan itu menanyakan segala hal tentang kami. Wita meladeni perempuan setengah baya itu. Tak disangka juga, percakapan mereka terus berlanjut. Aku mulai memberi perhatian lebih kepada mereka, dan sedikit-sedikit menguping percakapan mereka.

Intinya, perempuan setengah baya itu banyak cerita tentang hidup yang sama sekali tak pernah ia pinta. Kami, selaku mahasiswa, kaum terpelajar yang dianugarahi hidup yang lebih mengenakkan, seolah dipaksa untuk harus tau dan harus membantu mereka yang terpinggirkan.

Namun waktu itu kami baru bisa menganggukkan kepala sambil tersenyum lirih. Hanya bisa mendengar, tanpa bisa melakukan yang dengan isyarat, ia pinta. Ah andai ia tau, bahwa sebenarnya kami pun sama dengannya, sama-sama orang kampung yang besar di sawah dan ladang. Sama-sama orang terpinggirkan, namun aku mencari peruntungan di kota. Kami di sana waktu itu, setidaknya sudah mendengarkan curahan hati seseorang yang terpinggirkan dari “mata” manusia keumuman.

Setelah puas merintih, dan kami pun puas untuk bersimpati, perempuan setengah baya itu berpamitan dengan hati lapang. Paling tidak, semua kesakitan dalam hidupnya, sudah jelas bagi kami. Perempuan setengah baya itu pun seolah sudah melepaskan segala bebannya.

Sekitar jam 12.30, kami sedang berjalan menanjak menuju bukit. Setelah menemukan permukaan tanah yang rata, kami pun istirahat. Secara bergiliran, kami melaksanakan salat dzuhur sekaligus ashar. Masih menggunakan pakaian yang agak kotor dan disertai kucuran keringat. Walau tak baik, namun sensasinya tak terlupakan.

Kami tiba di puncak bukit sekitar jam 14.00. Ada satu hal yang mencengangkan bagi kami, yaitu pesisir pantai Garut Selatan dapat terlihat. Indah memang, namun yang lebih indah adalah kebersamaan kami. Tertawa, kesakitan, makan, berjalan, merintih, menemukan keanehan, jongkok, tidur, minum, kegilaan, kewarasan, kehujanan, dan sekian banyak kata lainnya yang selalu kami lewati bersama.

Kami tiba di kampung Pangrumasan (sebagai tujuan kami) sekitar jam 17.12. Kami berjalan hampir seharian penuh. Kami pun langsung melapor ke Pak RT. Dan ketua Karang Taruna sudah siap menyiapkan tempat tidur untuk kami.

Sebisa kami, kami sudah menolak, dan berniat ingin mendirikan tenda saja. Namun mereka punya pertimbangan lain. Dalam sejarah yang tak tertulis, mereka tak ingin mendapat kesan sudah “menelantarkan” kami. Mereka ingin dikenang sebagai warga desa pada umumnya, yaitu yang selalu ramah dan baik hati kepada siapa saja yang datang.

 Kami mendapat jamuan seperti Pak Umuh menjamu kami. Tidur nyenyak di kasur dan makan enak di meja makan. Seperti ke Pak Umuh, kami baru berkenalan dengan orang baik yang sudah Tuhan ciptakan itu.

Esoknya paginya, kami pun melanjutkan perjalanan. Kata orang-orang yang kami tanya, perjalanan kali ini sama menyeramkannya dengan perjalanan kemarin.

Yang mengesankan dalam perjalanan hari itu adalah ada sebuah sekolah dasar (SD) yang letaknya di puncak bukit. Indah memang, namun keindahan letak geografis tambah elok setelah membayangkan keindahan perjuangan mereka, yang setiap paginya harus berjalan menanjak sejauh 1 km. Anak-anak pula.

Aku merasa, jarak tempuh jalan kami lebih jauh setiap jamnya ketimbang kemarin-kemarin. Sekitar jam 11.15 kami sudah tiba di kampung Peundeuy, atau sudah naik sekaligus turun bukit. Hari itu adalah hari jumat. Kami, para lelaki pun bersiap untuk melaksanakan salat jumat di mesjid. Sebelumnya, mandi dulu di toiletnya.

Perjalan selanjutnya amat menyenangkan, karena hanya dengan duduk-duduk sambil ketawa-tawa, kami dengan cepat bisa sampai ke Cikajang, Garut. Kami melintasi 30 km hanya dengan hitungan waktu 4 jam.

Namun, dibalik canda-tawa di atas mobil bak yang kami tumpangi, ada rasa sedikit bersalah, karena dalam peraturannya, kami tak boleh naik mobil. Dengan dalih, ada 2 orang perempuan yang secara pisik terbatas, maka bagi kami menjadi sah-sah saja.

Esoknya, kami kembali ke Bandung dengan menggunakan angkutan umum. Ada fakta yang bagi kami cukup menarik. Kami dibekali Rp. 250.000 untuk makan, dan setibanya di kampus, uang itu tersisa Rp. 200.000. Dengan begitu, hanya dengan Rp. 50.000, kami berenam dapat hidup di Garut dalam jangka waktu 5 hari.

Kalaulah dilihat sepintas, pengembaraan hanya menyisakan kebersamaan yang tak terbatas, pisik yang sedikit lebih kuat, dan bisa melihat wilayah-wilayah yang sebelumnya belum kami jamah. Di balik semua itu, kami dapat melihat dan sedikit merasakan sisi lain dari kehidupan. Terlebih, kami menjumpai orang-orang hebat, para petani yang hidup tak manja. Paling tidak, dalam hidup, aku punya banyak cerita.

Setelah melakukan pengembaraan, aku pun dianggap sah menjadi anggota Mahapala Jirim. Membahagiakan, sekaligus membingungkan.

Yang menjadi bingungnya, dalam proposisi tertentu, anak Mahapal Jirim disetarakan dengan tukang bersih-bersih. Contohnya sewaktu ada acara Persami (perkemahan sabtu minggu) di Ranca Upas. Waktu itu, anak Mahapala dianggap wajar kalau bersih-bersih, sedang yang lainnya dianggap luar biasa. Dan anak Mahapala dianggap “tidak wajar” kalau tidak bersih-bersis, sedang yang lainnya diangga “wajar” saja.

Ada semacam kecaman yang tak mengenakan bagi anak-anak Mahapala. Bagaimana pun, anak Mahapala bukanlah “tukang sampah” yang bila tak suka bersih-bersih, maka ia dianggap gagal jadi anak Mahapalanya. Laku bersih-bersih bersifat universal (berlaku untuk semua manusia), dan tak mesti disempitkan hanya untuk golongan tertentu. Dalam sejarahnya, kegiatan anak Mahapala adalah naik gunung, panjat tebing, susur sungai dan susur pantai. Laku bersih-bersih hanya karena anak Mahapala adalah manusia juga, yang sama punya tanggung jawab itu. Semacam ada distorsi sejarah

Kalaulah aku salah, berarti buku ini benar: “buku bukan kisah teladan”. Dan ini hanya semacam apologi.

Tuliskan Komentarmu !