CURHATAN AKHIR NGAMPUS #3

Main Kartu dan Tumpukan Buku

Jarak dari rumahku ke kampus UIN cukup jauh, menempuh waktu hingga 1 jam dengan menggunakan motor. Itu sudah termasuk dengan macetnya. Maka bila setiap hari aku harus pulang-pergi, maka dapat dipastikan aku akan tua di jalan.

Untuk mengefesienkan waktu, terlebih, agar aku lepas dari label mahasiswa kupu-kupu (kuiah pulang-kuliah pulang), maka aku sering menginap di kos-kosan teman.

Syukurlah aku berteman dengan orang-orang baik, setidaknya kesan itu yang aku dapat. Mereka dengan penuh senyum menampungku. Entah teman sekelas, maupun teman di organisasi kemahasiswaan.

Yang biasa dilakukan dengan teman sekelas adalah main game, nyanyi-nyanyi, main futsal dan browsing untuk tugas kuliah. Sedang yang biasa dilakukan dengan teman di Hima Persis adalah baca buku, diskusi, main kartu dan sesekali suka ngeliwet.

Kisah yang paling tidak teladan yang biasa aku lakukan sebagai mahasiswa adalah main kartu di depan tumpukkan buku-buku. Namun main kartu yang kami lakukan tak sembarang main kartu, karena analisa yang digunakannya adalah perpaduan antara matematika dengan metafisika.

Sungguh tak sembarang main. Setelah bercumbu dengan logika Aristoteles yang masih ada dalam tatanan pikiran, lalu diejawantahkan dalam kehidupan nyata dengan main kartu. Mahasiswa pintar mana yang menganggap main kartu sebagai kisah teladan?

Main kartu biasanya ada di pos ronda untuk golongan menengah ke bawah, dan ada di bar untuk golongan menengah ke atas. Namun waktu itu, main kartu juga dilakukan di indekos seorang terpelajar.

Dalam masyarakat “kecil”, orang-orang yang suka main kartu adalah penyia-ngyiaan waktu, penganggur dan orang yang dianggap suka berbuat jahat walau tak beralasan logis. Dalam masyarakat “besar”, orang-orang yang suka bermain kartu adalah sebuah kesenangan, pemborosan, dan juga gaya hidup. Lalu, stigma apa yang pantas untuk seorang terpelajar yang suka bermain kartu?

Silahkan stigma sendiri. Sedang mahasiswa yang sukanya main game, nyanyi-nyanyi, copy-paste tugas, dan membusungkan dadanya karena labelnya terpelajar, tak usah mendapat stigma, karena itu sudah terlalu lumrah bagi seorang mahasiswa.

Untuk sebuah apologi, main kartu adalah cara asyik untuk belajar statistik.

Pindah Ngampus

Saat tengah liburan semester 2, Bapak baru banyak tanya soal prospek kerja dari jurusan BPI. Bapak suka bertanya pada temannya yang mengenyam pendidikan sampai tingkat atas. Sampai pada kesimpulan; kalau lulusan BPI prospek kerjanya sempit. Aku diajak Bapak berunding, atau lebih tepatnya agar aku memahami cita-cita Bapak.

Bisikan, “orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya”, atau dalam hal tertentu, aku pun ingin dikatakan sebagai anak yang taat; maka aku amini saja keinginan Bapak, yaitu agar aku pindah ke jurusan PAI, yang dipandang prospek kerjanya cukup luas. Namun untuk pindah jurusan, aku harus mendaftar dan mengikuti test kembali. Sedang aku sadari dari awal, masuk jurusan PAI di UIN teramat sulit, hanya bisa dilalui dengan “keberuntungan” dan kantong tebal saja.

Aku tak ingin berspekulasi terlalu tinggi, akhirnya Bapak pun menyarankan agar aku pindah ngampus saja.

Aku pindah ke kampus STAIPI Bandung, tepatnya di jalan Ciganitri no 02, Cipagalo, Bojongsoang – Kab. Bandung. Bangunan kampusnya memang tak sebesar UIN, malahan kalau dibandingkan dengan pesantrenku dulu, bisa dibilang lebih besar pesantrenku dulu. Namun sepertinya jalan cerita yang menarikku ke kampus itu, kampus yang dikelilingi oleh sawah dan kolam ikan. Setidaknya itu yang terkesan saat aku awal ngampus, yaitu pada bulan Agustus  2012.

Bermodalkan transkip nilai 2 semester dari UIN, di STAIPI aku langsung duduk di semester 3. Banyak temanku yang keheranan, aku jawab saja “aku terlalu pintar untuk duduk di semester 1 dan 2”. Tentu teman-temanku tak percaya, tapi sesekali aku pun ingin mengaku-ngaku sebagai orang pintar.

Nasib anak pindahan memang selalu tak menguntungkan. Aku harus menyesuaikan diri dengan suasana baru, lingkungan baru, teman-teman baru, dan juga gebetan baru.

Hingar bingar kampus yang selalu ramai, DPR, selasar mesjid, hanya menjadi ingatan yang terpatri dalam kenangan. Namun aku akan selalu ingat, karena manusia dituntut untuk terus melangkah, dan kadang dengan jalan yang tak pernah ia kira. Jejak adalah peninggalan manusia, maka yang dibutuhkan manusia adalah mengukir jejak itu seeksotis mungkin.

Kampus baru, jejak baru. Namun tidak untuk sepatu baru, katong baru, baju baru, celana dalam baru, wajah baru, buku baru, balpoin baru, dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan satu persatu.

Tuliskan Komentarmu !