CURHATAN AKHIR NGAMPUS #2

Mahasiswa = Demo

Seseorang berujar padaku, “belum sah seseorang dikatakan sebagai mahasiswa kalau belum ikut demo”. Mungkin sama halnya dengan ungkapan “belum sah seseorang dikatakan santri, kalau belum budug (sakit kulit)”.

Entah mulai sejak kapan, mahasiswa diidentikkan dengan demo, padahal buruh pun sering berdemo. Atau apa hubungannya mahasiswa sebagai manusia terpelajar, dengan demo sebagai aksi turun ke jalan?

Aku tak ingin bermain teka-teki, atau pakai akhiran “silang” pun tetap aku tak mau. Aku bertanya hanya karena katanya mahasiswa harus kritis, dinamis, progresif, dan berjubel kata-kata lainnya yang selalu memadati seminar-seminar kemahasiswaan. Hanya untuk memeriahkan, atau agar terkesan sedikit intelek.

Perkumpulan anak-anak Hima Persis PK UIN SGD Bandung tahun 2012, tak sekedar nongkrong di selasar mesjid, tapi sesekali mengadakan acara baksos ke daerah Tasik dan Garut, sesekali juga ikut berdemo.

Cerita tentang baksos sengaja aku lewat, karena takut melunturkan cita-cita diawal, yaitu buku ini hanya apologi dari cerita-cerita yang dianggap lebih banyak keburukannya ketimbang kebaikannya. Maka langsung saja pada kisah demo.

Waktu itu, sedang tren-trennya berdemo soal kenaikan harga BBM. Aku yang kebetulan sedang malas kuliah, ikut saja berjalan menyusuri jalan dari Cicaheum sampai Gasibu, sambil teriak-teriak. Semangat bukan main. Bendera pun aku kibar-kibarkan.

Aku menyaksikan berbagai tanggapan dari para pengendara yang hendak lewat. Ada yang mengacungkan jempolnya, ada juga yang terus nekan tombol klakson karena jalannya terhambat.

Entah berapa kilometer aku berjalan, pokoknya dari Cicaheum sampai depan Gedung Sate. Tentu saja, demo lebih menguras pisik ketimbang duduk mendengarkan dosen. Maka tak bisa dikecam lebih buruk.

Setibanya di depan Gedung Sate, Pak Polisi sudah siap menghadang, disertai dengan perlengkapan perang. Namun kami tak patah arang, bendera terus dikibarkan, orasi terus diteriakkan. Kalaulah aku sendirian, pasti sudah memilih pulang. Keberanian muncul karena banyak teman.

Saat orasi berlangsung, dada begitu menggebu-gebu. Nasib berjuta rakyat seolah benar-benar ada di tangan kami. Dan kalaulah polisi itu menyerang hingga menewaskan kami, maka kami akan menganggap bahwa kami mati dalam keadaan syahid.

Suasana seperti itu cukup lama. Hingga akhirnya ada seorang wanita cantik yang naik. Aku kira akan berorasi, namun malah bernyanyi. Nyanyiannya mengubah suasana tegang menjadi pilu. Gemuruh suara para pendemonstran pun ikut melayang di angkasa. Merobek nadi-nadi para pejuang.

Darah Juang

Di sini negeri kami

tempat padi terhampar

samuderanya kaya raya

tanah kami subur, Tuan.

Di negeri permai ini

berjuta rakyat bersimbah luka

anak buruh tak sekolah

pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya

tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami

untuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya

tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami

Padamu kami berjanji

Aku merinding, namun bukan karena melihat penampakkan setan atau makhluk halus lainnya. Suara merdu nan pilu wanita cantik itulah yang membuat bulu romaku berdiri. Karena bagiku, wanitalah yang nyata sebagai makhluk halus itu.

Setelah selesai menyanyikan lagu itu, para pendemonstran semakin bulat untuk “berjuang”. Orasi pun berlanjut dan mengarah sedikit provokasi. Polisi-polisi yang berjaga di depan halaman gedung, didorong sampai mundur tiga langkah oleh para pendemonstran. Awalnya bersorak, lalu datang sebuah petaka.

Polisi-polisi yang berjaga di dalam halaman gedung, berhamburan ke luar. Memangsa siapa saja yang ada di depannya. Kamera para wartawan mulai disorotkan, seolah mereka membisikkan “inilah yang kami tunggu”.

Sementara aku berserta anak-anak Hima Persis lainnya memilih untuk mundur dari barisan. Orang boleh menuduh kami tak setia kawan. Tapi aku kira, tak ada gunanya tawuran dengan Pak Polisi. Mereka bersenjata dan dibayar, sedang kami hanya memegang bendera dan berjalan kaki. Bukan lawan yang sepadan, bukan?

Aku sudah lupa jumlah keseluruhan korban tawuran mahasiswa vs polisi itu. Sebagian orang menganggap itu hanya settingan agar “dicium” media. Tapi ayo lah, settingan tak mesti sebencanda itu. Yang masih kuingat, empat orang mahasiswa bersimbah darah sambil memegang kepalanya.

Para ketua ormawa (organisasi mahasiswa) akhirnya dipanggil ke dalam gedung, dan membuat sebuah perjanjian. Perjanjian itu berisi bahwa dalam rapat nanti di Senayan, Gubernur Jawa Barat (Ahmad Heriawan) akan melayangkan keberatannya atas rencana Presiden untuk menaikan harga BBM. Perjuangan yang membuahkan hasil, sepertinya.

Dalam soal demo, memang aku bukan jagonya, karena aku tak pandai berorasi. Aku hanya bisa mengibar-ngibarkan bendera, walau sering kali dilanda pegal. Atau sesekali juga sempat bersandar di tubuh Pak Polisi yang tegap berdiri, sambil ngomongin kabar anak istrinya.

Memang banyak hal yang cukup menggelikan juga saat demo. Misalnya saat demo di Gedung Merdeka beberapa bulan lalu. Ada teman sedemoku yang banyak berbincang dengan Pak Polisi karena asal daerah mereka sama. Namun saat ada intruksi untuk adu dorong, mereka pun bersandiwara adu dorong. Bahkan ada juga polisi yang berteriak, “jangan terlalu kencang, dong!” Itu baru settingan. Tak mesti harus mengeluarkan darah.

Kadangkali bersandiwara itu diperlukan, hanya untuk dapat sorotan media. Namun kadang juga ada yang terlalu berlebihan berimprovisasinya, hingga demo menjelma jadi tawuran terpelajar.

Bagiku, demo tak sekedar berorasi dan berapresiasi, namun juga untuk lebih mengenal “jalanan” sebagai tempat lalu-lalang orang. Tempat “lewat” seluruh aktivitas manusia.

Tuliskan Komentarmu !