CURHATAN AKHIR NGAMPUS #10

Sarjana = Uang Jajan Melayang

Memakai toga adalah impian kebanyakan orang. Aku sering melihat orang-orang dengan bangga memakai toga di depan kamera. Aku pun harunya begitu, tapi entah kenapa, karena aku rasai tak nyamannya memakai toga, terlebih tak membuatku lebih ganteng. Mugkin ada maksud lain, tentu hanya diri masing-masing yang tahu maksudnya.

Ketika esoknya akan diwisuda, aku menginap di kampus. Alasannya sederhana, karena aku takut terlambat. Maka ketika orang lain datang dengan didampingi orang tua, aku hanya nangkring saja di warung kopi, sambil menunggu orang tuaku datang. Tak enak memang, tapi bagaimana pun, begitulah sejarahku.

Hal yang paling menegangkan adalah ketika aku memakai toga, tapi dalamannya adalah kaos oblong. Sedang  kulihat yang lain begitu rapinya dengan kemeja putih, bahkan ada yang memakai jas. Tegang, karena aku takut tak dianggap sebagai salah satu calon wisudawan. Aku pun hanya geleng-geleng kepala, tak mengerti akan sikapku sendiri.

Sebelum memasuki gedung, para calon wisudawan diperintahkan untuk berjajar di halaman kampus. Aku berada di antara puluhan wisudawan lainnya. Aku merasa teramat kecil, tak berarti.

Kami pun diperintahkan untuk segera memasuki gedung. Selangkah demi selangkah aku ayunkan kakiku. Aku lihat di pinggir sana, para orang tua dan kerabat lainnya sedang menyaksikan aksi kami, seperti sebuah parade. Aku pun menjumpai dua pasang bola mata yang tak asing lagi, mereka adalah Kakakku dan suaminya. Mereka tersenyum terurai melihatku malangkah, mungkin baginya terlihat gagah.

Setibanya di dalam gedung, aku duduk di kursi yang sudah dikasih nama. Aku duduk di kursi paling depan, menghadap langsung para pejabat kampus.

Acaranya cukup alot, karena bagaimana pun, yang inti adalah pemindahan tali topi dari kiri ke kanan, dan berpose bersama keluarga di depan kamera, acara lainnya adalah basa-basi.

Seusai sahnya aku menjadi seorang sarjana, tak lupa aku menghampiri kedua orang tuaku. Aku memberikan salam penuh kebanggaan, aku pun seolah berbisik, “semoga tak sia-sia kalian menyekolahkanku hingga tingkat atas.”

Aku pun mengajak mereka berfoto bersama. Kakak dan suaminya pun aku ajak. Sebuah momentum, sepertinya belum sah bila belum ada dalam foto. Setelah usai, kami semua makan bersama di halaman gedung.

Pasca Sarjana

Kini aku hidup setelah label sarjana bertengker di akhir namaku. Dan ini adalah jeritan seorang sarjana yang kuliahnya asal-asalan.

Sudah dua bulan aku menjadi seorang sarjana, dan sampai kini, aku belum mendapatkan pekerjaan. Mungkin terlalu naif, karena selama itu, aku tak hanya tidur saja. Pekerjaan yang kumaksud adalah sebagaimana pandangan umum, yang selalu di akhiri dengan gaji. Bekerja adalah menghasilkan uang, selama tak menghasilkan uang, maka gugurlah perbuatan apapun, bisa disebut pekerjaan.

Sebagaimana cita-cita di awalku, yaitu untuk menjadi mahasiswa abadi, maka setelah sarjana pun, aku terus berusaha mewujudkan itu, walau terdengar konyol. Aku masih suka pergi ke kampus, berkumpul dengan teman-teman Hima Persis, Mahapala Jirim, maupun Savana Post.

Aku sering bertemu dengan mantan dosenku, walau aku ditatap dengan tatapan tajam. Mungkin baginya aku adalah contoh alumni yang gagal, karena masih belum sibuk dengan dunia “pekerjaan”, dan masih santai untuk tunggang-langgang menyisir dunia kampus.

Mungkin, alumni yang baik itu adalah alumni yang so sibuk dengan pekerjaan, hingga ia tak punya waktu untuk berkunjung lagi ke bekas kampusnya sendiri. Memberi sedikit pengalaman maupun pemahaman kepada adik-adiknya.

Memang, beragam cara untuk menunjukan sebuah rasa cinta. Dan aku, dengan sering-sering ke kempus, bergumul dengan adik-adikku di kampus, bercerita dan belajar bersama, adalah caraku untuk tetap mencintai kampus.

Dari kegagalanku ini, setidaknya aku tak ingin ada orang lain yang bernasib sama. Bukan maksud hati untuk menasehati, karena apalah gunanya mendengar nasehat dari orang yang tak berlaku bijak dan alim. Aku hanya ingin bercerita saja, karena cerita selalu punya tempat untuk orang-orang jahat, atau yang dituduh jahat. Romantika sebuah cerita, justru lebih terasa jika ada pemeran antagonis.

Bagi siapa pun yang menceburkan dirinya ke dunia pendidikan -dalam hal ini bisa diartikan sebagai mahasiswa atau kaum terpelajar-, maka mau tak mau ia harus akrab dengan dunia huruf.

Rangkaian huruf bukan sekedar klaim-klaim atau simbol, tapi juga sebuah dunia yang punya gunung, sungai, pantai, hingga samudra. Dunia huruf teramat luas, maka jangan dulu berbangga hati jika baru menemukan pohon-pohon yang rindang, atau suara kicauan burung yang merdu. Kau harus tau, pohon-pohon itu adanya di sebuah taman kota kah, atau di tengah hutan yang lebat? Kau juga mesti tau, burung-burung itu adanya di alam bebas kah, atau di dalam sangkar? Maka, jangan pernah berhenti untuk menyusuri dunia huruf, walau kau sudah dinobatkan sebagai sarjana, apalagi masih manjadi mahasiswa.

Januari 2016

Anggap Saja Tamat

Tuliskan Komentarmu !