CURHATAN AKHIR NGAMPUS #1

Kita pun butuh contoh yang tidak baik, agar yang baik, lebih dikagumi dan dihormati

Kini

Sekarang aku sedang duduk di depan notebook acer yang berwarna biru langit. Di sisi kananku ada segelas kopi hitam yang tinggal setengah. Di samping kiriku ada sebungkus rokok djarum coklat yang tinggal 4 batang. Tak lupa juga ada asbak berserta koreknya.

Sebenarnya bukan itu yang hendak kumaksud, tapi kini aku sedang berdebar-debar karena 4 hari lagi aku akan diwisuda. Titelku pun akan segera berubah, yang tadinya mahasiswa, nanti akan menjadi sarjana. Membanggakan, nanti namaku akan terlihat lebih gagah.

Aku berdebar-debar bukan karena demam panggung, atau merasa belum siap menyandang titel sarjana. Tapi karena setelah diwisuda, pasti aku tak akan mendapatkan uang jajan lagi, dan pastinya akan ditanya, kapan menikah? Memilukan.

Sebelum menulis ini, aku sempat membaca tentang perjuangan seseorang demi mendapat titel sarjana. Berawal dari mimpi, lalu berjuang sekuat tenaga, hingga akhirnya tersematkan dalam dirinya sebuah label kebanggaan, titel sarjana. Sungguh menginspirasi kisahnya.

Semestinya aku pun berlagak sama, agar dapat menginspirasi orang. Menuturkan petuah-petuah bijak, kalau dalam bahasa Bambang Q-Anesnya, agar ngampus gak sekedar status. Namun sepertinya tak ada perjalananku yang begitu jelimet. Terlebih, cita-citaku bukan untuk jadi seorang motivator yang tugasnya menginspirasi orang.

Tapi aku pun tak berhak merendahkan diriku sendiri, karena toh, aku tetap masih ciptaan Tuhan juga. Makanya sekarang kuberanikan diri untuk menulis. Biarlah nilai IPK-ku rendah, sidang Komprehensip dan Munaqosahku terlambat 2 bulan, banyak tugas yang tidak aku kerjakan -karena memang aku tak bisa-, atau sesekali datang ke kampus dengan sandal jepit dan kaos oblong.

Akhir kuliahku memang cukup memilukan. Aku masih berjibaku dengan nilai dan skripsi disaat teman-temanku sudah bersantai menyongsong wisuda. Terlebih saat itu, tak ada “seseorang” yang menyemangatiku. Mengharukan.

Namun semuanya sudah terlewati. Sekarang, nilai sudah dianggap beres, skripsi pun tinggal minta tanda tangan penguji. Namun untuk masalah “seseorang”, masih sama seperti dulu. Dan aku harus rela melewati wisuda nanti, tanpa bisa selfie dengan calon istri, atau setidaknya aku berhak mengklaim bahwa “seseorang” itu calon istriku.

Bagaimana pun kalutnya perjalananku, tetap saja meninggalkan kenangan. Dan kenangan itu, sedikitnya akan aku ceritakan.

Awal Ngampus

Kata Bapak, jaman sekarang ijazah Aliyah sudah gak laku di pasaran. Maka mau gak mau aku harus kuliah, agar masa depanku bisa sedikit cerah.

Di kampung halamanku –daerah Talegong, Garut-, memang amat sangat terlihat, kalau tingkat pendidikan bisa menjadi penentu tingkat ekonomi. Kalau hanya lulusan SD dan SMP, kerjaannya ya ke sawah dan ke ladang. Kalau lulusan SMA, merantau mencari kerja ke Kota. Dan kalau sudah jadi sarjana, akan menjadi PNS; entah jadi aparat desa maupun mengabdi menjadi guru.

Atas dasar itulah, Bapak menyuruhku kuliah. Agar ekonomi di hari depanku tidak sesuram malam tahun 1998 di kampungku –kampung Cibinong-, yang masih menggunakan cempor. Namun sepertinya ada yang luput, karena sebelum bisa mendapat pendidikan sampai tingkat atas, penduduk kampung pun harus kuat dulu secara ekonomi, karena kalau tidak, mau bayar kuliah pakai apa? Pakai cinta?

Semangat kuliahku adalah semangat mendapatkan ijazah. Aku tak akan menampik itu. Karena kalau hanya untuk belajar, jujur saja, aku lebih suka belajar dari tukang becak, dari tukang parkir, dari tukang gorengan dan tukang-tukang lainnya. Atau dari lebah, dari burung, dari lalat dan hewan-hewan lainnya. Pokoknya dari segala hal yang tak ada kaitannya dengan KRS dan nilai.

Sejak itupun aku mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa ke perguruan tinggi yang sudah terkemuka di kota Bandung. Jelasnya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk pilihan pertamanya, dan jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) untuk pilihan ke duanya. Semua itu atas intruksi dari Bapak, dan aku diterima di jurusan BPI.

Menjadi mahasiswa UIN, dadaku langsung membusung. Seperti ada sesuatu yang patut untuk dibanggkan. Terlebih saat di UIN, ada panorama yang sangat indah, karena di setiap hari kuliahnya, bisa bertemu beratur-ratus wanita cantik. Mafhum, aku orang kampung dan baru keluar dari penjara Pesantren Persatuan Islam (PPI) 34 Cibegol.

Perkuliahan di UIN berjalan begitu alot. Banyak materi yang sudah diajarkan saat aku masih duduk di pesantren. Materi yang baru-baru pun tak begitu menyedot perhatianku, hanya semacam pengulangan bahasa dari tulisan ke lisan, atau bahasa kasarnya; informasi semacam itu sudah cukup dengan hanya membaca bukunya saja, tak perlu susah-susah berangkat kuliah. Harap dimafhum juga, waktu itu aku sedang belajar arogan.

Yang masih melekat dari kampus UIN adalah DPR (Di bawah Pohon Rindang) dan selasar mesjid. DPR merupakan tempat yang sangat asyik untuk nongkrong, kongkow, ngopi dan ngeceng. Dua pohon beringin yang besar dan rimbun, meneduhi apa saja yang ada di bawahnya. Tak jarang, anak-anak LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) dan Aqfil (Aqidah Filsafat) sering mengadakan acara di ruang terbuka serta teduh itu. Aku yang awalnya cuma niat ngeceng pun, mau tak mau menyaksikan acara mereka.

Di selasar mesjid, aku suka berkumpul dengan orang-orang yang seagama denganku, yaitu Persatuan Islam (persis), lalu perkumpulan itu disebut Hima Persis (Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam). Mafhum juga, di UIN sangat langka orang yang baragama Persis, jadi sangat membahagiakan bila bisa berkumpul dengan orang-orang yang berkeyakinan sama.

Yang suka dibincangkan dalam perkumpulan Hima Persis beragam, dari soal Fiqh hingga Filsafat; dari soal sandang, pangan, papan hingga Himi (Himpunan Mahasiswinya).

Jujur saja, awalnya aku tercengan, karena yang kukenal dari persis adalah celana katun, baju batik, serta kupiah hitamnya. Saat bicara serius pun yang dilantunkannya adalah ayat Quran dan hadis Nabi. Namun mereka, tak ubahnya dengan preman pasar yang pintar mengaji dan berdalih.

Saat itu, aku pun berrevolusi. Orang akan mengira kalau aku terpengaruh oleh lingkungan. Namun aku kira tak sepenuhnya benar, karena saat aku bergaul kembali dengan para ustaz, nyatanya aku tak berrevolusi kembali. Lingkungan hanya memberi kita pandangan dari A sampai Z, serta efek yang timbul dari pandangan itu. Setiap orang mempunyai “diri” untuk menentukan sikap hidupnya, dan lingkungan tak mesti dijadikan kambing hitam.

Saat itu juga, Hima Persis Pimpinan Komisariat UIN SGD Bandung, memberiku satu dunia baru, dunia dimana aku “ada” di dalamnya. Tentu, Hima Persis yang kumaksud bukan lambang, simbol, label atau apapun yang senada dengannya, tapi manusia-manusia yang ada dalam naungan Hima Persis PK UIN tahun 2012.

DPR dan selasar mesjid menjadi tempat ngampusku di UIN. Sedang gedung-gedung indah tempat dosen mengoceh, beratraksi dan bersandiwara, aku sudah lupa romantikanya.

Tuliskan Komentarmu !