Cerita Penghapus Luka

SAVANA- Saat kududuk santai sambil menikmati kopi, kau datang lagi sambil membawakanku sepucuk kenangan. Tak ada tanda-tanda bahwa hujan sebentar lagi akan turun, tapi kau datang sambil memegang payung yang dulu sempat kau pinjamkan. Aku duduk memandangimu, dan kau berdiri memandangiku. Sepertinya kau masih mengenaliku.

“Mau kah kau duduk sebentar?” rayuku.

“Tentu,” jawabmu pelan, tapi aku sudah hafal dengan gerak mulutmu.

Memang hanya kau yang berani duduk dekat-dekat denganku. Kau tak memedulikan dengan apa yang kuderita. Empat tahun lamanya, kau setia memberikanku senyuman, sebelum akhirnya kau membeli sebuah kaca mata dari seorang pedagang yang mengetuk-ngetuk rumah kita, dan akhirnya kau mengubah sikapmu.

“Kau seharusnya jadi penghafal Quran, pemberi nasihat, pemberi peringatan bagi orang yang membangkang”, nasihatmu waktu itu.

Awalnya kau tak pernah keberatan dengan semua yang aku lakukan, dengan semua yang aku perjuangkan. Aku sering berucap padamu, jalanku adalah jalan seorang penyair, bukan pendakwah. Sebelum membeli kaca mata itu kau bangga mendengarnya, tapi tidak setelahnya.

“Kau tau kan jaminan bagi seorang pendakwah? …surga. Di dunia pun mereka mendapat kehormatan,” bisikmu waktu itu, saat menjelang tidur.

Setelah membeli kaca mata itu kau telah menghinaku habis-habisan. Kau seolah mengatakan bahwa penyair tak berhak mendapatkan surga, juga kehormatan. Para penyair hanyalah pemain kata-kata, pengagum imajinasi, pengguna khayalan, penanti senja penikmat hujan, dan kau merangkumnya dalam satu kata: alay.

Aku membujuk rayumu bahwa menjadi seorang pendakwah itu tidak mudah. Tidak semua orang bisa melakukannya, walau dengan jerih payahnya. “Tidak kah kau berpikir bagaimana jadinya dunia ini jika semua orang jadi pendakwah? Tidak semudah itu untuk menyimpulkan kehidupan,” bisikku.

Kau tidak percaya dengan bujuk rayuku. Jika semua orang di dunia ini jadi pendakwah, niscaya kehidupan bakal aman dan sentosa, tidak ada kesukaran dan kedzaliman, tidak ada penindasan dan kekuasaan yang sewenang-wenang, jawabmu lagi.

Kau bercerita melebihi negeri dongengnya para penyair picisan. Di negeri dongen para penyair, selalu ada peran antagonis yang kalah, sedangkan di negeri dongengmu semua orang berperan pratagonis. Tapi aku tidak mengucapkan itu padamu, takut kau tersinggung.

Siapa sebenarnya yang tidak menginginkan keamanan, kesejahteraan, dan kebenaran? Namun dunia bukan tempat penyalur keinginan-keinginan kita, Cantik, dunia sudah ada sebelum kau punya keinginan. Itu pun tidak aku ucapkan, karena kau sudah terlelap tidur.

Akhirnya kau memutuskan untuk pergi dariku. Aku bukan apa yang kau impikan, ucapmu di depan pintu. Ada perbedaan-perbedaan yang sangat fundamental yang tidak bisa disatukan, lanjutmu. Aku berusaha untuk mencegahmu, hanya dengan menarik-narik tanganmu, tak berucap lagi sepatah kata pun, karena jujur aku tak mengerti dengan apa yang kau ucapkan.

Kau menerobos hujan itu dengan berteduh di bawah payung, sambil menjinjing tas besar. Kau seperti kewalahan menjinjingnya, mungkin karena dua hari ini aku belum bisa memberimu makan.

Sekarang kau duduk di hadapanku. Memang bukan pertemuan yang direncanakan. Setelah kau pergi, hampir setiap pagi aku mendatangi warung ini, untuk sekedar meminum kopi karena di rumah sudah tidak ada lagi yang menyediakannya. Mungkin kau juga tak sengaja lewat, lalu melihatku.

Aku sudah mendengar tentang kiai-kiai yang digorok itu. Berbagai macam surat kabar memberitakannya, bahkan dijadikan tajuk utama. Para pendakwah itu, yang dulu kau agung-agungkan, bahkan kau menasehatiku agar aku mengikuti jejaknya, kini sudah menjadi mayat-mayat tak bernyawa. Mereka diserang oleh sekelompok orang yang menganggapnya martil menuju kekuasaan. Aku tau perasaanmu, bahkan aku pun sangat berduka. Tapi tau kah kamu bagaimana nasibku jika aku mengikuti nasihatmu dahulu?

Aku sedang tidak bergembira dengan nasibku sekarang. Para Kiai yang mati itu mungkin sudah mendapat tempat layak di sisi-Nya. Mungkin begitu pun denganku jika aku mengikuti semua nasihatmu. Tapi bagaimana denganmu?

“Bisa kah kau cerita sedikit tentang keadaanmu?” tanyaku hati-hati. Karena aku pun pernah mendapat kabar kalau suami barumu ikut menjadi korban.

Kau sepertinya masih rikuh. Kau hanya menatapku sebentar, lalu memalingkan wajahmu pada benda apa pun yang ada di sekitarmu.

“Keadaanmu, bagaimana?” tanyamu, sebelum kau menjawab pertanyaanku. Tapi baiklah, jika itu yang kau kehendaki.

“Tak ada yang berubah dariku, kecuali sedikit menua.”

“Kau masih muda.”

“Muda itu usiaku. Semangatku sudah tua.”

“Kenapa?”

“Kau benar. Menjadi penyair di lingkuangan seperti ini tidak ada gunanya. Tidak mendapat tempat di dunia, mungkin juga akhirat.”

“Tapi setidaknya kau masih hidup.”

“Apa yang patut aku banggakan dengan kehidupan seperti ini? Tak ada gaji, tak ada istri, juga anak.”

Kau menunduk. Mungkin ada ucapanku yang tak indah di telingamu. Aku pun tak mengira akan berkata seperti itu. Aku ingin menarik kata-kataku, kalau bisa.

“Kenapa kau tak mencari istri lagi?” tanyamu, sambil sedikit terisak. Aku hafal sikapmu sebelum kau menangis. Tapi aku tidak ingin membuatmu menangis.

“Karena aku tau suatu saat kau akan datang lagi.”

Perlahan, kau mulai berani menatapku lagi.

***

Kau sudah lihat bagaimana nyawa suamimu dibalaskan. Kini mereka lebih sengsara tinimbang kita. Bukan hanya nyawa, keturunan mereka pun sudah tak mendapat tempat yang layak lagi di mata negara.

Itu karena ulah mereka sendiri, katamu. Aku setuju. Hidup memang penuh dengan resiko. Termasuk dengan jalanku yang sunyi-senyap, dompetku pun sunyi-senyap; hanya riuh-riuh tetangga yang mengatakan aku pengagguran tak berpendidikan. Tapi paling tidak, suamimu sudah dijanjikan surga-Nya, tapi bagaimana dengan mereka? Oh, betapa nahasnya.

Katamu, kau sudah membuang kaca mata itu. Aku tak mengerti kenapa kaca mata itu bisa sekejam itu padaku. Kau hanya bilang, lebih baik kita tak mengerti apa-apa lagi sekarang.

Itu perubahanmu yang tak pernah kusangkakan. Disaat aku berlomba untuk mengetahui ini itu, hanya untuk bisa menerangkan kembali padamu, kau bilang sudah tak ada artinya lagi. Disaat aku mengejar berita demi berita, keterangan demi keterangan, kau bilang untuk apa lagi semuanya. Kita sudah cukup dewasa untuk hidup sederhana, pungkasmu.

Apa kau ingin menjadi arif bijak? tanyaku. Kau mengerutkan kening. Seorang arif bijak berkata, semakin banyak yang kau ketahui, semakin banyak masalah yang bisa kau peroleh, kataku. Kau hanya mengangguk ragu.

***

Kini kau diingatkan lagi tentang kejadian itu, kejadian yang menewaskan suamimu. Salahmu sendiri, kenapa kau mengikuti pembicaraan mereka, kataku. Kita sudah hidup di desa, seharusnya kita sudah tak mengikuti pembicaraan-pembicaraan orang kota.

Bukan aku, anak-anak kita yang memberitau, jawabmu.

Sini, akan aku ceritakan sesuatu, ajakku kepada istri dan anak-anakku.

“Cerita apa, Pak?” tanya anakku.

“Cerita penghapus luka,” jawabku.

“Bagaimana ceritanya?” tanya anakku lagi.

Di suatu pagi yang cukup cerah, Raja Hutan mengadakan perlombaan balap lari. Kuda, Babi, Rusa, Macan, dan Banteng sudah bersiap. Sebelum berlomba, mereka diberitahu jalur yang harus mereka lalui, kalau keluar, maka mereka dianggap gugur. Semua paham, maka dimulai lah perlombaan itu.

Di tengah pertandingan, Macam memimpin, yang diikuti oleh Banteng, lalu Babi, lalu Kuda, lalu Rusa. Di dekat jalur itu ada seekor Tupai yang sedang menyantap buah-buahan. Tupai itu tak tau menahu soal balapan, lalu melihat mereka yang sedang berlari, seperti sedang saling mengejar.

Tupai itu terkaget. Buah yang sedang dipegangnya jatuh saking terpananya. Sejak kapan Macan di kejar-kejar oleh Banteng? Sejak kapan Banteng dikejar-kejar oleh Babi? Sejak kapan Babi dikejar-kejar oleh Kuda? Sejak kapan Kuda dikejar-kejar oleh Rusa? Begitu yang ada dipikiran si Tupai.

Begitulah riwayat orang yang tidak tau dari mana sesuatu itu bermula dan sesuatu itu berakhir. Pungkasku mengakhiri Cerita Penghapus Luka.

Istri dan anak-anakku tertegun.

“Bisakah kau ceritakan bagaimana mula dan bagaimana akhirnya?” tanya istriku.

Mulanya Raja Hutan membutuhkan hewan yang berlari cepat. Tercepat dari yang cepat. Maka ia mengadakan lomba. Yang menang, akan dikasih hadiah dan misi.

Tapi dalam pertandingan, tentu kecepatan menjadi nomor dua, yang pertamanya seberapa ganas ia menakut-nakuti lawannya. Banteng enggan mendahului Macan karena saat hendak menyalip, lirikkan Macan menciutkan nyalinya. Pun demikian dengan Babi kepada Banteng, Kuda kepada Babi dan Rusa kepada Kuda.

“Terus, bagaimana akhirnya?” tanyamu lagi.

Akhir ceritanya, hanya Raja Hutan yang tau.

“Kita harus bagaimana?” desakmu lagi.

Kita yang tidak ikut bertanding, jangan ikut-ikutan bertanding.

“Tapi korbannya adalah suamiku.”

Aku terdiam sejenak, agak tersentak dengan ucapanmu.

“Dia akan masuk surga,” jawabku.

“Bagaimana kalau kelak kita yang menjadi korban?”

Insyaallah kita pun akan masuk surga, jawabku lagi. Yang kutau, hanya jawaban seperti itu yang dapat menenangkanmu. Aku ingin kau tenang. Biarlah orang-orang pintar yang tau segalanya, bukan orang-orang yang seperti kita.

Tuliskan Komentarmu !