Cerita Luka

SAVANA- “Ingat, tak ada yang dapat dipercaya di dunia ini selain dirimu sendiri.” Itu ucapan terkonyol yang aku dengar dari Luka, lelaki yang tidak suka baca filsafat tapi ucapannya hampir selalu filosofis.

Aku mengenal Luka saat tawuran antar mahasiswa dan polisi berlangsung. “Goblok, apa yang kalian lakukan? Polisi-polisi inikah yang sesungguhnya menjadi musuh kita? Jika kalian mati di sini, kalian akan mati konyol, goblok!” Begitulah yang diteriakkan Luka saat itu, yang lalu menjadi pusat perhatian bagi kami.

Bagi massa aksi kebanyakan, tentu Luka adalah orang yang tolol. Luka tak tahu duduk perkaranya yang langsung ambil kesimpulan. “Ini kan trik agar dimuat di media.” Begitu kilah beberapa teman yang suka main seruduk dengan polisi.

Begitulah, aku mengaguminya karena ketololannya, atau bahasa halusnya: kepolosannya, dan ia mau menyeruakkan suara-suara polosnya itu.

Adalah keberuntungan jika kini aku bisa dekat dengannya.

Aku bercerita kepada Luka jika aku sedang dirundung kecewa. Kemarin malam aku membeli nasi beserta lauknya untuk dijadikan makan sahur. Aku tahu di kediamanku ada seekor kucing, tapi kucing itu amat baik kepadaku. Ia bisa mengusir tikus-tikus kere itu. Ia pun dapat bermain-main denganku jika aku sedang kesepian. Terlebih, kucing itu tak berani memakan makananku sebelum aku memberikan kepadanya.

Namun subuh itu adalah subuh yang nahas. Si kucing mengobrak-abrik makananku saat aku terlelap tidur. Ia memakan sebagian lauknya, mungkin juga beserta nasinya sedikit, dan sisanya berserakan di sekeliling kamarku. Aku ingin mencekik kucing biadab itu, namun kucing itu sudah minggat, tanpa secuil pun pesan selain membuka genderang perang.

“Ingat, tak ada yang dapat dipercaya di dunia ini selain dirimu sendiri. Jika kau memilih untuk percaya, resikonya kau harus siap untuk kecewa. Begitulah peraturannya, Bung!”

Aku mengeluarkan rokok kretek dari saku. Satu batang aku sulut, sisanya aku taruh di antara aku dan Luka, sekaligus mempersilakan kepadanya jika ia pun mau. “Kau memilih yang mana?” tanyaku.

***

Saat Luka berusia remaja, ia sempat mencintai seorang perempuan. Cinta usia remaja memang cinta tanpa perhitungan, maka Luka pun mencintai dengan penuh semangat, tanpa pertimbangan akan diterima atau ditolak. Saat ada keputusan kalau cintanya tak mendapat tempat di hati si wanita, Luka tetap penuh harap dan terus menunjukkan harapannya, sampai ia dewasa dan sedikit berpikir.

Baginya, cinta orang dewasa adalah cinta yang rumit, yang membutuhkan sedikit akal dan pertimbangan, dan mau tak mau ia pun mulai berjalan ke arah sana. Ia kecewa dengan pertimbangannya, tentu saja, namun ia tetap percaya.

Kini Luka berharap dalam diam. Cinta yang sedikit memerlukan air mata selain kesabaran. Cinta yang tak masuk dalam akal warasnya, tak masuk dalam pertimbangannya, namun ia tetap berpegang teguh atas nama: percaya.

 ***

Luka ditakdirkan tak memiliki garis hidup yang lurus. Ia besar bersama tragedi, bukan teori. Hingga kini ia membenci bacaan-bacaan filsafat atau sastra atau sosiologi atau antropologi atau komunikasi atau pendidikan atau psikologi atau ekonomi atau yang lainnya. Luka hidup dari rumah ke sawah ke pantiasuhan ke sekolah ke terminal ke kantor polisi ke kampus ke pasar. Menurut perhitungan dan kewarasan akalnya, ia tak punya ruang untuk sekata cinta, cinta orang dewasa. Tapi tololnya, ia tetap saja masih percaya.

“Karena kecewa itu membahagiakan. Paling tidak aku punya kenangan.” timpal Luka.

“Jadi, aku harus memburu kucing itu?”

“Untuk apa?”

“Agar ia tahu bahwa aku sudah percaya padanya, namun ia telah mengecewakanku.”

Luka mengambil satu batang rokokku, lalu disulutya. “Kenapa kau ingin kucing itu tau bahwa kau percaya padanya? Berarti kah itu untuk si kucing?”

Aku menggigit bibirku. Aku tak bisa berkata lagi.

***

Luka memang tak suka bacaan-bacaan filsafat, tapi jalan hidupnya sudah seperti filosof kebanyakan: tragis namun sekaligus mencerahkan. “Kau adalah martil untuk zaman ini.” ucapku setelah banyak mendengar cerita tentang hidupnya.

“Kau ngomong apa? Aku gak ngerti!” jawab Luka sambil mengorek hidungnya dengan jari telunjuk.

“Aku ingin menyaksikan bagaimana kau mati.”

“Apa kau gila? Jika aku mati, berarti aku tak bisa bernapas lagi. Apanya yang istimewa?”

***

Luka meninggal karena kacelakaan. Waktu itu aku sedang pulang kampung, dan baru tau keesokan harinya.

Aku mendatangi kuburan Luka, dan memang tak ada yang istimewa dengan kematiannya. Katanya, waktu itu Luka sedang menuju ke suatu tempat, dan di tengah perjalanan ada sebuah truk yang menghantam motor bututnya. Luka hanya salah satu di antara 6 orang korban lainnya. Dan soal menuju ke tempat apa, hanya Luka yang tau.

***

Di suatu malam memang Luka pernah bercerita, “Walau manusia akan mati, tapi cinta tidak. Maka kematian manusia tidak akan mengurangi rasa cintanya, malah akan memperbesarnya.”

Baginya, jarak antara kehidupan dan kematian hanya sejengkal, dan kematian satu-satunya cara jika di dunia tak mendapat tempat. Aku kira ia akan mati bunuh diri, atau dengan cara heroik lainnya, ditembak mati karena mempertahankan ideologinya misalnya.

Luka, bagaimana rasanya bertemu Tuhan?

Tuliskan Komentarmu !

Nurdin A. Aziz merupakan anak bungsu bagi ibu kandungnya dan adik terkecil bagi kakak-kakaknya.