Cadar itu Prasangka

Ilustrasi/google

SAVANA- “Assalamu’alaikum..” Seorang perempuan berperawakan tinggi tiba-tiba datang ke sisi tempat dudukku.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku sambil mengulas senyum. Kuperhatikan garis matanya  menyipit, tanda ia membalas senyumku.

“Boleh duduk di sini?” tunjuknya pada kursi kosong disebelahku. “Silahkan,” jawabku singkat.

Sore itu, aku tengah mengikuti sebuah kumpulan anak-anak remaja. Seorang pemandu acara begitu asyik menjelaskan kegiatan-kegiatan yang akan kami lalui. Lelaki tinggi ramping dengan postur tubuh yang tegap, menjelaskan seluruh kegiatan dengan rinci, jelas dan elegan; pembawaannya santai namun tidak membosankan, tipe pemimpin yang bijaksana namun tegas menurutku.

Ruangan yang sangat luas ini hanya terisi oleh belasan orang. Tak jarang hening menjadi instrumen sesaat setelah sang mentor berhenti berbicara. Kuperhatikan kembali wanita yang duduk di sebelahku tadi, ia begitu khidmat mendengarkan lantunan-lantunan penjelasan ketua mentornya itu, dengan semangat ia membalas lontaran-lontaran pertanyaan darinya.

Setelah satu jam berlalu, sang mentor bergegas menutup acara karena waktu Magrib akan segera tiba. Sebelum beranjak untuk pulang, kulirikkan kembali mataku ke arah perempuan tadi.

“Hai… saya Fathy. Namamu siapa?” tanyaku.

“Linda, panggil saja Nda.” jawabnya sambil membungkuk sopan.

“Datang dari mana?”

“Baleendah” jawab Nda sambil sedikit menyipitkan matanya.

“Oh, ya? Kita sejalur. Mau pulang bareng?” rayuku.

Dia menggangguk. “Ah, lugunya” batinku.

Selama berkomunikasi dengan Nda, aku hanya bisa memerhatikan gerak matanya. Semua tubuhnya tertutup kain, kecuali mata dan telapak tangannya. Sebenarnya, sudah sangat lumrah aku melihat perempuan-perempuan yang bercadar. Terlebih, setelah gencar-gencarnya kajian dengan tema hijrah.

“Kakak masih kuliah?” tanya Nda membuyarkan diamku.

“Ngga, udah alumni. Kalau Nda?”

“Masih SMA. hhe”

Masyaallah, masih SMA semangat banget ngikut acara kayak gini, jauh lagi. Nda hanya menunduk malu sambil sedikit tertawa. Aku menyetop satu angkot kosong. Dengan ramah sang supir mempersilahkan kami untuk naik.

“Nda sudah lama pakai cadar?” tanyaku berbisik pelan sambil membuka jendela kaca angkot.

“Baru-baru ini, sih! He.”

“Diizinin sama orangtua?”

“Alhamdulillah orangtua mengizinkan, cuma kakak saya kan belum berkerudung, jadi kurang suka lihat saya bercadar.” jawab Nda.

“Hmm… di sekolah, kamu pakai cadar juga?”

“Kalau di sekolah, paling pakai masker.”

“Belajar di kelas pun pake masker? Ngga disuruh dibuka sama gurunya? Biasanya kan kalau di sekolah umum, ke kelas itu harus buka topi, jaket, atau semacamnya.”

“Nggak, alhamdulillah. Mereka udah pada tau kok, kalau aku ini biasa pake masker.”

“Oh… Kalau ada yang nanya nih, kenapa Nda kok pake masker terus? Jawab Nda apa?”

“Ya aku jawab lagi sakit aja. Hhe.”

Aku pun tertawa mendengar jawaban polosnya. “Ah.. kamu ini, masa tiap ditanya jawabnya sakit terus?”sindirku.

Ia pun tersipu malu.

***

Setengah jam sudah angkot menembus lalu lalang kendaraan. Macet dan bau asap knalpot menyatu dengan rentetan para penjual takjil. Di persimpangan jalan, gadis bercadar itu pamit turun dari angkot. Ia berdiri lama di sisi kaca angkot sang supir. Percakapan silih berganti antara ia dengan sang supir. Aku yang tengah asyik memainkan gadget tiba-tiba terperangah ketika gadis itu setengah berteriak, “Teh, ongkosnya udah dibayarin ya!”

“Hah? Ga usah!” jawabku cepat sembari setengah kaget.

“Udah Teh, assalamu’alaikum…” Gadis itu pun berlalu dengan cepat.

“Jazakillah…” teriakku dari dalam angkot sambil melambaikan tangan.

***

Tring…tring…tring…

Suara bunyi chat grup berdering banyak di ponselku. Adzan maghrib masih lama, dan aku hanya terduduk di serambi indekos menunggu kepulangan teman-teman sambil sesekali melirik pesan masuk. Banyak sekali chat-chat grup yang masuk; ada obrolan tentang bukber, info kajian, kegiatan ramadhan, hingga pemberitaan-pemberitaan yang sedang hits.

Aku terpaku pada obrolan orang-orang mengenai perempuan bercadar yang diturunkan dari bus karena dicurigai sebagai teroris. Aku jadi ingat beberapa hari lalu saat naik kendaraan umum bersama Linda. Bagaimana perasaannya sekarang melihat situasi hari ini?

Memang, akhir-akhir ini sedang heboh pemberitaan tentang teroris dan bom bunuh diri. Islam jadi perbincangan. Orang-orang yang berjanggut dan bercadar yang konon sebagai simbol dari Islam, selalu menjadi sasaran fitnah. Kenapa umat Islam secara keseluruhan harus ‘menanggung dosa’ karena segelintir umatnya yang berbuat makar? Kenapa yang bahkan tidak tahu apa-apa, harus ikut tercurigai, terintimidasi, bahkan terpersekusi?

Kugenggam erat handphoneku, kusentuh layar status. Apa boleh buat, hanya bisa lewat status aku menyuarakan kepedulian dan kemirisan hati melihat pemberitaan yang terjadi.

Ada beberapa orang yang melihat statusku. Tak lama suara handphoneku kembali berdering. Ada pesan masuk dari teman komunitas muslimku dulu. Sudah lama aku tak berbalas pesan dengannya. Rupanya ia membalas status yang kubuat barusan.

“Iya Teh, aku juga denger berita-beritanya. Sedih banget. Padahal aku sudah mantap untuk memutuskan bercadar, tapi keadaanya malah seperti ini.” pesannya dengan banyak emot sedih

Ah, dia seorang aktivis muda yang lekat dengan kegiatan-kegiatan keislaman. Aku bertemu dengannya saat menjadi relawan di sebuah komunitas yang kebanyakannya orang bercadar.

Ia dengan suara riangnya berujar padaku, “Ah, adem ya lihat orang yang bercadar. Aku sih masih belum siap, takut ga istikomah.”

Aku hanya tersenyum menimpalinya. Bukan hal yang mengagetkan lagi melihat isi pesannya seperti itu.

Dengan menarik napas panjang, aku mulai mengetik balasan untuk pesannya

“Dek, terlepas dari perdebatan tentang hukumnya, kalau kamu memang sudah yakin betul atas pilihanmu itu, gak usah takut selama kita ada di jalan yang benar. Karena takut hanya milik ia yang melawan kebenaran.”

Tuliskan Komentarmu !