Buku, Cinta dan Nasib Manusia

aku cinta buku

SAVANA- Saya mulai agak heran, kenapa penulis nyaris selalu diceritakan “oleh dirinya sendiri” dengan nada getir dan lapar, sebagai tuna-asmara yang selalu berselimut dengan kesunyian. Dan di buku ini salah satunya: Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M Dahlan.

Apakah dunia kepenulisan semengkhawatirkan itu? Bersetia pada kata-kata, tapi tertunduk lesu kepada cinta. Mungkin buku ini menyajikannya dengan terlalu naif, atau mungkin juga kelewat jujur. Ya, cinta sepertinya memang tak terlalu suka terhadap apa pun yang kelewat jujur.  Katanya harus ada seninya, katanya harus ada intrik mengibulinya.

Kehidupan penulis “yang ditulis oleh dirinya sendiri” mungkin salah satu jalan untuk menertawakan dirinya sendiri. Atau mungkin sebuah usaha agar terlihat eksis? Seperti kita tahu, kebanyakan penulis memang lebih suka bersemedi di dalam kesunyian, mengurung diri di kos-kosan butut beserta tumpukan buku-buku yang ditata semaunya.

Mahfud Ikhwan si penulis novel Dawuk dan sempat memenangi Sayembara Dewan Kesenian Jakarta pada Tahun 2017, menjadi cerminan si semedi itu, walau pada akhirnya kini ia berpasrah diri dengan mengunduh Instragram seperti yang ia ceritakan dalam kolomnya di Mojok yang ia beri judul: Terlambat.

Ya, ia mengakui keterlambatannya karena memang dari sebelumnya ia sudah menyadari, bahwa suatu saat nanti, mau tidak mau, ia harus melakukannya, seperti yang sudah dilakukan juga oleh Eka Kurniawan dan Puthut Ea. Penulis sudah harus mulai terbuka untuk bermain media sosial, walau pada akhirnya, harus kita akui, gambar postingannya sangat mengkhawatirkan. Tapi tentu bukan gambar itu yang kita nantikan, yang kita harapkan hanya bisa lebih mudah untuk bercakap-cakap dengannya.

Tapi apakah memang setiap penulis semengkhawatirkan itu? Tentu tidak. Banyak juga penulis yang berpenampilan keren dan jadi panutan dengan ratusan ribu follower. Mereka nyaris selalu bersedia membocorkan kiat-kiat suksesnya, dengan syarat mengikuti kelas kepenulisan dengan harga tertentu. Ya, ingatkan pepatah: “tidak ada makan siang yang gratis”.

Barangkali novel Muhidin M. Dahlan ini hanya anomali saja. Salah ia sendiri yang terlalu bersetia pada buku dan kata, sedang banyak hal di luar sana yang bisa ia kerjakan, tentu dengan gaji dan kedudukan yang lebih lumayan dari pada mengurung diri di kamar beserta buku-buku kumalnya. Dengan kedudukan yang agak sedikit terhormat, dengan gaji yang paling tidak tetap, juga bisa mendatangkan cinta seperti yang ia dambakan.

Atau mungkin ia ingin menggambarkan hal lain, bahwa bersetia pada buku dan bekerja keras bukan kunci dari kesuksesan. Yang dibutuhkan dalam hidup hanya sedikit bisa mengibuli. “Kalau kita tak bermain curang, maka kita yang akan dicurangi.” Bukan kah begitu rumusnya?

Ada yang bisa bertahan dan melawan, namun tak jarang juga yang binasa perlahan. Dan ia (tokoh dalam novel ini), paling tidak bisa bertahan, walau dalam keadaan yang cukup mengenaskan. Dan hal yang tidak pernah sangka sebelumnya, bahwa dunia buku dan penerbitan juga ternyata bisa dipenuhi dengan intrik dan siasat. Si penjual buku bajakan bisa lebih kaya dari si pembuat bukunya –yang sudah dengan bersusah payah menggadaikan malam-malamnya dengan penuh kesunyian.

Memang seharusnya saya tidak perlu sebaper ini, toh itu hanya sebuah novel, dan tentu penulisnya dengan sangat leluasa untuk mengkhayal sekehendak hatinya. Tapi saya pun tak bisa menutup mata, bahwa intrik rekaan dalam sebuah novel yang sudah diatur di dalam plot-plot tertentu, tak lebih kejam dari intrik kenyataan yang menjadikan nyawa manusia sebagai statistik belaka.

Ya, inti dari novel ini memang tentang sebuah perjuangan yang setia pada kata walau hidupnya terus melarat, tentang sepotong sajak cinta yang terus ia tulis dibuletin tiap minggunya walau tak pernah terbalas. Sepertinya mengambil semangat dari ending tetralogi buru: Kita sudah kalah, tapi kita sudah melawan, dengan cara sehormat-hormatnya.

Memang kedengarannya sedikit heroik. Tapi bukankah itu menunjukkan bahwa kebaikan belum tentu menang saat melawan kejahatan? Bahwa perjuangan tak selalu berakhir dengan kesuksesan? Lalu kenapa, kita masih saja selalu menuntut kemenangan karena menganggap diri di pihak yang baik? Kenapa kita masih saja berharap kesuksesan karena meresa sudah berjuang dengan begitu hebatnya?

Atau mungkin, sepertinya kita sudah termakan omong kosong si Pak Bos Besar itu, yang terus saja merekayasa bahwa nasib kita, ditentukan oleh diri kita sendiri.

Tuliskan Komentarmu !