Bisakah Dilan Corner Diganti menjadi Pojok Literasi?

sumber gambar: jabarnews.com

SAVANA- Sepekan terakhir ini Dilan menjadi buah bibir di berbagai kalangan masyarakat di Kota Bandung. Dilan dibicarakan mulai oleh ABG, Emak-Emak, Para Politisi hingga Guru Ngaji.

Siapa Dilan? Dilan adalah nama tokoh dalam novel best sellernya Ayah Pidi Baiq; sang Presiden Republik The Panas Dalam. Dilan digambarkan sebagai anak muda dengan kehidupan yang keras, berfikir kritis, sekaligus pandai merangkai kalimat-kalimat puitis nan romantis.

Usai sukses sebagai sebuah buku, maka Dilan pun diangkat ke layar lebar. Sesuai dugaan, film ini booming, Dilan 1990 sukses menarik 6 juta penonton duduk manis di sejumlah bioskop di Tanah Air.

Karena sukses besarnya, maka pihak produser pun menyiapkan kelanjutan Dilan 1990, yakni Dilan 1991. Beda dengan Dilan 1990, Dilan 1991 memang digarap dengan nampak jauh lebih serius. Tak kurang seorang Menteri Pariwisata, Gubernur Jabar dan Walikota Bandung pun hadir dan memberika support penuh pada agenda Premiere Film ini.

Tak hanya.sambutan dalam bentuk silaturahmi di Pendopo Walikota Bandung dan Gd. Negara Pakuan sebagai Rumah Dinas Gubernur Jabar, Dilan Corner pun direncanakan dibangun di area GOR Saparua. Dan hal inilah yang kemudian memunculkan polemik.

Sebagian masyarakat lalu menyampaikan kritiknya; dari mulai menanyakan siapa sosok Dilan yang dianggap mendapat privilege untuk dijadikan nama Taman, hingga menyayangkan sikap penyelenggara negara -dalam hal ini Gubernur- yang dianggap terlalu lebay dalam menyikapi Premiere Film Dilan 1991 ini.

Secara pribadi, saya lalu tergelitik untuk mencoba menganalisa sejumlah kritik yang ada di ruang publik. Hal ini saya lakukan untuk bisa menyelami apa yang menjadi kekhawatiran publik terkait fenomena Dilan ini. Setelah saya mencoba mengikuti sejumlah diskusi di sejumlah linimasa media sosial hingga perbincangan Emak-Emak di Grup WA, akhirnya saya menyimpulkan ada 3 alasan utama masyarakat menolak Dilan Corner.

Pertama, kelompok yang menganggap Gubernur lebay. Bagi kelompok ini, Dilan bukan siapa-siapa, jadi tak usah dimuliakan dengan dibuatkan Monumen/Taman/Pojok dan atau sebangsanya. Bagi kelompok ini, masih banyak tokoh di dunia nyata yang jelas kontribusinya untuk masyarakat yang lebih berhak dibuatkan taman oleh para pengambil kebijakan.

Kedua, kelompok yang mempersepsikan Dilan sebagai anak geng motor yang urakan dan doyan pacaran. Bagi kelompok ini, kebijakan membuat Dilan Corner dipandang sebagai ancaman atas ikhtiar mereka yang tengah berupaya menjaga tata nilai dan adab pergaulan anak muda. Bahkan lebih jauh dari itu, kelompok ini memandang Dilan Corner dipandang sebagai kampanye pacaran yang selama ini mereka tentang habis-habisan.

Ketiga, kelompok yang memandang apresiasi terhadap Dilan 1991 sebagai tindakan politis. Hal ini mereka kaitkan denga posisi Gubernur sebagai Ketua Dewan Pengarah TKN 01 Jawa Barat, mereka menganggap hingar bingar Premiere Dilan 1991 sebagai upaya Paslon 01 untuk merebut ceruk pemilih Milenial.

Berhadapan dengan sejumlah kritik ini, saya secara pribadi sangat berharap pemerintah arif dan bijaksana dalam merespons kritik ini. Saya memahami bahwa tujuan awal Dilan Corner adalah sebagai wujud kampanye pemerintah dalam membangun budaya literasi. Selain itu, pemerintah ingin juga agar lebih banyak film yang memotret lanskap kota-kota di Indonesia agar kelak bisa berkontribusi pada meningkatnya sektor pariwisata.

Bila tujuannya sebagai bentuk kampanye literasi, maka saya sangat bermohon hentikanlah polemik yang tak penting ini. Mundurlah selangkah dengan mengganti DILAN CORNER menjadi POJOK LITERASI. Support pojok literasi ini dengan hadirkan buku kertas atau buku digital di Pojok tersebut.

Jadikan Pojok Literasi ini sebagai tempat berkumpul, tempat ngopi sekaligus tempat berdiskusinya para penggiat Literasi. Saya yakin Ayah Pidi Baiq tak akan kecewa dengan penggantian nama ini. Beliau kita kenal sebagai pribadi yang easy going. Dan saya teramat yakin bahwa martabat pengambil kebijakan pun tak akan runtuh dengan langkah ini.

Langkah ini adalah langkah yang saya tawarkan untuk menghentikan jari-jari yang terus mengetik kata, kalimat dan wacana yang kurang berfaedah. Sungguh di hadapan kita masih banyak hal penting yang harus kita selesaikan; masalah ummat dan masalah bangsa.

Tuliskan Komentarmu !