Betapa Kurang Humorisnya Kita

betapa tak humorisnya kita

SAVANA- Di sebuah pagi pada hari Minggu silam, saya diliputi perasaan kecewa yang amat sangat. Bagaimana tidak, hari yang sudah dicatat di lauh mahfudz sebagai hari libur internasional, justru dikotori oleh ulah teman-teman Whatsapp Group (WAG) saya. Mereka memulai pagi tersebut dengan berdebat soal politik.

Saya menjadi putus asa. Teman-teman ini apa tidak paham, bahwa hari Minggu itu waktu yang tepat untuk santai, menemani anak-anak yang bermain di halaman rumah atau sekedar duduk manis sambil minum kopi di warkop terdekat. Bukan mengawali bangun tidur dengan saling adu argumentasi tentang politik, apalagi kalau bukan saling mempertahankan kesucian idola politiknya dan menyerang idola politik pesaingnya.

Semua pasti paham, persaingan politik itu tidak akan pernah selesai, selama kursi empuk kekuasaan belum direngkuhnya. Perbedaan tersebut memang bisa disatukan jika mereka mau membangun koalisi baru. Tapi usaha tersebut hanyalah sementara saja. Alias tidak permanen, karena memang politik itu selalu semi permanen, seperti halnya lapak pedagang kaki lima.

Sekarang koalisi yang baru dibangun tersebut dipenuhi janji-janji kebersamaan, tetapi lusa bisa saja dibubarkan (dirobohkan) ketika ada Satpol PP – wujudnya kepentingan politik yang lebih gurih – yang merazia. Jadi di dalam koalisi yang baru dibangun pun, aroma persaingan dan perdebatan tak akan hilang seratus persen.

Karena itu saya benar-benar sakit hati membaca kalimat-kalimat debat teman-teman saya di WAG tersebut. Awalnya saya hendak melampiaskan sakit hati saya dengan jalan ekstrim. Misalnya, akan saya posting gambar-gambar binatang semacam monyet, kuda nil, jerapah atau buaya di tengah perdebatan tersebut, supaya mereka merasa terganggu. Namun akhirnya urung saya lakukan.

Saya memprediksi pasti orang-orang yang seperti saya, yang sering merasa terganggu dengan ulah teman yang arah politiknya selalu menyamping, jumlahnya banyak pula. Seperti saya, orang-orang yang pada aslinya punya pilihan politik tapi tidak ingin ikut larut terlalu menyita waktu, pasti pula memendam rasa jengkel. Dan itu lumrah saja, bahkan perlu ada orang-orang yang seperti itu di Republik ini. Orang-orang yang tidak ke mana-mana itu sangat penting perannya bagi kerukunan dan persahabatan antar anak bangsa.

Oleh karena itu, sebisa mungkin harus ada kiat-kiat yang jitu guna menghilangkan sakit hati tersebut. Kita tak mungkin selalu mengikuti debat-debat atau komentar-komentar antar pendukung idola politik yang tak selesai itu, sebab apa pentingnya buat hidup kita. Lebih baik kita mengalihkan ke hal-hal lainnya, agar rasa sakit hati bisa teratasi. Tentu saja tidak melupakan semangat kita terus berkarya demi bangsa. Salah satu contoh kiat tersebut ialah mengakses, menikmati atau bahkan menciptakan humor.

Humor menurut saya memang sangatlah penting. Terutama berguna menanggulangi situasi yang penuh tekanan, minimalnya bagi saya dan beberapa orang yang sepaham dengan saya. Humor merupakan kiat jitu untuk keluar dari kemelut, dalam hal ini pusaran perdebatan politik yang berlarut-larut.

Dalam buku Road To Self Actualization, Dan Miller menyinggung, bahwa memang manusia itu kadang kala terlalu larut dalam situasi yang itu-itu saja. Sehingga kerap ia merasa kurang tenang, bahkan stres. Ujung-ujungnya rasa bahagia pun sulit mereka raih. Di sinilah diperlukan usaha yang riil untuk menghilangkan ketidaktenangan tersebut. Salah satu caranya dengan mengalihkan diri dari aktifitas awal ke aktifitas yang baru. Tidak usah memikirkan lagi aktifitas atau masalah lama yang menghantui. Gantilah dengan hal baru yang bisa menyegarkan pikiran.

Dalam konteks suasana perpolitikan akhir-akhir ini, kiat dari pakar psikologi tersebut bisa diaktualisasikan dalam wujud humor seperti yang saya maksud sebelumnya. Kita sudah beberapa tahun ini terkekang dengan tekanan politik di beberapa ruang hidup kita. Terutama media sosial yang selama ini terlalu banyak berisi debat dan komentar politik yang tidak bermartabat tersebut.

Hinaan, cercaan dan kebencian saling dihempaskan kepada masing-masing kelompok pecinta idola. Itu terjadi di setiap waktu. Merambah di hampir semua media sosial: Twitter, Facebook dan Whatsapp. Sehingga siapa pun seperti tidak bisa menghindari sama sekali tayangan perdebatan tersebut. Dan itu sangat memicu kejengkelan, bahkan stres.

Pikiran stres karena jengkel, maka obatnya adalah humor. Obat yang sepertinya memang mujarab, yang wajib diminum orang-orang yang jengkel atau stres karena terlalu larut berdebat. Atau diminum orang-orang yang seperti saya, yang stres akibat sakit hati karena suasana batin yang dikotori debat politik antar teman.

Gus Dur dalam kata pengantar di buku Mati Ketawa Cara Rusia menjelaskan dengan sangat gemilang tentang humor ini. Menurut Gus Dur, rasa humor dari sebuah masyarakat adalah cerminan dari daya tahannya dalam menghadapi kepahitan dan kesengsaraan.

Kemampuan untuk menertawakan diri kita sendiri merupakan bentuk pemberitahuan bahwa kita ini telah seimbang dalam merespon tuntutan hidup dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran adanya keterbatasan diri di pihak yang lain. Oleh karena itu, humor sebenarnya sublimasi dari kearifan masyarakat.

Baca Juga: Nestapa dalam Jenaka

Tuliskan Komentarmu !