Bertoleransi dalam Mengemukakan Sikap Politik

toleransi politik
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Sekarang jamannya media sosial. Mau ngoceh, ngeksis, jualan, pamer  dan lain sebagainya, kita bisa mengandalkannya di media sosial. Segala macam bisa tumplek blek jadi satu dalam media sosial. Di facebook misalnya yang menyediakan ruang panjang untuk ngoceh ngaler-ngidul. Apalagi sekarang musim politik. Kita mau bikin status politik dukung si A, si B, si C, si dukan,  si anu, boleh boleh saja kok. Mau status panjang, pendek, atau modal klik share doang.

Hari ini kita menawarkan  dagangan, besok kita buat status puja-puji kepada cawapres yang gantengnya nggak ketulungan. Sejam lalu kita posting foto-foto piknik di luar negeri, eh dua jam kemudian kita bikin status harga cabe naik trus ngomel-ngomel ke rezim pemerintah yang katanya tidak pro rakyat. Tahun lalu kita bikis postingan puja-puji ke Jokowi, tahun ini kita terkesima dengan kegentengan cawapres Prabowo. Terus siapa yang melarang? Ada?

Selama kita tidak melanggar undang-undang dan hak orang lain, toh sah sah saja.

Lalu kenapa kadang,  eh sering, kita terganggu dengan postingan orang lain tentang keberpihakannya pada pilihan politik? Aku cebong.  Aku kampret. Aku jokower. Aku prabower. Aku milih nomer satu. Aku milih nomer dua. Aku pro Adian Napitupulu. Aku pro Fadli Zon. Aku love  Tsamara Amany. Aku sukaakk Hanum Rais. Aku gak suka Ratna Sarumpaet. Aku sukanya Fahri Hamzah.

Terus, apa masalah kita?

Derita kita adalah perasaan kita sendiri. Yang menginginkan segala sesuatu harus sesuai kemauan kita. Apalagi terhadap teman yang tadinya diam-diam lalu nampak jelas menunjukkan sikap politiknya. Dan ternyata sikap politiknya tidak seperti yang kita harapkan. Kita merasa berseberangan. Kita kecewa dan merasa teraniaya. Seperti kamu patah hati ditinggal kekasih pas lagi sayang-sayangnya. #Eaaaaa.

Kenapa bisa begitu? Toh sama halnya dengan kita, orang lain juga berhak untuk itu.  Kita menuntut orang lain untuk bersikap sama dengan kita. Kita ingin orang lain mengikuti pilihan politik kita. Bahkan kita kadang memaksa orang lain untuk bersikap netral aja lah.

“Ndak usah sok-sokan ngomong politik lah”, ujar kita, kepadanya kalau pendapatnya ternyata beda sama kita.  Padahal temen kita, eh orang lain itu, tahu betul dan mengikuti jejak digital kita di media sosial. Ke mana jempol kita diarahkan, ke mana komen kita berpihak. Dia tahu.

Kalau wong edan bebas, media sosial ini bebas terbatas.  Begitu kan, gaess?

Segala hak kita dibatasi oleh hak orang lainnya. Begitu pun sebaliknya. Di negara hukum, patokannya gampang saja, yaitu undang-undang. Selama tidak melanggar, ya masih sah kok!

Sedangkan media sosial sendiri sudah menyediakan fasilitas untuk kita yang merasa terganggu dengan postingan orang. Bagi kita yang baperan, fasilitas itu harusnya dimanfaatkan. Di facebook misalnya, ada fitur untuk meng-unfollow teman. Jadi status masih berteman, tapi tanpa mengharuskan kita untuk mengikuti postingan dia. Yaaaah, mirip kalian yang jalan bareng tanpa harus jadian.  Iya, kan?

Ada juga fitur untuk unfriend, yaitu memutuskan pertemanan yang otomatis di antara kalian tidak bisa saling mengikuti postingan. Ibarat orang pacaran, ya putus. Pahit? Ya, itu kan pilihan. Mau terus bersama tapi tersiksa, atau membebaskan diri dari ikatan? Ehmm.

Nah, ada lagi fitur untuk memblokir. Ini paling ekstrem. Saat di mana tombol diaktifkan lalu seolah-olah kita memasukkan seseorang ke dalam kotak yang tak tersentuh dan terlihat.  Mau seriuh apa pun dia berkicau, kita tak mendengarnya. Seperti ada dinding tebal memisahkan. Aman. Selamanya…. kecuali, dia membuat akun baru lagi, lalu menyamar untuk berteman lagi, dan lagi.. dan lagi.  Unfollow,  unfriend,  blokir.  Begitu seterusnya sampai Power Rangers datang ke bumi untuk menyelamatkan kita.

Jadi inti dari permedsosan itu adalah diri kita sendiri. Segala rasa baper itu kita sendiri yang mengelola. Kita tak bisa mengendalikan postingan orang lain. Lha wong mengendalikan postingan diri sendiri saja kadang ya bablas, ingin dihapus lagi beberapa menit kemudian karena takut si dia salah tafsir. #Eaaa.

Jangan sampai rasa egois kita malah menunjukkan kekenyolan kita. Misalnya gini. Kita  kadang, eh sering, memposting status berbau politik kubu tertentu,  njempolin status politik kelompok tertentu, menyebar hoaks politik, ikutan nyinyir di postingan yang mendiskreditkan kelompok politik tertentu dan sejenisnya. Lalu tiba-tiba kita sibuk bilang ke temen kita,  “Eh, lo jangan ngomong politik dong. Bikin nggak nyaman. Nanti pada bertengkar. Aku tuh nggak suka, tauuk! Yang netral netral aja laaaahh.”

Kan nganu.

Orang lain bisa KZL, bahkan bisa jadi temen kita langsung bengak bengok tepat di kuping kita nyanyiin lagu Terbang Tenggelam-nya band NTRL.

Salam Netraaaaallll!

Tuliskan Komentarmu !
muhimmah ardian

Orang Lasem yang terdampar di Tana Luwu. Istri dari seorang suami, dan ibu dari tiga orang anak. Sering mengaku sebagai pengangguran yang kerja nggak kerja tetap minta gajian.