Bersama untuk Membaca, Berkarya untuk Mengada

dok pribadi

SAVANA- Sabtu siang selepas dzuhur (9/4/19) menjadi hari yang berbeda bagi siswa-siswi SMP-SMA IT Mekarsewu (Garut), pasalnya mereka kedatangan tamu dari Komunitas Gubook Kita (Jakarta), Komunitas Rindu Menanti (Bandung) dan Mahapala Jirim (Bandung). Biasanya anak-anak masuk kelas lagi dan sebagiannya melaksanakan ekstrakulikuler, tapi kini mereka ke aula untuk bertemu kakak-kakak dari Jakarta dan Bandung.

“Brighten Their Day”, begitu tulisan dalam spanduk yang ditempel di depan anak-anak. Mungkin tak semua anak mengetahui artinya, tapi yang pasti, semua merasakannya. Ya, hari itu menjadi hari yang cerah bagi mereka, entah itu karena mendapatkan ilmu yang mencerahkan, entah karena mendapat komik baru yang ciamik, entah karena kakak-kakaknya yang ganteng dan cantik hingga menjadi idola baru mereka, atau mungkin juga karena guru yang seharusnya masuk di kelas mereka galak hingga mereka bisa lepas dari amarahnya.

Yang pasti, semua anak terlihat cerah wajahnya, terlebih setelah melihat 6 dus buku besar dari Gubook Kita dan setumpuk buku dari Mahalapa Jirim yang sebentar lagi akan mereka miliki. Buku (selain buku-buku pelajaran sekolah) adalah barang indah yang belum terjamah oleh mereka.

Materi pertama diisi oleh teman-teman dari Gubook Kita. Sebelumnya, anak-anak tak pernah menyangka akan ada orang Jakarta yang mengunjungi mereka. Ini adalah sejarah baru bagi mereka. Biasanya anak-anak melihat orang Jakarta hanya dari layar kaca, tapi kini ada di hadapan mereka, lalu memberi dunia dan harapan baru.

Teman-teman dari Gubook Kita membagikan komik dan tempat pensil kepada anak-anak yang berani mengangkat tangan dan menjawab, lalu memberi materi tentang menariknya menjadi seorang pembaca yang baik.

“Sejarah manusia memang tak lepas dari literasi. Dari Nabi Adam a.s yang diajari nama-nama oleh Allah s.w.t hingga wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad s.a.w yang bersabda: Bacalah!” ujar Pak Rosihan, pembina Rindu Menanti sekaligus savanapost.com.

Pembaca yang baik pada akhirnya tak melulu akan menjadi ‘orang besar’. Pembaca yang baik adalah orang yang senantiasa berbahagia dengan prinsip kebaikan yang dipegangnya, bagaimana pun keadaan ekonomi maupun status sosialnya. Kita sering terjebak, menjadi pembaca berarti harus selalu menjadi tenar dan menjadi panutan orang, hingga kita sering putus asa ketika ketenaran tak juga didapat setelah membaca berpuluh-puluh judul buku.

Materi kedua diisi oleh pak Roni, sesepuh Mahapala Jirim. Untuk bisa lebih mengenal beliau, kita bisa membacanya lewat buku autobiografi Santri Badeur dan Ngungudag Guratan Takdir. Beliau menceritakan bagaimana dulu, ketika masih menyandang status santri, bergelut dengan buku-buku. Dalam sehari, ia menyisihkan 8 jam untuk membaca buku non-pelajaran.

“Membaca adalah menunda kebahagiaan,” begitu ujar Pak Roni. Dalam prosesnya, membaca memang hal yang paling menjengkelkan. Tak selamanya buku yang kita baca bisa dicerna dengan mudah, tak selamanya mata bisa bertahan lama menatap kata-kata, dan tak selamanya kantong kita cukup untuk membeli buku baru. Dalam membaca, memang membutuhkan kesabaran yang ekstra.

Namun tak selamanya juga membaca semenakutkan itu. Ada gairah tersendiri jika buku yang kita baca bisa langsung menyentuh hati, menjernihkan pikiran, meluaskan pandangan dan memanjakan imajanasi. Dan kebahagiaan itu akan datang jika kita bisa mengetahui dan meyakini hal-hal yang sebelumnya buram. Kebahagiaan adalah pengetahuan dan melakukan hal-hal kebaikan.

Sesi pertama diakhiri dengan simbolis penyerahan buku-buku.

Sesi kedua “dilan”jutkan tengah malam, oleh Pak Rosihan kepada panitia acara, anak-anak Komunitas Teater Tandatanya (KTT). Anak-anak KTT pula lah yang nantinya akan menjaga buku-buku itu dan mulai menyebar-luaskannya lagi kepada masyarakat.

Untuk menjadikan seseorang mencintai membaca, memang bukan hal yang mudah. Mengajak dan memberi petuah-petuah bijak saja memang tidak akan cukup, apalagi jika dengan cara memaksa. Menjadi contoh yang baik bisa dijadikan cara yang baik, begitu ujar Pak Rosihan, jadikanlah orang-orang di sekitar kita iri kepada kita karena seringnya melihat kita membaca dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain karena bacaan, hingga orang tersebut ingin mengikuti jejak yang sama.

Barangkali bukan karena minat baca masyarakat yang rendah hingga Indonesia menduduki peringkat ke 65 dari 66 negara dalam hal berkarya soal literasi, tapi mungkin karena akses bacaan (buku) yang memang sangat sulit bagi masyarakat. Jika pun ada satu dua buku di sekitarnya, barangkali buku-buku itu kurang menyentuh hatinya, menjernihkan pikirannya atau memanjakan imajinasinya.

Selanjutnya Pak Rosihan membimbing anak-anak KTT untuk mulai berani berkarya (dalam hal ini menulis). Memang satu dua dari mereka ada yang sudah mulai membiasakan diri, tapi kebanyakannya masih belum percaya diri dan merasa bahwa dirinya tidak punya bakat dalam hal itu. Anak-anak sudah punya bekal yang cukup, yakni belajar Bahasa Indonesia di sekolahnya; tahu apa arti kata, kalimat dan paragraf. Pak Rosihan membimbing dari hal yang mudah, yakni menuliskan apa yang mereka lihat, lalu pengalaman mereka sendiri.

Ada yang menuliskan tentang sepatunya, tantang kampungnya, tentang kelasnya sendiri, tantang ibunya, tentang guru yang mereka sukai, dan lain sebagainya, pokoknya hal-hal yang dekat dengan diri mereka sendiri. Diawali dengan pengarahan di paragraf pertama, kedua, ketiga, lalu membiarkan anak-anak larut dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri.

Tepatnya pukul tiga dini hari, anak-anak sudah menyelesaikan tulisannya. Ada yang menyelesaikan tulisannya tiga halaman, ada juga yang dua halaman. Hal yang belum terbayang sebelumnya ternyata mereka bisa sekuat itu; bertahan melawan rasa lelahnya setelah tenaga dan pikirannya dikuras sedari siang. Ada yang sudah menduga hasilnya dan cukup percaya diri, ada juga yang geleng-geleng kepala lalu seolah berujar, “Eh kok, ternyata saya bisa menulis sepanjang ini juga, ya!”.

Pak Rosihan mempunyai prinsip, soal bagus dan tidak itu urusan belakangan, terlebih hal itu bisa sangat relatif. Yang terpenting anak-anak mulai berani menyeruakkan isi hatinya dan pikirannya sendiri, mengevaluasi diriya sendiri.

Buku adalah jendela dunia, begitu kita sering dengar. Tapi tak semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa lebih dekat dengan buku. Sebagian dari kita masih ada saja yang lebih suka mencaci maki minat baca rakyat Indonesai yang katanya masih rendah, tinimbang berikhtiar untuk menyampaikan buku-buku kepada masyarakat.

Tuliskan Komentarmu !