Bencana Alam dan Pelajaran untuk Masa Depan

bencana alam dan pelajaran
sumber gambar: tibunnews.com

SAVANA- Akhir-akhir ini masyarakat diresahkan dengan pemberitaan gempa dan tsunami, dari mulai gempa di Bali, Lombok, Palu, Donggala hingga gempa di Cirebon. Di balik bencana yang beruntun ini tentunya ada hikmah yang dapat kita petik, karena segala hal yang  terjadi di bawah langit adalah atas kehendak Allah s.w.t, dan pada hakikatnya mengintai siapa pun dan kapan pun.

Perkembangan teknologi yang semakin canggih pun, sejatinya tidak bisa memprediksi secara akurat apa yang akan terjadi di masa mendatang, termasuk untuk mendeteksi musibah gempa dan tsunami. Oleh karenanya, bencana alam dalam kacamata Islam tidak berhenti pada sebatas teori ilmiah saja, tidak pula hanya berkutat meneliti gesekan lempengan bumi penyebab gempa dan mencari solusinya.

Pada hakikatnya, kehendak Allah s.w.t melampaui teknologi manusia, secanggih apa pun alat yang dibuat manusia untuk mendeteksi atau bahkan meredam bencana alam tersebut. Tangan manusia tidak akan mampu untuk menahan ketetapan-Nya. Oleh karenanya, disamping ikhtiar kita dalam menjaga dan merawat lingkungan, kita pun dituntut untuk terus berikhtiar menjaga keluhuran nilai Islam dalam lingkungan tersebut.

Islamisasi sains mengajarkan bahwa penjelasan-penjelasan atau teori ilmiah yang sampai kepada kita, jangan sampai menghilangkan dan menggerus nilai luhur yang telah diajarkan oleh Rosulallah s.a.w. Bencana alam harus kita jadikan sebagai dzikrullah, pengingat atas ke Mahakuasaan Allah s.w.t, bahwa Allah yang menciptakan bumi ini amat sangat mudah untuk membalikkan tanah yang sedang kita pijak sekarang.

Allah s.w.t berkedudukan sebagai pencipta, sedangkan bumi dan nyawa kita adalah objek ciptaan-Nya yang berada dalam genggaman-Nya, sehingga jika Allah berkehendak, Ia bisa mengambilnya kapan saja.

Berangkat dari pemahaman tersebut, maka muslim sejati tanpa harus ditakut-takuti dengan praduga bencana alam yang akan terjadi nanti, sudah memiliki kesiapan dan kesiagaan dalam dirinya. Muslim sejati mengimani bahwa musibah atau bencana adalah bentuk cobaan sekaligus peringatan agar senantiasa kembali kepada jalan kebenaran.

Dan kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf ayat 168).

Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al-A’raf ayat 97 dan 98).

Dalam sudut pandang Wahyu Allah, musibah dan bencana ada kaitannya dengan dosa atau maksiat yang dilakukan oleh manusia-manusia pendurhaka. Setiap manusia pasti pernah berbuat dosa, dan merupakan kehendak Allah lah untuk mengampuni, memperingatkan di dunia ataupun menangguhkan siksaan-Nya.

Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura ayat 30).

Namun disisi lain, musibah atau bencana juga dapat menjadi kifarat bagi hamba Allah s.w.t yang menyikapinya dengan sabar dan menerima takdir Allah dengan lapang dada. Sesuai sabda Rosulallah s.a.w, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah menimpa seorang mukmin suatu kesulitan, cobaan, gelisah dan kesedihan, kecuali Allah hapuskan darinya dengan aneka musibah itu semua kesalahannya sampai duri yang menusuknya pun diganjar seperti itu.” (HR. Bukhari)

Ayat-ayat tersebut menggambarkan betapa indah perkara orang mukmin, segala hal yang menimpanya baik dalam bentuk kenikmatan mau pun musibah, memiliki dampak dan ganjaran yang baik selama disikapi dengan sikap terbaik. Maka syukur dan sabar menjadi kunci utama yang harus dimiliki oleh seorang mukmin.

Maka, bencana alam yang menimpa beberapa kawasan di tanah air ini harus kita jadikan sebagai pengingat dan teguran keras dari Allah s.w.t, agar kita senantiasa memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Allah dan kualitas hubungan kita dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Allahu a’lam

Baca Juga: Air Mata Perempuan

Tuliskan Komentarmu !