BENAR KAH, INI HANYA KEKONYOLAN?

SAVANA- Nak, apa yang kamu dapatkan dari puncak gunung?”

“Tidak, Pah! Aku tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lelah yang begitu hebat dan dingin yang begitu menyengat.”

“Lantas kenapa Nak, kamu begitu senang untuk naik gunung?”

“Entalah, Pah! Aku hanya merasa di sini hidupku begitu manja, tak seperti saat aku mendaki gunung”

“Manja kenapa, Nak? Papah merasa tak begitu memanjakanmu, tak mengabulkan setiap permintaanmu, Nak!”

“Bukan itu maksudku, Pah! Aku merasa di sini terlalu dimanjakan oleh uang, teknologi atau pun kenyamanan yang dibuat-buat. Dengan uang aku bisa makan yang enak atau pun minum yang segar-segar, dengan uang aku pun bisa merasa terhormat di depan teman-temanku. Aku sadar kalau uang bukan segalanya, tapi aku lebih sadar lagi kalau di sini segalanya butuh uang, dan memang begitulah kenyataannya di sini. Aku pun merasa kita sudah menggantungkan hidup pada teknologi. Seolah-olah tanpa teknologi kita tidak bisa melakukan apa-apa, tanpa HP canggih seolah-olah hidup di sini tak ada maknanya, tak ada yang bisa dipertontonkan di dunia maya. Di sini hanya disusahkan untuk mendapatkan uang dan teknologi yang canggih, Pah!”

“Kenapa kamu Nak? Papah rasa pikiranmu konyol sekali. Apa dengan kamu naik gunung, semua akan berubah? Apa dengan pikiranmu itu, bisa mengubah dunia ini? Sudahlah Nak, daripada bersusah payah untuk sampai ke puncak dan pulang tidak membawa apa-apa, lebih baik kamu nikmati saja hidupmu seperti yang lainnya”

“Tidak, Pah! di sini aku tidak bisa menikmati hidupku. Aku merasa tidak bermakna sedikit pun. Aku tak punya uang yang banyak untuk dihormati teman-temanku, aku tak punya teknologi canggih untuk dipemerkan di dunia maya. Hanya di puncak gunung aku bisa menikmati hidup dan merasa bermakna, Pah! Di sana, teman-temanku menghormatiku bukan karena uangku yang banyak, bukan pula karena kedudukanku, tapi mereka menghormatiku karena aku manusia, sama dengan mereka, dan setiap manusia harus dihormati, tak perduli dengan kedudukan atau pun kelas sosialnya. Di sana juga aku mengerti yang akan didapatkan setelah perjuangan, bukan sekedar keindahan atau pun negeri di atas awan, tapi pengalaman yang begitu menguras emosi dan tenaga, terlebih itu semua bukan sekedar fiktip belaka. Aku pun tak mengharapkan semua atau dunia ini berubah, hanya saja aku mengharapkan pikiran-pikiran mereka yang berubah terhadap kami”

“Apa maksudmu, Nak? Lantas kenapa kau tidak tinggal saja di gunung? Kalau menurutmu lebih bermakna dari pada di sini?”

“Itu mungkin yang menjadi alasannya aku begini, Pah! Kalau aku tinggal di puncak gunung, aku akan merasa kalau di sini lebih bermakna. Seperti orang desa yang ingin ke kota dan orang kota ingin di desa. Dua hari saja aku di gunung, aku mengerti betapa bermaknanya air, hanya segelas air mentah yang aku ambil dari sungai. Terlebih, mereka sahabatku yang mau berbagi walau mereka sendiri membutuhkannya, yang rela menunggu hanya untuk bersama-sama. Mereka yang membuat aku begini, yang membuatku merasa bermakna saat berada di gunung”

“Apa yang membedakan sahabat-sahabatmu di sini dengan sahabatmu di gunung, Nak? Hingga kau begitu membanggakan mereka sahabatmu yang bersamamu naik gunung?”

“Aku hanya merasa mereka, sahabatku yang bersamaku naik gunung, tak membatasi diri, tidak menutup wajah-wajah mereka dengan kemunafikan. Mereka menampilkan apa adanya dan tak merasa rendah atau terhormat di hadapan yang lainnya. Hingga kami mengerti kalau kekurang bukan untuk dijelek-jelekan, cacian mereka bukan karena ingin mencaci, pujian mereka bukan untuk menyindir. Entahlah Pah, yang pasti aku merasa begitu berarti di hadapan mereka, mereka pun begitu berarti di hadapanku, walau hanya untuk saat berada di gunung saja”

“Lantas kenapa Nak, kalian tak punya tempat di kampusmu sendiri, kalian tak diharapkan keberadaannya oleh mereka?”

“Aku tak tau alasannya yang pasti Pah, mungkin mereka ingin nyaman duduk di tempat mereka yang empuk untuk mengatur kebijakan, tapi kenyaman mereka di rasa terganggu oleh kegiatan-kegiatan kami. Mungkin juga mereka takut tersaingi oleh kreatifitas mahasiswanya, hingga tak merestui hadirnya UKM baru, dan hanya satu-satunya pun tak diberi tempat singgah, dan jelas harapan mereka kami lenyap”

“Terus apalagi Nak? Apa hanya kerena itu?”

“Mungkin selanjutnya sama dengan ucapan Papah tadi, mereka menganggap pikiran dan kegiatan kami hanya kekonyolan saja. Mereka hanya melihat dari apa yang tampak, dan jelas kami hanya menampakan apa adanya, tak dibulat dengan kemunafikan. Mereka hanya melihat yang dianggapnya jelek, dan tak merestui hadirnya kejelekan atau kekurangan dari manusia, sepertinya mekera lebih mengagum-ngagumkan kesempurnaan, walau penuh bulatan kemunafikan”

Dua tahun dai berjalan di bumi, tanpa telepon, tanpa kolam, tanpa hewan peliharaan. Kebebasan akhir. Seorang ekstremis, seorang pengembara, yang rumahnya adalah jalanan. Sekarang, setelah 2 tahun mengembara dan mengalami petualangan yang hebat, perjuangan tanpa akhir untuk membunuh –kepalsuan di dalamnya- dan penutup revolusi spiritual dengan baik. Tak lagi diracuni oleh peradaban -dia lari- dan berjalan sendiri menyusuri daratan agar hilang di alam liar. –Alexander Supertramp mei, 1992-.

20-05-2014

Tuliskan Komentarmu !