Belajar Merdeka dari M. Natsir

belajar merdeka dari m natsir

belajar merdeka dari m natsir
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Langit biru cerah bagai kanvas, awan-awan putih berlarian, matahari terbenam bagai lukisan nan indah. Sepulang ngajar saat di perjalanan, saya memperhatikan sekumpulan bapak-bapak sekitar 6 orang sedang sibuk mengangkat kayu. Setelah saya perhatikan seksama, ternyata bapak-bapak tersebut tengah mengangkat kayu panjang untuk panjat pinang persiapan esok hari. Masih di perjalanan pulang, saya terus menelusuri gang-gang.

Ada yang berbeda kali itu, tampak tak seperti biasanya. Gang-gang para warga lebih indah. Gang-gang itu dihiasi aneka embel-embel yang menarik. Indahnya.. setiap gang dihiasi bendera-bendera kecil merah putih, ditambah ada bunga-bunga indah walau terbuat dari kertas minyak, dan  juga lampu-lampu kecil terbuat dari plastik es yang diisi air campuran perwarna; ada warna merah, hijau, kuning. Wah, rajin banget yah yang buatnya.

Kita rela membuat hiasan-hiasan untuk memeriahkan hari agung negara kita. Acara-acara seru pun turut mewarnai. Masih lekat sekali dalam ingatan sewaktu saya masih kecil, saya begitu gembira mengikuti perlombaan dengan teman-teman saya. Saya ikut lomba karung, kerupuk, memasukan paku ke dalam botol, sampai tinju air pun saya ikut. Ditambah saya juga dapat hadiah dari lomba-lomba yang saya ikuti, hehehe.. jadi makin seneng deh.

Paling tidak, seperti itulah apa yang dirasakan anak-anak kita sekarang ini saat menyambut HUT kemerdekaan RI. Tak hanya anak-anak, para orang tua pun ikut berpartisipasi di dalamnya. Setiap desa pun memiliki ciri khas tersendiri dalam merayakannya. Ada yang menggelar karnaval, upaca bersama, sampai perlombaan anak-anak dan orang tua. Semuanya digelar demi memeriahkan kemerdekaan negeri kita.

Namun terbesit kah dalam hati kita, apakah semua itu memiliki makna bagi diri kita? Jujur, hati saya pun ikut bertanya sekaligus berdialog sendiri. Namun saya pun setuju bahwa kegiatan rutin perayaan tersebut bisa menimbulkan efek positif seperti mendukung untuk terciptanya silaturahim antar warga. Berkumpulnya anak-anak dengan riang gembira sebagai ekspresi ikut berbahagia atas kemerdekaan negara kita. Namun di balik euforia itu, sudahkah kita semua sudah memaknai kemerdekaan?

Teringat salah satu tokoh revolusioner kita, M.Natsir yang menyatakan, kemerdekaan itu membawa pertanggunganjawaban langsung bagi bangsa. Kemerdekaan membawa seribu satu soal yang harus dipecahkan sendiri. Kemerdekaan membawa kesadaran akan kekurangan-kekurangan dan kekuatan-kekuatan  kita yang sesungguhnya. Kemerdekaan membawa ujian. Ujian membukakan jalan bagi perkembangan kekuatan pribadi lahir dan batin, perseorangan atau bangsa. Kesempatan untuk menempuh ujian itu, itulah dia: kemerdekaan.

Mari kita pandang berbagai lini di negara kita, apakah masih jaya dalam berbagai bidangnya, seperti bidang politik, perdagangan, pendidikan, dan yang paling penting ketauhidan? Sebab tauhid adalah pangkal dari segala keberhasilan. Ia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita selaku umat Islam.

Natsir menyebutkan bahwa kemerdekaan membawa seribu satu soal yang mesti dipecahkan. Sebab Allah pasti akan menguji keimanan setiap orang, sebagaimana Allah pun akan menguji setiap bangsa akan keimanannya (Al-Ankabut: 2-3).

Dengan demikian, semestinya kita dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan ini tidak hanyut dalam instrumen-instrumen semata, tetapi hanyut pula memaknainya. Kita merasa ikut bertanggungjawab atas negara kita.

M Natsir pun berpesan pula, zaman yang akan datang akan menjadi lebih berat dan lebih sulit. Kita harus meneruskan perjuangan untuk menunjukkan kepada pejuang-pejuang yang telah lebih dahulu meninggalkan kita ke alam baka, bahwa kemerdekaan yang telah mereka berikan itu tidak kita sia-siakan, dan kemerdekaan yang telah mereka tebus dengan jiwa-raganya itu benar-benar akan menjadi wasilah ke arah Negara yang berkebajikan dan diliputi keridhaan Ilahi. Aamiin.

Baca juga: Menyambut Hari Kemerdekaan

Tuliskan Komentarmu !