Beginilah Kronologi Terbongkarnya Drama Ratna Sarumpaet

Kronologi Terbongkarnya Drama Ratna Sarumpaet
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- “Ratna Sarumpeat: Ternyata Saya Pencipta Hoax Terbaik”. Tulis sebuah judul berita. Lho lho, sebentar, ada apa ini?

Wuih… di media sosial juga ternyata ramai membicarakan persoalan Ratna Sarumpaet yang buka-bukaan perihal kebohongannya -kalau dia itu dianiaya sama orang yang anonym- kepada calon presiden (capres) Prabowo. Gak malu apa buka-bukaan aib di media? Saat siaran langsung lagi? Bener-bener nih emang mbuk Ratna, kandel kulit bengeut!

Tapi, tunggu dulu. Kita mesti berbaik sangka kepada mbak Ratna. Sebenarnya ada apa, sih? Kenapa mbak Ratna mengakui dan bangga atas kesalahannya?

Sebelum kita mengulas permasalahan mbuk Ratna, wan-kawan cari minum dahulu deh, atau jika ingin lebih santai, seduh teh atau kopi, lalu fotoin di SnapGram dengan caption: “Baca savanapost.com dulu ah, ditemani secangkir kopi, soalnya lagi rame nih bahas mbak Ratna yang lagi buka-bukaan, hehe.”

Jadi gini kronoligisnya. Pada hari Senin 1 Oktober 2018, politikus Gerindra, Rachel Maryam, menulis twit: “Innalillahi bunda @RatnaSpaet semalam dipukuli sekelompok orang. Saat ini keadaan babak belur. Hei kalian gak punya ibu? Lahir dari apa kalian?”

Lalu Rachel mengirim lagi twit yang kedua: “Setelah dikonfirmasi, kejadian penganiayaan benar terjadi.. hanya saja waktu penganiayaan bukan semalam melainkan tanggal 21 kemarin. Berita tidak keluar karena permintaan bunda @RatnaSpaet pribadi, beliau ketakutan dan trauma. Mohon doa.”

Lewat Cuitan Rachel lah kita semua dapat informasi bahwa mbuk Ratna dikeroyok sampai babak belur. Entah bagaimana mbuk Ratna memberi tahu Rachel bahwa dirinya telah dikeroyok orang. Mungkin mbuk Ratna ngechat dan mengirim foto selfie babak belurnya via Whatsapp kepada Rachel.

“Rachel, bunda dikeroyok nih sama orang. Nih liat fotonya, babak belur kan? (ditambah emot murung nan sedih)”. Atau mungkin juga saat Rachel sedang asik membuka Status Whatsapp (SW) di sela kesibukannya, ternyata pada waktu bersamaan mbuk Ratna mengupdate foto selfie babak belurnya di SW, otomatis Rachel pencet SW mbuk Ratna dan kaget, langsung klik Reply.

“Bunda, itu kenapa?” tanya Rachel ditambahi emoticon kebingungan.

“Ini Nak Rachel, Bunda dikeroyok orang. Bunda dilempar ke pinggir jalan hingga bagian kepala bunda robek.” Diakhiri emot babak belur

Ketika itu Rachel kaget lagi, terus buka twitter dan mencuit rasa kesedihan kepada mbuk Ratna dan kegeramannya kepada penganiaya. Saat menunggu proses pengiriman twitnya, Rachel membuka WA  dan ngechat mbuk Ratna lagi.

“Lho, kok bisa Bund? Emang kejadiannya kapan?”tanya Rachel ditambah emot kebingungan dan emot shock.

“Pas bunda pulang bersama temen yang dari Sri Langka dan Malaysia, setelah menghadiri konferensi pada tanggal 21 September, taxi yang bunda tumpangi tiba-tiba dihentikan di tempat yang jauh dari keramaian lalu di tarik tiga orang ke tempat gelap dan dihajar habis-habisan. Tapi jangan dulu dikasih tahu sama orang ya kronologinya”.

Rachel pun mengirim cuitan lagi untuk mengkonfirmasi waktu pengeroyokan.

Tapi, itu hanya mungkin lho ya, mungkin! Hanya imajinasi liar saya saja.

***

Esoknya setelah twit-twit Rachel itu di posting, Nanik selaku Ketua Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, membenarkan adanya penganiayaan yang membuat mbuk Ratna trauma. Pembenaran Ninik itu disampaikan di kediaman Prabowo, tepatnya di Jalan Kartanegara, Jakarta Selatan, pada Selasa 2 Oktober 2018.

Ternyata eh ternyata, kisah mbuk Ratna ini mendapat tanggapan dari sejumlah politisi, salah satunya Mahfud MD. Melalui twitternya, Mahfud menyatakan bahwa kejadian tersebut sungguhlah biadab, dan pasti polisi bisa mencari, menangkap dan mengadili pelaku.

Mahfud tidak hanya memberi tanggapan saja, tapi ingin lebih tahu separah apa luka mbuk Ratna. Ditemuilah seorang dokter alhi bedah, untuk ditanyai luka mbuk Ratna. Dokter tersebut mengatakan ada kejanggalan pada luka bagian mata mbuk Ratna. Ngetwit lah Mahfud:

“Itu kita kutuk, kalau benar tetjadi. Tapi kalau hanya mainan politik ya pemainnya kita kutuk. Saya baru ketemu seorang dokter ahli bedah. Katanya luka di kanan kiri kelopak mata agak aneh krn sama. Kita tunggu saja lerkembangannya”.

Meskipun Mahfud sedikit typo dalam menulis twitnya, tapi secara keseluruhan Mahfud curiga kepada mbuk Ratna.

Wah seru juga ya cerita mbuk Ratna ini. Agar lebih santai, saya persilahkan man-teman Savana untuk minum air atau kopi di hadapannya. Kalau bisa, sampai bunyi “sruput” nya terdengar oleh tetangga.

Mari kita lanjutkan.

Lalu berperanlah para jurnalis dalam kasus ini. Atas dasar kepo seorang jurnalis untuk mendapatkan informasi, dikonfirmasi kebenaran pengeroyokan mbuk Ratna kepada Polres Jabar.

“Belum ada laporan, itu sumbernya dari mana dan siapa, pastikan dulu,” tegas Truyono melalui sambungan telepon, pada hari Selasa 2 Oktober 2018.

Jurnalis pun bingung, mungkin berkata: “Wah kok, sekelas aktivis yang paham terhadap hukum gak ngelaporin sih kepolisi kalau dirinya dikeroyok. Hmmmm, perlu diselidiki nih.” Bergegaslah jurnalis mencari data fakta ke bandara. Dan ternyata pihak bandara membuat shock kembali si jurnalis.

“Enggak benar ah, itu enggak pernah kejadian di bandara.”

Kokon katanya pihak bandara sudah menanyai kepada sejumlah pegawai dan orang yang ada di bandara.

“Teman FC (staf), teman security, OIC (officer in charge), personal, enggak ada (kejadian itu). Kan itu disebutin tanggal 21 tuh, enggak ada kejadiannya.” tutur Andika Nuryaman selaku Executive General Manager Angkasa Pura II.

Jurnalis pun makin haus data dan fakta dengan kasus yang penuh teka-teki ini. Cuss, berangkatlah mereka ke bagian Humas, Polri Irjen (Pol) Irjen Setyo Wasisto, dan Irjen angkat bicara.

“Kita melakukan pengecekkan di sana (rumah sakit di Bandung), enggak tahunya yang bersangkutan sudah ada di rumah, dan katanya bertemu dengan pak Prabow. Katanya, ya!”

Ternyata pihak polisi juga telah memeriksa rumah sakit di Bandung dan tidak menemukan pasien bernama Ratna Sarumpaet. Wowww, wowwww, teka-teki ini sudah terpecahkan, Gan! Abisin kopinya, biar lebih rilex dan nggak ngambek sama kasus mbak Ratna yang njelimet dan memalukan ini.

Akhirnya pada hari Rabu, 3 Oktober 2018, mbuk Ratna mengaku saat jumpa pers, bahwa dia merekayasa isu pengeroyokan dirinya di Bandung. Dia pun meminta maaf kepada banyak pihak, termasuk yang telah dia kritik.

“Saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang selama ini mungkin dengan suara keras saya kritik dan kali ini berbalik ke saya. Kali ini saya pencipta hoax terbaik ternyata, menghebohkan semua negeri. Mari kita semua mengambil pelajaran, bangsa kita dalam keadaan tidak baik. Segala sesuatu yang tidak penting mari hentikan.” kata mbuk Ratna.

Sungguh, jika saya mengalami keadaan seperti mbuk Ratna, pasti akan merasakan malu yang sangat hebat. Seperti ingin menggali lobang seperti cacing dan menetap di bawah tanah untuk selamanya.

Tapi kita juga patut apresiasi atas keberanian mbuk Ratna saat mengungkapkan kejujurannya. Karena jika semua lapisan masyarakat di negeri ini jujur, pasti bakalan adem ayem, dengan syarat tidak mengulangi kebohongan lagi. Kita pun harus memaklumi, ada saatnya manusia itu butuh perhatian, tapi jangan kaya mbuk Ratna juga kelesss sampe menghebohkan penjuru negeri. Yang standar saja lah; mencari perhatian orang tua, pacar, guru, sahabat, dan yang lainnya dengan menunjukan prestasi yang jujur, jauh dari unsur kebohongan.

Nah lalu, bagaimana tanggapan Rachel yang menjadi korban penipuan mbuk Ratna? Wah, kecewa gak ya dia ditipu sama rekan seperjuangannya?

Ternyata Rachel pun terperangah. Mantan seniman teater itu telah menipu dirinya. Lalu Rachel pun mengirim cuitan ke twitter miliknya.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun, Sandiwara apa ini? Kenapa kau permainkan hati nurani kami? Kenapa harus berbohong?” Twit itu diakhiri dengan hashtag #RATNASARUMPAET

Tentu drama ini akan terus berlanjut. Ini baru setengah babak. Jangan pada pulang dulu, ya.

Benar apa yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma dalam buku obloran politik Jokowi, Sangkuni, Machiavelli (2016): “Media, terutama media berita, membutuhkan drama, dan politik memberikannya.”

Baca Juga: Silence; Formalitas Agama dalam Ketegunan Iman

Tuliskan Komentarmu !