BBM, Demontrasi dan Demokrasi Kita

Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA“Walau sebenarnya aksi demonstrasi mahasiswa sudah tidak begitu berpengaruh pada kebijakan pemerintah, tapi paling tidak televisi dan linimasa kita gaduh oleh perlawanan. Ya, perlawanan yang anarkis, tak beradab dan barbar, -katanya.”

Konon demokrasi kita semakin berkembang. Pemimpin bisa berselfi ria dengan rakyat, pejabat sudah saling adu argument di tweet, pembangunan dipertontonkan di instragram, dan kaum proletar mencurahkan gagasannya di facebook. Sedang Youtube? Untuk nonton Dik Nissa Sabyan saja.

Kita memang punya pemimpin yang begitu santai; tebar senyum kapan saja, suka keliling naik motor, tak canggung temenin cucu jalan-jalan, suka pakai jaket yang menandakan di lemarinya tak hanya ada jas dan kemeja, juga suka antri untuk menonton konser musik. Tapi pemimpin kita tidak begitu humoris agar rakyatnya masih dapat tertawa dikala paceklik, dan juga tidak begitu religius untuk menuntun agar rakyatnya percaya bahwa di atas kekuasaannya ada yang lebih berkuasa.

Kini harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik lagi. Diam-diam. Tak ada diskusi. Tak ada demontrasi. Pemerintah sudah banyak belajar dari yang sudah-sudah, bahwa diskusi dan demontrasi tak bisa membendung kenaikkan harga BBM; hanya menyita waktu, menyita perhatian: mubazir.

Kalua harga BBM sudah ditetapkan naik, rakyat bisa apa? Ya, bikin status di facebook, IG Stories dan tweet. Semua sudah dirasa cukup. Rakyat puas, pejabat pulas. Demokrasi kita adalah demokrasi maya.

Tentu sudah tak akan ada lagi demontrasi; demontrasi yang barbar, injak pagar dan bakar-bakaran. Paling ada juga demontrasi yang santun, jalan-jalan dekat monas, membela agama masing-masing. Apa gema “takbir” untuk kaum papa akan hilang dari jalanan? Duh Gusti, takbir yang ini dikatai barbar.

Mulai saat ini tak usah lagi memojokkan mahasiswa. Mahasiswa manusia biasa juga yang kadang ingin senang-senang, kadang ingin kencan, kadang ingin nonton tralala yeyeye. Kaum terpelajar adalah mereka yang mau belajar, mau berkorban, mau menjadi abu; walau sejatinya ia tukang buruh pikul di pasar.

Kenaikkan harga BBM tanpa sosialisasi hanyalah satu soal dari pusaran soal-soal lain. Tenagamu jangan sampai habis untuk mencela pemerintah. Pikiranmu jangan hanya terpaku pada like, komen dan subscribe. Perjuangan tak se-maya itu!

Demontrasi memang hanya satu alat atau jalan untuk menyeruakkan aspirasi. Tapi pada jalan itu ada lintasan sejarah yang panjang, ada kenangan yang sudah tertulis pada buku-buku tebal; tentang bau aspal yang dilintasi orang-orang, tentang peluh tak sedap yang keluar dari badan, tentang persahabatan dengan Pak Polisi yang kadang-kadang menempeleng juga.

Apa demontrasi maya –dengan mengukuhkan tanda tangan petisi- dapat menggantikan itu semua? Jika demontrasi dan demokrasi kita sudah maya, lalu apa yang kita harapkan dari dialog dan diskusi? Atau mau kerja, kerja dan kerja saja?

Tuliskan Komentarmu !