Baper dalam Secangkir Kopi

secangkir kopi dan baper
Sumber gambar: viva.co.is

SAVANA- Hai pemoeda-pemoedi Indonesia! Saya menulis di sini bukan sebagai mandataris Presiden, bukan sebagai pemimpin besar Revolusi Indonesia.

Saya menulis sekadar sebagai penyambung lidah diri sendiri. Saya menulis di sini terutama untuk membuktiken bahwa menulis adalah kebiasaan. Menulis bukan bakat atau hal-hal lain yang berhubung teguh dengan apa itu hereditas.

Duhai pemoeda-pemoedi Indonesia! Menulis bukan milik anak-turunan Pakualaman belaka, bukan milik turunan Eyang Ronggowarsito semata.

Camken dalam diri kita masing-masing, bahwa menulis adalah kebiasaan yang biasa-biasa saja, akan tetapi menghasilken hal yang tidak biasa.

-Bukan Bung Karno-

Menuliskan deretan rangkai kata-kata di atas mengingatkan saya akan suatu hal tempo dulu, semasa saya masih semester awal kuliah. Saya diajak oleh kawan-kawan organisasi ekstra universiter melakukan aksi massa turun ke jalan, untuk menolak keras pertemuan yang akan dilakukan Pak SBY dengan beberapa sejawat pasar globalnya di Bali.

Waktu itu sedang hangat-hangatnya pembahasan mengenai pasar bebas dan merumuskan paket Bali, untuk memudahkan akses transaksi secara bebas ekonomi kapitalis. Seperti umumnya mahasiswa yang suka ke kiri-kirian, ya bacaan kiri, ya gerakan kiri, isunya tak jauh-jauh dari soal kapitalisasi, privatisasi, kapitalis birokrat dan imperialis pasar.

Nah, sebelum saya berada di jalanan bergabung bersama kawan-kawan, selama menikmati jarak tempuh dari kampus saya menuju kampus utama sebagai titik kumpul, saya mendengarkan pidato-pidato Bung Karno sambil menyetir sepeda motor, hingga lumayan hafal dengan kata dan iramanya. Maka saya sering memakai logat Bong Karno ketika orasi di hadapan kawan-kawan organisasi yang lain, agar sedikit terkesan ada titisan darinya.

Hai pemoeda-pemoedi Indonesia! Janganlah kalian mudah baper. Mungkin dia sedang bosan, dan kebetulan di situ ada kamu. Camkan itu!

***

Baper sebagai kata istilah ejaan gaul remaja mileanial ini memang benar-benar dilan-da gandrungisme. Baper sudah sedemikian familiar dan masih dianggap sebagai yang tren dan gahol.

Apakah penggunaan kata baper itu salah atau buruk? Tentu tidak. Setiap pilihan kata atau diksi adalah menyesuaikan khalayak bahasa atau kondisi. Tapi apa jadinya jika dalam makalahmu menuliskan kata baper? Wah wah, boleh jadi makalahmu dicap sebagai yang tidak menaati scientific frame.

“Ini makalah atau surat cinta untuk Milea?” tanya dosenmu sambil membenar-benarkan letak kacamatanya.

Memang sebagai manusia yang masih mau hidup di bumi Indonesia, alangkah baiknya memahami pada laras bahasa mana kita menggunakan diksi yang baku, dalam kondisi seperti apa kita memilih kata-kata yang santai, dan ketika berbicara dengan siapa atau menulis di mana kita bisa leluasa menggunakan diksi slang sekalipun.

Pula jangan pernah kita melupakan bahasa Ibu atau bahasa daerah, sebab apalah kita tanpa pijakan primordial. Bukan soal penganut primordialism lantas tak ber-bhinneka, akan tetapi keberagaman adalah sebab macam-macam keunikan yang saling sorak-sorai. Indahnya pelangi karena bermacam-macam warna, bukan?

Baper sebagai kata dan baper sebagai perasaan, tentu berbeda. Baper sebagai perasaan, menurut saya pada kondisi tertentu sangat penting. Semisal ketika meracik kopi. Kopi yang dihidangkan dengan sajian baper, dengan yang tidak, akan menghasilkan cita rasa dan aroma yang berbeda.

Meracik kopi disertai perasaan, beberapa cirinya adalah sebelum kamu meracik kopi, step by stepnya sudah ada dalam benakmu. Mulai dari merebus air, memasukan kopi dan gula ke gelas, mengucurkan air ke gelas, mengaduk, mencium aromanya, hingga kamu menyeruputnya.

Maka konsepsi dalam benak itu membuktikan bahwa kamu adalah orang yang serius meracik kopi; penuh penghayatan, tidak mandeg pada visualisasi di benak atau nalar.

Ketika kamu membuka kran untuk mengambil air bersih, kamu hati-hati, tidak grasa-grusu. Menaruh panci di atas perapian tidak asal bruk, tetapi ditempatkan di posisi yang pas. Memasukan sendok demi sendok kopi dan gula ke dalam gelas dengan tidak asal tuang, tetapi penuh ukuran, supaya partikel-partikel kopi dan gula tidak ‘kaget’ ketika bertemu, seolah mereka dipertemukan atas dasar keridaan Tuhan.

Air mendidih sudah mencapai seratus derajat selsius, dan kamu tuangkan air tersebut ke dalam gelas dengan pelan-pelan, hingga menimbulkan suara kucuran yang merdu, seperti dalam gua: berirama. Dan usahakan cukup satu kali kucuran, jangan berkali-kali. Hal ini agar antar partikel air yang satu dengan yang lain saling berjabat tangan.

Ketika mengaduk pun, usahakan dari kanan ke kiri, atau berlawanan dengan arah putar jarum jam. Lho, mengapa? Pertama, sebab kita berusaha menyesuaikan dengan thawaf yang tengah berhaji, yakni mengelilingi Ka’bah dan putarannya berlawanan dengan arah jarum jam. Kedua, Albert Einstein pernah berkata bahwa Tuhan itu tidak suka bermain judi. Maksudnya, bahwa Tuhan merencanakan dan menciptakan semesta ini bukan tanpa perhitungan yang pasti.

Kita tahu unsur terkecil benda adalah atom, dan inti atom adalah proton dan neutron, sedang elektron-elektron yang memutarinya adalah dengan putaran yang berlawanan dengan arah jarum jam. Gerak semua matahari adalah dari timur ke barat, dan bila ditilik melalui paradigma dua dimensi, timur berada di kanan, barat berada di kiri, utara berada di bawah, dan selatan berada di atas, maka gerak semu matahari adalah dari kanan ke kiri atau berlawanan arah putar jarum jam. Begitu pula arah gerak planet-planet mengelilingi matahari.

Oleh sebab itu, mengaduk sebuah racikan kopi dari kanan ke kiri atau berlawanan dengan arah putar jarum jam, yaitu agar menyesuaikan dengan kehendak Tuhan menciptakan semesta ini -supaya cita rasa kopi kita pun bernas Ilahiyah. Selamat mencoba!

Lho, baper untuk si dia-nya gimana? Maksudnya si ‘dia’ yang jadi lawan pulitik.

Untuk pupulitikan: untukmu urusanmu, dan untukku urusanku. Camkan itu, wahai putera-puteri Indoneisa!

Baca Juga: Politik Warung Kopi

Tuliskan Komentarmu !