Balada Negeri Penyamun

balada negeri penyamun
sumber gambar: kompasiana.com

SAVANA- Adakah sesuatu yang salah dengan negeri ini? Kalau ada, lantas apa? Apa memang sudah menjadi hukum alam bahwa setiap generasi bangsa ini –mau tidak mau- harus menerima akibat dari kelalaian founding father mereka? Entahlah, yang jelas –sekarang- kita harus bagaimana?

Mungkin, sekelumit pertanyaan di atas pernah terbersit dalam benak kita. Ada sebuah tanda tanya besar yang bersarang dalam pikiran kita ketika dihadapkan pada sebuah realitas bangsa ini. Realitas hidup yang ironi, cenderung utopis dan mengarah pada sarkasme kehidupan yang tak sedikit pun mendekati kata seimbang.

Banyak kita saksikan dengan mata kepala sendiri, keadilan di negeri ini seolah jauh dari keberpihakan bagi mereka yang memerlukan. Belum usai satu peristiwa, telah muncul peristiwa yang lainnya. Seolah setiap peristiwa yang terjadi tak pernah usai, di usut tuntas sampai ke dasarnya. Ada semacam ironi kehidupan yang bersenandung di negeri ini. Di satu sisi negeri kita terkenal dengan negeri kaya, subur dan penuh dengan potensi alam. Namun, di sisi lain kekayaan yang dimiliki seolah tak mampu memenuhi hajat hidup masyarakat banyak.

Aneh memang, ironi ini terus hidup dan terus berkepanjangan. Para elite bangsa ini tak mampu membuktikan bahwa kedigjayaan bangsa dan negara dengan segala potensi yang dimilikinya. Apakah ini kutukan? Atau memang permainan para elite? Entahlah hanya mereka ( baca: para elite yang bermain) dan Tuhan yang tahu.

Sebagai bagian dari elemen bangsa ini, tentu saya merasa jemu dengan keadaan bangsa yang kian lama kian mengkhawatirkan. Di negeri ini, sedikit pun tak menampakkan keadilan, keseimbangan hidup antara mereka yang beruntung dan tidak beruntung. Realitas yang tercermin menunjukkan bahwa bagi mereka yang punya kuasa, kurawa dan uang tentu apapun dapat didapat. Dari mulai apartemen mewah sampai dengan penjara yang diubah bak apartement.

Namun, sebaliknya bagi mereka yang hanya mengandalkan perjuangan dan keyakinan hidup tanpa modal yang menyetainya, tentu ketidakberuntungan yang didapat. Lantas apakah kita harus diam?  Tentu tidak, kita harus mulai berpikir ekstra untuk menujukkan pada para elite di atas bahwa hidup bukan sekedar kemapanan dan kelanggengan status, lebih jauh hidup adalah apa yang kiranya dapat mendatangkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Seringkali kita melihat ketidakbecusan para pemegang kendali kuasa dalam menyelesaikan permasalahan ini.  Di lain pihak, sering pula kita saksikan mereka yang hanya mampu berkoar-koar mengomentari kinerja pemerintah tanpa ada solusi yang konstruktif. Artinya, keduanya (baca:pemegang kuasa dan para komentator) hanya bisa bicara tanpa bertindak.

Padahal jikalau kita meminjam pendapat Syukriadi Sambas bahwa sebaik-baik ucapan adalah apa yang kemudian dilakukan, dan seburuk-buruk ucapan adalah ucapan yang tidak berbekas hanya berlalu sahaja. 

Balada Hukum

Permasalahan hukum di negeri ini tak pernah usai. Para pemegang kekuasaan yuridis seolah hanya bermain dalam lintasan harapan rakyat jelata yang memimpikan keadilan. Lucunya, banyak kita saksikan ketelanjangan para pemegang kendali hukum di depan publik. Mereka (para elite hukum)  seolah menepuk air di dulang terpecik muka sendiri. Maksud hati mengungkap kebobroka hukum, ternyata mereka sendiri yang terbukti menjadi pemain di belakang layar kasus hukum itu sendiri.

Kasus hukum yang satu belum tuntas, sudah muncul kasus hukum yang lain. Kasus Century belum usai, muncul kasus Susno Duadji. Kasus mafia hukum belum beres, muncul lagi Gayus si penguasa pajak. Apakah seperti ini keadaan negeri yang memegang kuat supremasi hukum? Para elite hukum hanya mampu menyayat hati rakyat dengan mempertontonkan kemunafikan. Hukum bisa di beli. Siapa yang mampu beli maka punya kendali. Alhasil, rakyat jalata lah yang harus menelan pil pahit ketidakadilan ini.

Balada Sejahtera

Harusnya, yang mempunyai hak untuk sejahtera adalah mereka (rakyat jelata). Tapi realitas berkata lain, justeru merekalah (para elite pemerintah) yang merasakan kesejahteraan itu. Demi kebersahajaan para pejabat, pemerintah tak merasa bimbang untuk menurunkan anggaran yang besar guna melengkapi fasilitasa para pejabatnya. Dari mulai fasilitas kantor, rumah, mobil, tunjangan pokok, tunjangan jabatan sampai dengan tunjangan liburan.

Sementara di lain dimensi kehidupan, para pengemis, gelandangan, kaum miskin, anak terlantar berjuangn sekuat tenaga demi kelangsungan hidupnya. Sesuap nasi harus dibayar dengan kehilangan sebuah nyawa. Para elite duduk terdiam dengan fasilitas lengkap, sementara tunawisma bergerak ke sana-ke sini demi sesuap nasi.

Di samping itu, seolah penderitaan tak pernah usai bagi mereka (rakyat jelata) melalui permainan awak media, para elite mencoba memunculkan stigma negatif bagi meraka yang hidup hanya dengan mengharap belas kasihan orang lain; mereka (gelandangan) dianggap pemalas. Rakyat hanya jadi korban keserakahan para elite yang berkuasa. Apakah ini gambaran negeri yang subur – makmur  dengan potensi alamnya? Apakah ini gambaran kesejahteraan negeri ini?

Balada Sosial

Lihatlah, mereka yang punya uang dapat leluasa keluar masuk rumah sakit tanpa kendala. Mereka punya hak untuk sehat dan menikmati kesehatan. Bagi mereka yang punya kuasa, bisa merasakan nikmatnya mengenyam pendidikan berkualitas tinggi dengan fasilitas yang tentu tinggi dan lengkap pula.

Namun, lagi-lagi rakyat yang harus menelan penderitaan. Kesehatan hanya sekedar, masuk rumah sakit penuh kendala. Administrasi dijadikan sebagai jurus untuk menjegal. Pendidikan diperuntukan bagi mereka yang punya uang. Fasilitas lengkap di beri berdasar kedekatan instansi. Padahal, maju-mundurnya sebuah negeri tergantung dari kualitas generasai penerus bangsa. Generasi yang memegang ujung tombak sejarah keberlangsunagn bangsa ini. Bagaimana bangsa ini akan maju kalu kiranya kualitas pendidikan bangsa begitu mencekam?  Apakah ini gambaran negeri yang mencita-citakan prestasi?

Demikian, begitu indah negeri ini dengan segenap penderitaan rakyatnya. Begitu kerasan dan betah tinggal di negeri ini dengan segenap fasilitas lengkap bagi penguasanya. Begitu yakin Tuhan memberikan kekayaan negeri ini bagi para pemegang keserakahannya.

Balada Negeri Penyamun, negeri yang dihiasai dengan para perampok intelektual, para pelacur pemerintahan dan para penyamun arang dari rakyatnya. Balada Negeri Penyamun, di dalamnya begitu sejahtera, meraka yang mengandalkan kekuasaan untuk mencuri hak dari rakyatnya. Balada Negeri Penyamun, yang memberikan ketegasan hukum bagi rakyatnya –yang tidak punya kuasa- dan memberikan kelonggaran bagi mereka yang mempunyai nama dan jabatan.

Balada Negeri Penyamun yang tak pernah usai. Negeri yang di dalamnya penuh dengan dongeng kesejahteraan, penuh dengan ukiran cerita para pembual, penuh dengan ketidakbecusan para penebang kejahatan dan penuh dengan penanam investasi pelanggaran hak dan kewajiban terhadap bangsa, agama, dan rakyat jelata.

Tuliskan Komentarmu !