Bahasa, Politik, dan Sepakbola

bahasa politik dan sepakbola
Ilustrator: Rizki Agustian Savana Post)

SAVANA- Antony Sutton, penulis buku Sepakbola: The Indonesian Way of Life mengatakan, “Semua pengalaman menonton sepakbola di Indonesia, terlepas semua yang negatif, bagi saya tak ada duanya”.

Antony Sutton meninggalkan Inggris dan bergumul dengan sepakbola Indonesia. Mantan suporter Arsenal itu memilih keluar dari kebiasaan ekspat pada umumnya – yang tak sudi menyaksikan liga lokal beserta cerita-cerita seram mengenai brutalitas di dalam maupun luar lapangan.

Menyaksikan si kulit bundar dikoyak dalam durasi yang hampir sama dengan dua SKS oleh dua puluh dua pemain, memang bisa menjadi ajang pelarian rasa frustrasi, atau jalan pintas melepaskan diri dari jerat persoalan. Namun, bagi sebagian orang seperti Antony Sutton, hal yang terjadi di tengah lapangan itu tidaklah terlalu penting.

Mereka tidak peduli dengan permainan team, karakter pemain atau persoalan pelatih. Menang atau kalah bukan alasan mereka datang jauh-jauh ketika bermain tandang. Dengan duduk di tribun belakang, melihat tingkah polah suporter sangar sekaligus lucu, menikmati teriakan dan yel-yel bersama ribuan pendukung lain adalah limpahan energi yg mustahil mereka dapatkan di luar sana.

Sepakbola Indonesia selalu bercerita tentang orang-orang yang terlibat, atmosfer keramaian dan bagaimana ia lebih dari sekadar olahraga bagi orang-orang yang mencintainya. Pun demikian menjadi seorang suporter fanatik klub sepakbola, sama halnya menjadi corong aktualisasi kelompok tertentu. Mereka harus siap menjadi wadah lanjutan konflik kehidupan komunal yang terkait pelik dengan situasi sosial politik.

Apa yang terjadi dalam lingkungan suporter sepakbola adalah cermin kondisi masyarakat secara umum; sebuah kompetisi politik saling sikut berkelinden dengan situasi sosial yang melelahkan. Pada titik kompetisi itulah, bahasa-bahasa kebencian, penghinaan, hujatan, arogansi, caci maki, intoleransi sangat mudah menempel pada lidah hingga ke dalam hati dan diperankan langsung oleh para suporter.

Dalam sepakbola kita terbiasa mendengar kalimat, “membantai musuh, menghancurkan perlawanan, menusuk jantung pertahanan, menggilas pemain, mengobrak-abrik formasi, mematahkan serangan, atau membungkam permainan”, yang mana telah menjadi ekspresi paling lugas dan kerap dipakai untuk mengalahkan lawan tanding. Maka, bukan hal yang mengejutkan ketika metafora kekerasan yang dipakai untuk memanipulasi realitas olahraga tersebut berpotensi menimbulkan persepsi negatif, bahkan boleh jadi bisa mempengaruhi masyarakat untuk bertindak destruktif dalam berkompetisi.

Bukankah situasi politik di tanah air sekarang memang tak jauh dari metafora bahasa-bahasa olahraga yang sering kita pakai selama ini? Partai balas dendam, duel maut, musuh bebuyutan, atau pertarungan hidup mati, misalnya.

Para pemain, pelatih, dan suporter seolah-olah sedang digiring untuk bertarung dan saling mengalahkan. Apalah arti aturan bagi seorang fanatik buta yang menggunakan cara-cara licik untuk menyingkirkan, menghancurkan, menghabisi dan membunuh lawan?

Hingga akhirnya Minggu sore itu tiba. Haringga Sirila tewas dikeroyok di area parkir stadion. Orang-orang yang membaiat dirinya sebagai rival abadi bagi kelompok lain, yang telah membakar kerusuhan hingga merenggut nyawa sebelum pertandingan dimulai, adalah peluit paling nyaring apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada bangsa ini.

Bahwa dendam itu belum mati, dan keributan telah menjadi bekal dari rumah yang segera mereka ledakkan. Bahkan sebelum kompetisi itu dimulai.

Baca Juga: Tepuk Tangan Sang Kiai

Tuliskan Komentarmu !