Bahagia Menjaga Indonesia dalam Melawan Corona

ilustrasi: tempo.co

SAVANA- Apa makna kebahagiaan bagi anda? Mengapa kebahagiaan menjadi sesuatu yang penting bagi hidup kita? Bukan sebatas “kita”, tapi bagi sebuah bangsa dan negara?

World Happiness Report adalah sebuah laporan mengenai ranking kebahagiaan negara-negara di dunia yang dirilis oleh badan PBB setiap tahunnya. Laporan ini sengaja dibuat untuk memberikan gambaran bagaimana dan faktor apa saja yang menjadikan sebuah masyarakat bahagia. Dilihat pada laman https://worldhappiness.report// sejak era 2010-2020, negara-negara seperti Denmark, Finlandia, Norwegia, Belanda dan Swiss menempati TOP RANK sebagai negara terbahagia di dunia. Bahkan sejak 2013-2020, Denmark konsisten sebagai negara yang berada di tiga besar dengan indikasi kebahagiaan yang merata.

Buku “The Danish Way Of Parenting; Rahasia Orang Denmark Membesarkan Anak” berisi tentang gambaran yang didasarkan hasil riset selama puluhan tahun oleh Jessica Joelle dan Iben Dissing untuk menjawab pertanyaan “Apa yang menjadikan negara Denmark selama 40 tahun terpilih menjadi negara paling bahagia di dunia?” Tentu bukan suatu kebetulan, Denmark bisa konsisten pada posisi teratas dengan angka kebahagiaan tertinggi. Jawabnya: Jessica dan Iben menilai rahasia Denmark ada pada gaya pengasuhan.

Bahagia Ala Denmark: Ulin dan Santuy Bersama

“PARENT” adalah kata yang dipilih Jessica dan Iben untuk menarasikan gaya pengasuhan Denmark. PARENT adalah singkatan dari Play, Aunthenticity, Reframing, Emphaty, No Ultimatums, Togetherness and Hygge. Kata kunci ini berkaitan dengan proses pengasuhan dan pewarisan nilai dan budaya asuh dari generasi ke generasi yang berorientasi pada upaya pengendalian emosi, kejujuran emosional, disiplin berkesadaran, membangun otak sosial yang tidak permanen tapi berkembang dan membangun persepsi positif melalui bermain dan budaya Hygge (Santai Bersama).

Ya, bermain bukan sebatas pengalihan dari rutinitas, tetapi bagi orang Denmark, bermain adalah sebuah budaya untuk menghidupkan kesadaran, kebaikan, ketenangan dan melahirkan ketenangan (kendali emosi).

Hygge atau Santai Bersama adalah kunci bahagia yang membudaya di kalangan masyarakat Denmark. Santai bersama sekedar makan, bermain, tanpa tv, smartphone dan alat elektronik lainnya yang dapat mengalihkan kebersamaan. Sementara kejujuran emosional (authenticity) mengandaikan pentingnya sadar dan tidak berpura-pura mengenai respons emosional yang kita hadapi dalam beberap kondisi dan momentum. Ketika kita kecewa, sampaikan dengan jujur bahwa kita kecewa. Ketika kita bahagia sampaikan dengan jujur bahwa kita bahagia. Dan kondisi emosional lainnya harus disampaikan dengan jujur.

Saya pikir pusaran narasi buku ini ada pada upaya bagaimana membangun generasi yang bahagia dan terwariskan. Generasi yang memiliki kematangan emosi, kejujuran emosi dan otak sosial yang terkoneksi melalui sistem syaraf sehingga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Budaya Hygge mengajarkan untuk membangun persepsi “I (Saya)” menjadi “We (Kita)”.

Panik, Stress dan Penderitaan

WHO (World Health Organization) mencatat bahwa hampir 300 juta penduduk dunia memiliki tingkat stress yang tinggi. kalau dirata-ratakan, hampir setiap 40 detik sekali terjadi peristiwa bunuh diri. Kalau kita tracking di beberapa media massa, tidak sedikit media memberitakan kasus bunuh diri dengan motif yang beragam. Umumnya, saya melihat peristiwa bunuh diri ini terjadi ketika kendali emosi seseorang sudah hilang, sementara otak sosialnya tidak berfungsi. Ya, kendali emosi adalah hal yang sangat penting dalam setiap pribadi.

Emosi berkaitan erat dengan perasaan yang dialami dengan momentum tertentu. Senang, bahagia, susah, duka, sakit, kecewa, menyesal dan beragam emosi lainnya. Kendali emosi inilah yang membuat seseorang menjalani kehidupan dengan dinamis. Riset WHO tahun 2016 menyebutkan bahwa 79 persen bunuh diri terjadi di negara-negara dengan tingkat pendapatan rendah dan menengah.

Bunuh diri merupakan pembunuh ke-18 di dunia pada 2016,, karena 1,4% kematian di seluruh dunia disebabkan oleh bunuh diri. Bahkan bila lingkup umur dipersempit, yakni kematian usia 15-29 tahun, bunuh diri menjadi pembunuh nomor dua di dunia. Itu artinya, sebagian besar bunuh diri terjadi pada kalangan dengan usia produktif (www.detik.com diakses pada 5 April 2020).

Di Indonesia sendiri, hampir 15,6 juta penduduk dalam kondisi stress dan depresi. WHO mencatat, Indonesia berada pada urutan ke-159 dari 183 negara dengan angka bunuh diri 3,7 per 100 orang. Ini semua berkaitan dengan kematangan dan kejujuran emosional.

Bahagia tidak melulu mengenai kecukupan material, tetapi juga kondisi batin (emosi) dan pikiran yang tenang. Sebab ketenangan akan melahirkan ketenangan. Stress, depresi dan suicide (bunuh diri) tidak bisa dipandang sebelah mata, stress dan depresi bisa muncul dari perasaan cemas, khawatir, was-was, panik dan ketakutan yang tak terkendali. Kepanikan, rasa cemas dan ketakutan bisa hinggap dalam diri siapapun, dan penyebabnya bisa beragam. Kepanikan muncul karena hilangnya kejujuran emosional dalam diri kita. Kepanikan muncul pula karena hilangnya ketenangan dalam membaca, memahami dan merespons kondisi.

Komunikasi Produktif Sumber Kebahagiaan

Hendaknya, mari kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Ibnu Sina, cendekiawan muslim yang menjadi peletak dasar ilmu kedokteran di dunia. Ibnu Sina berujar bahwa kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan. Pada dasarnya, ketenangan dan kesabaran adalah kunci dalam meraih kebahagiaan.

Manakala kepanikan melanda diri kita, pembiasaan respons diri dengan cara melatih pikiran jernih dan perasaan bahagia adalah sebuah keharusan. Kepanikan akan mendatangkan penderitaan, sementara ketenangan akan melahirkan ketenangan. Kesabaran adalah latihan untuk kesembuhan.

Lao Tze, seorang filosof China mengungkapkan bahwa ketenangan adalah sumber kekuatan besar. Ketenangan didapatkan melalui proses komunikasi produktif yang melibatkan seluruh jaringan syaraf dalam diri kita. Komunikasi produktif adalah terapi yang mampu meringankan beban psikologis dalam diri kita. Komunikasi produktif adalah cara kita merawat kesadaran nalar, kejernihan pikiran, kebersihan hati dan kekhusyuan jiwa. Terapi komunikatif ini akan melahirkan kondisi mental dan badan yang sehat.

Dalam konteks Islam, Rosulullah Saw memberikan tips kepada kita agar memelihara silaturahmi sehingga kesehatan terjaga. Silaturahmi dilakukan melalui proses komunikasi produktif, oleh sebab itu, pikiran positif, kejujuran emosional dan menghindari dari perkara-perkara kemaksiatan akan membantu terwujudnya ketenangan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, komunikasi produktif ini akan membantu memanjangkan umur kita.

Komunikasi produktif adalah proses komunikasi yang melibatkan kejernikan pikiran, kejujuran emosional dan pengendalian diri agar mencapai kepuasaan. Kepuasaan adalah kondisi ketika emosi terbebaskan dari berbagai belenggu yang dapat menghalangi ketenangan. Ketika iklim kepuasaan tidak didapat maka akan menyebabkan rasa cemas, kegelisahan, was-was, penyesalan, panik dan bahkan konflik.

Tidak dipungkiri, pasca penetapan COVID-19 sebagai penyakit pandemik oleh WHO, setiap hari kita dihantui oleh kekhawatiran terjangkit wabah tersebut. Kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi manakala kita membaca atau mendengar berita dari media massa atau sekedar obrolan tetangga yang menyatakan angka peningkatan pasien dengan status positif Corona semakin tinggi. Belum lagi, kecemasan karena lumpuhnya ekonomi global akibat penyakit ini. Tentu, asupan-asupan konsumsi berita seperti itu memengaruhi kestabilan emosi kita.

Indonesia adalah satu dari sekian negara yang tengah bahu-membahu menghadapi serangan wabah ini. Kondisi panik kita rasakan setiap harinya. Rasa was-was, khawatir dan ketakutan yang datang menghantui dalam kondisi apapun, termasuk skenario terburuk yang akan kita hadapi di tengah mewabahnya virus ini. Bahkan, prediksi seorang ahli menyatakan kondisi ini akan berlangsung sampai bulan Juni atau Juli. Tentu kondisi ini tidak mudah untuk kita semua.

Oleh sebab itu, di tengah kondisi yang serba “PANIK”, ada baiknya kita sebagai bangsa Indonesia saling bahu-membahu menciptakan kondisi “BAHAGIA” satu sama lain walaupun di tengah keterbatasan ruang interaksional. Tentu, kita tidak berharap saudara kita meninggal karena kondisi panik, karena cemas-khawatir, karena tidak bahagia.

Maka mari, ciptakan momentum untuk SAMA-SAMA BAHAGIA. Dimulai dari PIKIRAN, HATI, dan JIWA kita. Kemudian kita sebarkan kepada orang-orang di sekitar kita. Dengan begitu, KEBAHAGIAAN adalah sebuah KENISCAYAAN untuk kita SEMUA.

Mari #MerawatNalar dan #MenjernihkanEmosi agar kita #BahagiaBersama untuk selalu #MenjagaIndonesia.

Tuliskan Komentarmu !