BAB 2: SINERGITAS DI ALAM BEBAS

Kau tau, apa saja yang dibutuhkan dalam hidup manusia? Ya, begitulah. Maka teruslah bersikap seperti itu.

Sebenarnya, tak ada yang menarik dari kisah seorang manusia biasa. Ketika ia membual seribu pepatah kata bijak pun, akan terasa basi, karena siapa kau? Berani-beraninya menafsir dunia yang kau pun kalah terhadapnya. Yang pantas dituturkan dari manusia biasa hanyalah kemalangan nasib hidupnya, yang ketika dibaca oleh orang lain, mereka akan bergumam, “Seharusnya aku tetap bersyukur, karena masih ada manusia yang lebih malang dariku”.

Tetapi aku pun tak bisa menyalahkan jika masih punya keinginan, bahkan ketika aku sadar ternyata keinginan itu di luar batas kemampuan. Yang perlu kucacat, keinginan adalah barang gratis yang tak mesti kubeli.

Aku tak akan menuturkan tentang kisah heroikku saat acara SIKAD berlangsung, karena memang tak ada. Aku hanya ingin menuturkan bagaimana bisa tertawanya aku karena kalian. Aku hanya ingin mengungkap, betapa bahagianya aku bisa bertemu makhluk semacam kalian. Ini hanya semacam semurah-murahnya ucapan terimakasihku pada kalian.

Jujur saja, aku berangkat bermodalkan rindu. Aku masih mengenang saat di KABAH 2012 silam, gerbang awalku hidup di Hima-Himi Persis. Begitu pun saat baksos di Tasik, Garut, Cikancung, maupun Cigoong. Jika dibolehkan melankolis, “Aku datang bersama rindu karena peredaran waktu. Aku ada, untuk bersua kembali dengan tawa.”

Apa yang bisa diharapkan dari modal rindu selain bertemu? Mohon mafhumi saja, jika aku datang tak sesuai harapan. Aku datang hanya bisa bertingkah, kalau tak mengganggu.

Aku datang ke acara SIKAD yang bertemakan “Membangun Sinergitas di Alam Bebas” di Sindang Reret, Ciwidey itu bersama beberapa pasukan. Mereka adalah jenis makhluk darat yang bisa berenang di air sampai kedalaman 50 cm. Mereka adalah jenis manusia yang senang terhadap hujan, namun enggan jika disuruh mandi. Mereka adalah PK Hima Persis STAI Persis Bandung. Aku pun punya rekan yang tak kalah gilanya, yaitu Agil dan Opa di PD Hima Persis Kab. Bandung. Mereka semua siap meramaikan acara SIKAD. Tugas peramai: tepuk tangan, bilang “Allahu Akbar”, dan tepuk tangan yang kencang sambil bilang “yes, I am reddy” (mun salah nulisna, hampuraen).

Aku pun mengerti, jika mereka anak-anak PK, merasa minder jika akan berhadapan dengan mereka yang berasal dari kampus-kampus mentereng. Saat pemberangkatan, Rahman mengingatkan kepada rekan-rekannya, “Lebih baik malu-maluin daripada malu-malu”. Aku mengangguk saja, walau saat mereka malu-maluin, aku juga yang menanggung malu.

Kami tiba di tujuan sekitar jam 20.00. Ada sebagian panitia yang sudah hadir dan lebih banyak yang belum. Kami pun istirahat sambil mencicipi hawa dingin khas pegunungan.

Malam pertama di isi oleh FGD. Jujur saja awalnya aku kebingungan, bahkan sampai akhir pun. Berpikir memang bukan tugas “peramai”, maka kubiarkan saja mereka yang mempunyai kapasitas keilmuan untuk berbicara. Namun sialnya, aku malah dituntut untuk berbicara. Waktu itu aku bingung setengah mati, namun akhirnya aku bicara sekenanya.

Aku sadar, aku telah berbicara tanpa sadar, karena saat ini, aku sendiri lupa tentang apa saja yang sudah aku katakan, kecuali sesi curhatku saat pindah dari UIN ke STAIPI. Kutau kalian pun seperti itu, lupa terhadap apa saja yang tidak mengandung faedah.

FGD yang bertemakan “back to campus” itu di akhiri dengan ucapan salam, sambil masih menyimpan pertanyaan dan jawaban. Memang mengasyikan jika kita mengungkap apa yang kita rasakan, tak melulu mengungkap apa yang kita pikirkan. Rasa, adalah tempat terindah sebelum logika.

Seusai FGD, peserta beristirahat, sedang panitia evaluasi. Aku hanya bisa menyaksikan bagaimana mereka bergairah. Bagaimana mereka berjibaku dengan waktu, dingin dan lapar, hanya untuk mengobati rasa rinduku. Kutau ucapan terimakasih saja tak akan cukup, namun apalagi yang aku punya selain itu?

Evaluasi usai sekitar jam 02.40. Aku pun langsung bersiap untuk tidur bersama Riksan, Yusuf dan Fit Nizar di tenda teduh. Kuresapi karena sudah terlalu lama aku tak seperti itu, maksudnya menghayati dingin dalam tenda.

Aku bangun entah jam berapa, yang pasti langsung salat karena hari sudah agak cerah, lalu tidur lagi. Setelah bangun yang kedua kalinya, aku langsung mencari kopi dan teman sepermainannya. Dunia pun nampak merona.

Saat sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan embun pagi (biar dibilang puitis), ada intruksi untuk olahraga bersama. Aku hanya membuntuti manusia yang berjalan di depan, tanpa banyak komentar.

Ternyata kami digiring menuju sungai, dan harus melewati galengan sawah. Tak ayal, dari Himi ada korban 2 orang, paling tidak itu yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Memang itu tak seberapa dibanding jumlah jatuhnya Anwar yang akan kuceritakan nanti.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan menunggu makan. Di sela-sela saat menunggu makan, aku bersama Ulil diundang untuk menyaksikan pelantikan taskil baru PD Himi Persis Bandung Raya. Mereka adalah Mvie, Odah dan ….. (isilah titik-titik tersebut) begitulah yang aku dengar. Yang paling membuatku terharu adalah menjelang penutupan, yaitu saat Ulil menatap mataku, lalu berteriak sambil menepuk-nepuk bahuku, “Sahabat, ingatkan aku yah, jika aku sudah mulai lupa untuk berjuang bersama. Sahabat, tolong bantu aku yah, ketika aku susah maupun duka. Sahabat, jangan jera untuk memarahiku yah, ketika aku khilap dan berbuat salah. Sahabat, aku mencintaimu, muuuach.” (Redaksi sudah diedit)

Setelah menghadiri undangan dari Himi, acara menunggu makan dilanjutkan. Dalam acara itu, dibuat lagi acara, yaitu persiapan untuk musypimda. Tak berselang lama, PD Hima Persis Kab. Bandung pun mengadakan acara musypimda di saung tengah kebun, yang dihadiri oleh 7 peserta. Sungguh sangat luar biasa.

Acara menunggu makan pun ditutup dengan doa “Bismillah”. Ya, saat itu kami sedang makan, tak lagi menunggu. Kalau benar, setelah itu aku langsung tidur.

Aku terbangun saat terjadi keributan, yaitu saat mereka bimbang mau ikut ke Rancaupas atau tidak. Awalnya kami sepakat untuk ikut, namun setelah melewati pertimbangan yang lebih ekonomis namun tak menghilangkan esensi, kami pun memutuskan untuk tidak ikut ke Rancaupas. Tentu, kalian tak usah menanyakan ada berapa uang yang bertenggar di dompet kami.

Untuk tidak menghilangkan esensi dari acara tersebut, kami pun memutuskan untuk bermain saja di atas bukit (kalau kata Mbah Tatang di pasir yang luasnya 10 hektar itu). Kami pun berangkat setelah hujan reda.

Tak disangka, setelah tiba di puncak bukit, tak ada sedikit pun rasa kepuasan di hati kami. Tak ada sedikit pun celah untuk bermain karena setiap sentimeternya ditanami segala jenis sayuran. Irzam (pendekar dari Sepeken itu), katanya mendengar suara gemuruh air yang disangkanya semacam sungai atau air terjun, ia pun bergegas menuju sumber suara tersebut, kami pun mengikutinya dari belakang. Setelah berjalan berratus-ratus meter barulah kami sadar, bahwa sumber suara tersebut tak lain terjunnya air dari langit ke bumi (air hujan) yang sedari tadi mengguyur kami.

Kembali lagi? Maaf, itu bukan tipikal kami. Kami tak akan kembali sebelum mendapat apa yang terlanjur kami citakan. Kami pun terus berjalan ke depan, hingga kujumpai hamparan petak-petak sawah yang menyerupai dalam lukisan. Aku bertanya pada teman-teman, apakah kita benar-benar masih ada di Bandung? Karena sebelumnya aku hanya mendapati pemandangan semacam itu hanya di Garut dan Cianjur saja. Mereka pun mengeluhkan karena tak bawa TG (telepon genggam), akibatnya kami tak bisa selfi.

Aku sudah lupa tahunnya, terakhir aku bermain di bawah derasnya hujan sambil lari-lari di antara pembatas sawah. Hari itu terulang, dan kau pun tak usah menanyakan betapa bahagianya aku, atau kami.

Walau kami sekarang sudah bisa dikatakan dewasa, namun lari-lari di anatara pembatas sawah sambil diguyur hujan, tetap saja tak lancar-lancar. Anwar terhitung 7 kali terjatuh, dengan gaya yang berbeda. Begitu pun dengan Agus, Amirul, Gilang jr (junior), Irzam, dan Tamimi. Semua punya ekspresinya masing-masing saat terpelesat maupun terjungkal.

Kami mau berlari-lari semacam itu karena sebelumnya kami sudah yakin, di antara lembahan sawah itu pasti akan ada sungai. Paling tidak, di sungai itu kami bisa berendam layaknya teman-teman kami yang berendam di Rancaupas. Bedanya, untuk mancapai sungai itu kami harus terpeleset hingga beberapa kali terjatuh, sedang yang ke Rancaupas cukup dengan bayar Rp 10.000 saja.

Saat kami beredam, kami sempat mengkhayal. Khayalan itu muncul karena hujan mulai rintik-rintik, kami berjumlah 7 orang, dan sedang mandi di sungai. Amirul pun menyuruh kepada Agus supaya selendang kami tak dicuri orang, karena kalau sampai itu terjadi, kami tak bisa pulang ke kahyangan.

Setelah beberapa lama, kami pun bersiap untuk pulang. Setelah kami perhatikan satu bukit yang sudah kami lewati, tersadarlah ternyata kami sudah cukup jauh juga berjalan. Kami pun pulang, dengan sisa tawa yang muram.

Malamnya, kami berharap semua bisa duduk bersama. Namun sepertinya kesenangan yang satu dengan yang lainnya berbeda. Di antara kami, ada yang menantinya sembari melepas lelah, dan akhirnya terpulas lemah. Aku berusaha agar tetap terjaga, sampai waktu yang kuhendaki.

Singkat cerita, akhirnya kami pun tiba pada acara penutupan. Bukan apa-apa, aku hanya malu saja jika harus menceritakan anak Kabupaten selfinya pake tongkat jajangkungan, atau agar mereka bisa bekerja, kami harus ancam dulu dengan akan dicabut dari keanggotaan Hima-nya. Sungguh aku malu, karena mereka tak punya malu, walau kutau mereka bisa sampai begitu pun karena kami, pengurus PD-nya.

Acara penutupan katanya dipandu oleh Rohmi. Sekarang baru aku sadar, bahwa aku lupa menceritakan acara pembukaan. Semoga dimafhumi saja, karena aku adalah salah satu jenis manusia yang enggan mengedit tulisan. Biarlah itu menjadi kecacatanku yang tak mesti aku tutup-tutupi.

Terselanggarnya acara penutupan, berarti kita dihadapkan pada kata perpisahan. Aku insafi, perpisahan adalah keniscayaan yang enggan terakui. Kebanyakan manusia benci pada kata pisah, dan aku salah satunya. Pisah, selalu disepadankan dengan kata akhir, dan akhir adalah ujung. Bisa ujung kebahagiaan, ujung kebersamaan dan ujung gelak tawa.

Jauh-jauh hari aku sudah menyadari, bahwa kata pisah punya dua pengertian yang berbeda. Pisah secara ragawi dan pisah secara esensi. Pisah secara ragawi, kita hanya akan dibedakan letak geografis saja, namun hati tetap bertaut. Pisah secara esensi, kita bisa terus bertemu, kita bisa terus berada di tempat yang sama, namun realitasmu sudah tak diakui lagi olehku, dan kau sudah bukan apa-apa dan siapa-siapa lagi. Acara penutupan itu, semoga hanya memisahkan kita secara ragawi, bukan esensi.

Mungkin yang bisa kulakukan kini, hanya mengucap kata terima kasih saja, dan permintaan mohon maafku yang belum bisa berjuang seperti kalian. Memang, memafhumi keadaan adalah selemah-lemahnya apologi, namun kita belum mencoba bila kita berada dalam kondisi yang sama.

Untuk mengakhiri tulisan tak bertepi ini, aku mengingat perbincangan sehabis diskotik (diskusi politik –ide kreatif Opa) bersama Kang Alam Permana. Mungkin seharusnya aku sampaikan ini saat acara FGD, namun bila begitu, aku tak akan punya akhiran cerita yang menarik lagi.

Mengingat segalanya, bukanlah hal yang bisa diharapkan dari manusia. Sekarang, aku hanya menafsir ulang dari ucapan Kang Alam yang masih terbayang.

Waktu itu, kita seolah dihadapkan pada soal yang sama, sebuah kegelisahan yang mencari jawaban. Apakah kita sebagai kader, harus menyesuaikan diri dengan cita-cita ideal Hima-Himi Persis? Atau kah Hima-Himi Persis yang harus menyesuaikan dengan kondisi kita?

Jika jawabannya kita yang harus menyesuikan diri, itu artinya Hima-Himi Persis harus menyingkirkan mereka yang tak mau berjalan ke arah tujuan, dan konsekuensi logisnya, Hima-Himi Persis akan minim kader, karena setiap manusia punya kapasitas yang berbeda. Boleh jadi, kader yang sudah punya loyalitas tinggi pun dieliminasi, karena tak terpenuhinya indikator tujuan organisasi.

Namun jika Hima-Himi Persis yang harus menyesuikan dengan kita, itu artinya setiap kader diperbolehkan untuk mengekspreiskan ke-Himaan atau ke-Himiannya sesuai yang ia kehendaki, dan konsekuensi logisnya, tujuan organisasi menjadi bias. Intelektulalisme dan transformasi sosial tak lagi jadi ukuran, yang dikedepankan hanyalah kebersamaan dan persaudaraan.

Itu hanya sebuah kegelisahan saja, yang entah akan terjawab atau tidak, dan boleh jadi kita memungut keduanya. Yang terpenting dalam perbincangan itu, kita berada di Hima-Himi Persis jangan sampai jadi robot dan melakukan kader seperti robot, yang terus diperas pikiran dan keringatnya, tanpa memperdulikan sisi kemanusiaannya.

Setelah acara SIKAD selesai, kita tau, apa saja yang dibutuhkan dalam hidup manusia selain berkorban. Maka, teruslah bersikap seperti itu.

Tuliskan Komentarmu !