BAB 2: SINERGITAS DI ALAM BEBAS #2

Pada tanggal 09-10 Mei 2015, PW Hima Persis Jawa Barat mengadakan acara Sabaleweung, yang sebelumnya direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 02-04 Mei 2015, atau diundur satu minggu.

Pagi-pagi aku sudah mempersiapkan barang bawaan, selayaknya persiapan untuk mendaki gunung. Namun tak semua perlengkapan dapat terbawa, karena hanya mengandalkan satu cerier saja, selain itu, cerier-ku hanya berkapasitas 60 L. Barang-barang yang serkiranya akan sangat dibutuhkan, yang aku bawa.

Kekurang-tahuanku akan agenda acara ini, membuatku sedikit kebingungan. Dari mulai jam berapa berangkat, kumpul di mana, sampai rentetan kegiatannya apa saja. Aku pun mengganggu beberapa orang untuk aku tanyai soal kegiatan ini, hingga akhirnya sekitar jam 17.30 aku dapat berkumpul dengan teman-teman yang akan ikut memeriahkan acara ini.

Sekitar jam 20.00, aku bersama rekan-rekan Hima Persis lainnya memasuki perkemahan Puntang, atau ada juga yang menyebutnya Purtil. Setelah mendapatkan tempat yang sekiranya cocok untuk berkemah, kami pun langsung memarkirkan motor, lalu bagi-bagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, ada yang mengambil air, ada yang masak, dan ada juga yang mempersiapkan untuk makan.

Setelah beres makan, kami pun membuat api unggun. Aku melihat hanya seorang saja yang begitu banyak kerjanya, yaitu ketua pelaksana acara Sabaleweung ini, yaitu kang Hari, dia juga sebagai anggota yang masih aktip di Wanadri. Konon katanya anggota Wanadri harus serba bisa, bisa mendirikan tenda, bisa mengambil air, bisa masak, bisa menyalakan api unggun, hingga benerin genting pun harus bisa.

Sewaktu yang lain sibuk menyalakan api unggun, aku bersama kang Ridwan menyeduh kopi hitam. Ketika api sudah mulai menyala, dan mulai bisa menghangatkan badan yang kedinginan, kami pun membuat satu lingkaran dengan mengelilingi api unggun tersebut. Kang Ridwan langsung mengusulkan agar acara Sabaleweung segera dibuka.

Om Dedi selaku sekretaris acara ini langsung menanggapi, dan seperti biasa diawali dengan ucapan, “Baiklah”. Sejak itu pula Om Dedi punya kepanjangan nama panggilan, yaitu “Om Dedi Baik”, supaya kedengarannya hampir sama dengan Pidi Baiq, seorang penulis yang amat dikagumi oleh kalangan anak muda, khususnya di kota Bandung.

Kang Hari selaku ketua pelaksana, menyampaikan berpuluh-puluh kalimat, yaitu seputar ucapan terimakasih kepada yang sudah hadir, terus haparan agenda acara di awal yang tidak terlaksana karena berbagai hal, serta tujuan diadakannya acara ini, selanjutnya mengenai agenda acara yang akan dilaksanakan esok hari.

Aku pun mempunyai harapan yang hampir sama besarnya, yaitu dengan diadakannya acara ini, aku bisa bersilaturahmi lebih intensif dengan PK (pimpinan komisariat) dan PD (pimpinan daerah) yang lain, karena basis pertemuannya di alam bebas. Namun yang bisa hadir saat ini hanya perwakilan dari dua PD saja, yaitu PD Kab. Bandung dan PD Bandung Barat, dengan jumlah keseluruhan dangan panitia hanya 11 orang. Namun keadaan ini tak mengecilkan hati kami, karena kalau pun setiap PK dan PD hadir, belum tentu para panitia siap memfasilitasi dengan layak dan kegiatan berjalan dengan efektif.

Pembicaraan disambung oleh ketua PW Hima Persis Jawa Barat, kang Ridwan Rustandi, yang berbicara seputar maksud diadakannya acara ini. Ia juga bicara cukup lebar mengenai kedudukan manusia dengan alam, disertai juga beberapa kutipan yang meyakinkan bahwa acara Sabaleweung, bagaimana pun keadaannya, tetap memberi mangfaat dan tak akan pernah sia-sia.

Memang pembicaraan terkesan begitu serius, namun keberadaan di alam bebas, meleburkan semuanya dari kecanggungan dan ketegangan. Seringkali berbagai ocehan berpadu dengan keseriusan, dan pemikiran bercampur dengan canda-tawa.

Sesekali kang Hari disibukan untuk menyalakan api yang hampir padam, tak jarang juga kepulan asap manyerang kelopak matanya hingga membuat perih. Menyadari kegelapan, membuat manusia mencari penerangan. Maka kang Hari berusaha terus supaya api tetap menyala, namun secara perlahan, karena kalau kayu bakar itu ditumpukkan semuanya, api akan menyala amat besar dan dengan cepat kegelapan akan datang menyapa. Begitulah kiranya pembicaraan selanjutnya.

Setiap orang dituntut untuk bicara tentang Hima Persis, seputar pandangan, cita-cita dan harapan ke depannya. Di tengah suhu yang cukup dingin dan api unggun yang panas, setiap orang mulai menyuguhkan berbagai pemikirannya, namun tak bisa lepas dari ocehan-ocehan yang dapat mengundang tawa.

Ingatanku tak cukup kuat untuk menyampaikan kembali pemikiran-pemikiran itu secara utuh, mungkin karena aku masih sering berbuat dosa. Namun aku cukup ingat saat kang Hari sering berkata, “Allah itu Maha Pengampun”. Bahkan saking seringnya kang Hari mengucapkan kalimat itu, sebelum ia mau mengucapkan kembali kalimat kesayangannya lagi, selalu didahului oleh yang lain sebagai tebakan yang jitu bahwa kang Hari akan mengucapkan kalimat itu lagi.

Aku pun diberi kesempatan untuk bicara, namun seperti biasa, aku selalu kesusahan untuk mengungkapkan pemikiran melalui medium suara atau perkataan. Selain pemikiranku yang masih dangkal, penyebab lainnya mungkin karena sudah sejak Muallimien (setara dengan SMA), aku sering mengungkapkan isi hati atau isi pikiran melalui medium tulisan. Aku pun masih ingat, sewaktu keluar dari Muallimien, tiga buku tulis sudah penuh aku tulisi sebagai ungkapan hati yang ingin lari dari kenyataan, atau sebagai penentang dari kejadian-kejadian yang menimpa hidupku waktu itu.

Aku juga masih ingat, saat aku sering dikatakan sebagai orang yang misterius, karena sepatah kata yang keluar dari mulutku aku hargai begitu mahal, hingga teman-temanku tak dapat membelinya. Hingga kini aku tersadar, sikapku waktu itu, membuat pelajaran-pelajaran yang hinggap, berlari begitu cepat, hingga tak membekas apapun kecuali kerinduan pada kenang-kenangan. Dan pada saat aku kuliah, aku seakan-akan belajar dari awal lagi segalanya, tentu, akan jauh beda hasilnya dengan mereka yang sungguh-sungguh sejak Muallimien.

Aku pun dengan sedikit ragu mengungkapkan bahwa aku banyak belajar dari Hima Persis. Ya, selama ini aku memangfaatkan Hima Persis sebagai tempat pembelajaran bagiku, dan belum bisa berkontribusi apa-apa. Sejak aku masuk Hima Persis, aku bisa belajar lebih nyaman tinimbang di ruang pekuliahan, hingga sampai saat ini aku masih ingin bagian darinya. Namun kadang juga aku merasa rendah saat berjumpa dengan tuntutan-tuntutan yang ada, yang mengungkap bahwa kader Hima Persis harus A sampai Z yang kesemuanya belum ada dalam diriku.

Jika tuntutan itu tetap dipaksakan harus ada, terlintas dalam benakku untuk memilih mundur saja, selain aku punya bacaan tersendiri yang membuatku nyaman, aku lebih suka diajak bersama menuju tuntutan itu. Karena bagiku, setiap orang mempunyai kemampuannya tersendiri, dan yang mempunyai keterbatasan intelektual sepertiku, bukan untuk dihakimi apalagi disingkirkan. Seperti itu juga yang sempat aku dengar dari Sekum PW Jabar, yang menjadikanku lebih bersemangat untuk berHima Persis.

Aku juga mengungkapkan, alangkah senangnya aku jika Hima Persis dan Mahapala Jirim dikawinkan. Maksudnya, diskusi yang sudah menjadi agenda Hima Persis dan naik gunung yang sudah menjadi agenda Mahapala Jirim, berpadu menjadi satu kekuatan. Karena kekuatan pikiran, bersinergis dengan kekuatan pisik dan rasa persaudaraan. Mungkin juga karena aku sempat membaca sosok Soe Hok Gie yang suka melakukan keduanya, dan aku ingin mengambil semangat pejuangannya.

Entah kenapa sosok Soe Hok Gie begitu diagungkan oleh sebagian mahasiswa, bahkan ada beberapa orang mahasiswa yang mengatakan bahwa belum sah seseorang dikatakan mahasiswa jika belum mengenal sosok Soe Hok Gie. Aku merasa yang hebat itu bukan sosok Gie-nya, tapi orang-orang yang menghadirkannya dalam pentas sejarah, karena jika tidak ada yang menghadirkannya dalam pentas sejarah, maka Gie akan lenyap bersama dengan kematiannya, karena dalam cerita yang disuguhkan, Gie berada dalam keterasingan. Teman-teman seperjuangan Gie yang suka naik gunung dan diskusi, yang telah mengharumkan namanya.

Agenda Sabaleweung ini, salah satu jawaban dari keinginanku, walau hanya diikuti oleh beberapa orang saja, walau masih bertema “kemah ceria”. Ya, kemah ceria, karena masih dimanjakan oleh banyaknya air, adanya wc, suhu udara yang tidak terlalu dingin, dan ketika mau bikin api unggun, kayunya banyak tinggal beli. Walau masih bertema kemah ceria, namun tidak menghilangkan esensi kebersamaan, dengan tingkah laku sesuai kepribadian dan selalu saja suasana menjadi cair.

Malam semakin larut, namun pohon-pohon besar sekitar perkemahan, tampak semakin jelas, karena sinar bulan memantulkan cahayanya dengan sempurna. Berbagia pemikiran yang lebih jernih dan memikat, bertebaran di udara, sebelum selanjutnya masuk pada rongga telinga. Ketua PD Hima Persis Kab. Bandung mengatakan, masih terlalu naif jika sebuah organisasi hanya mengejar terlaksananya program kerja, tanpa ada sesuatu yang ingin dicapai selain harumnya nama organisasi tersebut karena sudah terlaksananya  program kerja.

Ketua PD Hima Persis Bandung Barat pun menuturkan, pergerakan Hima Persis masih absurd, atau masih berkutat pada ranah kualitatif yang keberhasilannya tak dapat diukur dengan pasti dan tidak ada data-data. Ulul Albab semestinya dapat diejawantahkan lebih real, dengan pergerakan yang kuantitatif, supaya dapat terukur keberhasilan atau tidaknya. Di akhir ia juga menuturkan bahwa acara Sabaleweung ini ingin secara intensif dilaksanakan, untuk mengukuhkan kembali rasa persaudaraan dan kebersamaan, ketimbang dengan acara-acara yang dilaksanakan di hotel yang cendeung mengakibatkan individualis.

Pembicaraan berakhir ketika ketua PW Hima Persis Jawa Barat menanggapi setiap permasalahan yang diajukan. Semua segera mencari tempat tidurnya masing-masing, kecuali aku, om Aziz, kang Hari dan kang Ridwan yang masih asyik menikmati malam dengan taburan bintang-bintang. Kini pembicaraan beralih menjadi seputar kehidupan pribadi, atau lebih tepatnya masalah percintaan.

Baru saja om Aziz memulai ceritanya, kang Ridwan sudah mendengkur di atas matras depan api unggun, padahal cerita om Aziz melibatkan juga dirinya. Aku dan kang Hari menyimak curahan hati om Aziz. Seketika hatiku pun berucap salut kepada om Aziz, yang dengan sabarnya menjaga keutuhan cintanya. Berjumpa hanya hitungan jari, lalu dengan jantannya om Aziz ingin mendatangi rumah perempuan itu dengan membawa kedua orang tuanya. Walau masih berada dalam rencana, tapi aku tak bisa menapikan bahwa pembuktian cinta yang sesungguhnya, adalah dengan mendatangi rumah perempuan yang dicintainya, dengan membawa kedua orang tuanya, bukan pembuktian yang lain-lain. Semoga berhasil buat om Aziz.

Posisi om Aziz saat itu, dalam bahasa anak mudanya adalah posisi galau. Memang sangat menyulitkan jika harus memilih antara maju atau mundur, walau sudah dipertimbangkan sematang-matangnya, karena bagiku kematangan berpikir tak berpengaruh apa-apa bila yang dihadapinya soal rasa, terlebih saat prasangka-prasangka lebih dominan ketimbang suara hati sendiri. Akhirnya terbukti juga jika Wanadri serba bisa, pasalnya kang Hari menuturkan petuah-petuahnya untuk meyakinkan hati om Aziz dalam masalah percintaan.

Kang Hari memulai dengan pertanyaan, kamu mencintainya dengan ikhlas atau pamrih? Kalau kamu mencintainya dengan ikhlas, maka kamu tak usah berharap dia juga akan mencintaimu, karena dengan begitu, kamu mencintainya dengan pamrih. Jikalau suatu saat nanti dia memilih bukan dirimu untuk dijadikannya sebagai pendamping hidup, ya ikhlaskan saja, karena kamu memilih mencintainya dengan ikhlas, maka kamu juga harus ikhlas melepasnya. Namun jika dia juga mencintaimu, maka itu satu anugrah. Sekarang, mainkan saja jika kamu mencitainya. Lagi-lagi aku pun hanya mengangguk.

Kini yang tersisa hanya bara-bara api bekas api unggun, namun masih cukup untuk menghangatkan. Pantulan cahaya bulan berkerja sangat baik, saat mampu meminimalisir kegelapan. Saat semua sudah terdiam, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada kang Hari, yaitu soal waktu, “sekarang sudah jam berapa Kang?” “Jam 03.00” jawab kang Hari setelah menekan tombol lamp pada jam tangannya. Aku kaget setengah diam. Akhinya percakapan diakhiri dengan ucapan “Sudah ngantuk nih”. Aku pun mengambil sleping bag, lalu berbaring di bawah pohon besar yang tak jauh dari tenda dan bekas api unggun. Kang Hari pun berbaring tepat di pingggir bekas api unggun.

Aku baru membukakan mata saat mendengar banyak suara, dan salah satunya suara yang mengingatkanku untuk segera melaksanakan salat subuh. Aku pun duduk sejenak dan melihat-lihat sekitar. Beberapa orang sedang menyeduh kopi sambil mengepulkan asap pekat, aku pun langsung tertarik, namun sebelumnya salat subuh terlebih dahulu.

Saat matahari mulai menampakkan dirinya secara perlahan, om Dedi Baik dengan semangatnya mengajak kang Ridwan untuk berlari. Lalu dengan sigapnya om Dedi Baik meneruskan ucapannya bahwa ia akan lari dari kenyataan. Semua yang mendengar menanggapinya senyuman puas, dan dijadikan penghibur di pagi yang cukup cerah.

Rencananya sekitar jam 09.00 akan melaksanakan perjalanan menuju curug Siliwangi, dengan jarak sekitar 6 km dari tempat perkemahan, dan katanya memakan waktu 3 jam untuk sampai. Namun sebelum berangkat, sarapan pagi terlebih dahulu, dengan memasak beberapa mie instan dan nasi, lalu beres-beres tenda.

Yang akan melaksanakan perjalanan 9 orang saja, karena kang Hilman dan kang Adi pulang lebih awal untuk menghadiri Muswil Pemuda Persis. Kami pun segera menitipkan motor beserta barang-barang yang tidak akan dibawa ke salah satu ibu warung, yang kebetulan sudah akrab dengan kang Hari.

Sekitar jam 08.30, kami melakukan peregangan terlebih dahulu di tempat terbuka, dengan suasana yang indah dan mempesona. Setelah peregangan selesai, kami pun segera melanjutkan perjalanan.

Sebenarnya banyak kejadian menarik dalam perjalanan itu, namun aku hanya menuturkan satu kejadian saja. Saat pertama kali menyeberang sungai, beberapa orang melepaskan sepatu serta kaos kakinya, karena takut basah. Namun dalam pemberangkatan sampai tujuan, menyeberang sungai itu dilakukan empat kali, dan jika dengan pulangnya, maka dilakukan delapan kali. Saat menyeberang sungai yang kedua kali dan hingga yang terakhir, tak ada lagi yang melepaskan sepatu.

Bisa dikatakan yang pertama dan yang ke dua kali itu sebagai eksperimen, saat menyeberang sungai, enaknya dilepas atau tidak sepatu serta kaos kakinya. Jawabannya adalah tidak, karena itu yang dilakukan saat menyeberang sungai yang ke tiga kalinya sampai yang ke delapan kalinya, terlepas dari alasan ribet jika setiap menyeberang sungai harus melepas sepatu serta kaos kakinya. Karena seribet apapun, jika itu untuk sebuah kenyamanan, maka akan dilakukan. Memang kesimpulan yang tidak adil, namun logis. Sekarang tinggal memilih antara kelogisan dan keadilan.

Setelah berjalan beberapa jam, dengan jalur yang cukup terjal namun tak begitu menanjak, akhirnya barisan terdepan meneriakkan, “Sudah sampai”. Sebenarnya bukan benar-benar sudah sampai, tapi sebentar lagi akan sampai, itu hanya untuk penyemangat saja, karena langkah-langkah mulai berat untuk digerakkan. Semangat semakin menggelora, saat barisan terbelakang, termasuk aku, sudah melihat deburan air yang riuh di atas sana. Seakan ada kekuatan lain yang menggerakkan kaki di depanku, hingga langkah demi langkahnya terasa semakin cepat saja.

Saat benar-benar sampai, napas lega pun dikeluarkan cukup dalam. Aku pun memandang begitu eksotisnya curug Siliwangi ini. Berada dalam ketinggian 1700 mdpl, dan dengan ketinggian curugnya sekitar 150 meter. Tebing menjulang tinggi, menyamai ketinggian curug, dan tebingnya disertai balutan pohon-pohon kecil yang khas. Air yang terbang dari atas sana, tak langsung menghujam permukaan curug, namun menari terlebih dahulu di sela-sela batu bagian tengah tebing, sebelum akhirnya terbang kembali dan menerjang permukaan. Aku merasa, kini saatnya untuk membiarkan hati berbicara masalah keber-Ada-an dan ke-Mahasempurnaan Tuhan.

Setelah istirahat sambil memandangi eksotisnya curug Siliwangi disertai tebing-tebingnya dianggap cukup, kami pun melakukan aktifitas yang lain. Ada yang masak, ada yang berpose di depan kamera, ada yang bersiap untuk mandi, ada juga yang bersantai dengan menyeduh kopi sambil menghisap rokok pemberian ketua PW Jabar, dan yang bersantai itu adalah aku.

Hampir semua merasakan segarnya air curug Siliwangi dengan mandi di bawahnya, namun aku tak begitu tertarik. Bukan bemaksud untuk menunjukan bahwa aku tak suka mandi atau mau dikatakan sombong jika aku terlampui sering mandi di curug, tapi saat itu aku benar-benar sedang tak mau mandi di curug, aku hanya ingin memandangi eksotisnya curug itu dengan tebing-tebingnya, tanpa harus mengotorinya dengan membuang daki di curug itu.

Setelah semua yang mandi sudah beres, memasak pun berpindah ke tempat yang lebih luas. Di tempat itu juga secara bergiliran melaksanakan salat dzuhur, karena waktu sudah menunjukan jam 12.30. Di sana juga tempat perseteruan damai antara ketua PW dengan ketua PD Bandung Barat saat memasak telor dan asin, berbagai argumen pun diperdengarkan keduanya.

Tak lama kemudian, datang rombongan pelajar dan langsung bermain-main di curug. Lalu datang lagi seseorang yang ramah, namun entah siapa namanya. Ia ikut berkumpul bersama kami, lalu basa-basi menawari kami makanan, karena ia juga melihat kami sedang masak dan nasi yang ia bawa pun hanya satu porsi, kecuali lauknya. Tak semua lauk yang ia bawa, dapat ia makan, maka ia pun memberikannya kepada kami sebagai lauk tambahan. Orang itu pun langsung pergi ke curug, untuk mengawasi para pelajar itu katanya.

Setelah masak selesai, kami pun langsung bersiap untuk makan bersama beralaskan daun pisang, dan daun pisang itu pun beralaskan lagi plastik besar. Sebelum dimulai, kami pun memanjatkan puji serta syukur kepada Dzat yang memberi kehidupan, atas takdirnya yang mempertemukan kami dan bersua di curug Siliwangi. Setelah doa selesai dipanjatkan, kami pun secara radikalnya memasukan makanan yang tersaji di depan ke dalam mulut kami masing-masing.

Makan pun terpaksa harus dihentikan, karena yang tersisa di depan hanyalah daun pisang berserta plastik besar. Orang yang memberi lauk tadi pun kembali menghampiri kami, lalu ia masak air, karena ia juga membawa perlengkapan masak. Setelah airnya matang, ia pun langsung menuangkannya ke dalam gelas yang sudah berisi serbuk kopi hitam beserta gulanya, atau lebih tepatnya bukan gelas, tapi bekas aqua botol yang dipotong tengahnya.

Aku dan kang Ridwan pun ikut nimbrung dengan orang itu, disertai kopi dan rokok bilangan anak SD, 234, lalu bercakap-cakap sebentar soal tempat tinggal, dan lupa untuk menanyakan nama, entah memang tidak dibutuhkan. Tak lama kemudian, orang itu pun menasehati kami, jika suatu saat nanti kami sudah mempunyai istri dan anak, maka ajaklah keluarga itu untuk sering bermain ke tempat yang seperti ini, lalu ajari mereka untuk mencintai alam juga. Terlebih kalau main di sini, uang yang berada dalam sakumu akan awet, walau cuma Rp. 10.000,- karena memang tak ada yang dapat dibeli, tentu akan berbeda jika mainnya ke mall.

Setelah itu, rombongan pelajar tadi bergegas pulang. Kami pun bersiap-siap untuk pulang, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. Sebelum meluncur pulang, kami pun berpose bersama terlebih dahulu di depan kamera, dan orang ramah yang baru kami temui pun ikut serta, karena memang kami ajak. Setelah beberapa jepretan, kami pun meluncur pulang.

Perjalanan pulang agak tesendat karena banyak menunggu rombongan pelajar. Karena ini bukan jalan raya, tentu kami tak bisa menyalip sembarangan. Kami baru bisa menyalip saat menyebrang sungai, karena ada ruang untuk mendahului. Perjalanan pun semakin dipercepat, karena kami tak ingin pulang saat gelap sudah datang.

Singkat cerita supaya tak terlalu panjang, kami pun sudah sampai di tempat perkemahan, lebih tepatnya di depan gua Belanda. Kang Ridwan mengajak kang Hari untuk menyusuri gua itu, kami semua pun sepakat, karena penasaran dan ingin merasakan sensasi saat menyusuri gua, walau gua buatan dan tidak terlalu panjang. Dua senter pun dikeluarkan, lalu kami bersama-sama menyusuri gua. Ada beberapa orang yang ikut menyusuri gua bersama kami, walau katanya mereka baru saja selesai menyusurinya. Aku pun mendengar percakapan mereka, konon katanya salah seorang di antara mereka melihat sesuatu yang janggal, entah apa, dan sekarang mereka ingin membuktikan apa yang dianggapnya janggal itu.

Cukup menegangkan, dan terdengar langkah-langkah yang paling belakang tak karuan. Setelah beberapa menit, kami berbelok ke sebelah kanan, lalu terlihat setitik cayaha, dan aku merasa sangat lega, karena itu adalah tempat ke lura. Berada di dalam gua, membuatku merasa begitu tegang. Ketika sudah benar-benar di luar, aku merasa seperti ada kebebasan yang entah dari mana datangnya. Aku pun tak begitu paham dengan maksud Plato, yang mengibaratkan jika manusia yang melihat benda sebagai wujud yang utuh adalah manusia yang berada di dalam gua, yang hanya melihat dan mendefinisikan bayangannya sendiri.

Menyusuri gua menjadi agenda teakhir sekaligus penutup dari acara Sabaleweung. Kami pun beristirahat sejenak di warung tempat kami menitipkan motor dan barang. Sekitar jam 17.00, kami bergegas kembali, namun sekarang dengan tujuan yang berbeda.

Setiap manusia mempunyai caranya tersendiri untuk mengabadikan satu momen. Karena aku tak mempunyai kamera yang canggih, dan handphone-ku pun tak ada fitur kameranya, maka inilah caraku mengabadikannya.

Tuliskan Komentarmu !