BAB 2: Memoar Singkat Gubuk Derita

Setiap langkah kehidupan adalah sejarah. Adanya sejarah bukan hanya untuk diingat, tapi juga untuk diserap.

Memoar Singkat Gubuk Derita

Secara bertubi, hari terus berganti. Secara perlahan, masa silam tenggelam.

Dari berbagai versi cerita, aku dikenalkan apa itu sejarah. Sebuah kisah epik yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Saat aku dihadapkan dengan sejarah, seolah aku pun bertanggung-jawab untuk melakukan perjuangan yang sama, paling tidak, merasakan atmosfirnya. Begitulah pelajaran malam itu, malam bersahaja di akhir bulan September 2012.

Seingatku, aku mengikuti diklatsar Mahapala karena ajakan teman. Aku tak punya cita-cita muluk selain persahabatan. Soal alam dan petualangan, aku sudah cukup kenyang dengan kenyataan bahwa aku terlahir di perkampungan. Diklatsar Mahapala itu, menyeretku pada kehidupan “gubuk derita”.

Aku mengenal istilah “gubuk derita” dari Bang Ajdo (yang mengaku-ngaku sebagai Prabu Kian Santang), yang ditujukan untuk satu bangunan yang berukuran sekitar 4×4 meter, berdiri di depan kampus STAI Persis Bandung, dan dihancurkan 2 tahun silam.

Gubuk derita merupakan tempat bersemayam orang-orang urakan. Orang-orang urakan itu bertitelkan Mahapala. Aku mulai betah kuliah di STAI Persis Bandung tak lain karena kehidupan gubuk derita, walau betah kuliah tak berbading lurus dengan masuk kelas, tapi setia berada di kampus, siang dan malam. Gubuk derita, seolah sudah menjadi kelas alternatif tanpa SKS, nilai, dan bayaran.

Di gubuk derita itu, aku masih mengingat wajah polos Bang Adjo, Bang Cepi, Pak Ustid, Mang Apip dan Cep Ablay. Seingatku, mereka adalah penghuni tetap gubuk itu, dengan tingkah pongah setiap harinya. Aku dan Nadfi sebagai penghuni baru, harus rela melihat mereka berjingkrak; sedetik akur lalu bertengkar layaknya balita berebut mainan. Dari sana, aku mulai mengerti kenapa dinamakan gubuk derita. Orang yang masuk, dipaksa tertawa-tawa untuk menghilangkan lapar yang mendera.

Begitu romantisnya kehidupan gubuk derita. Hampir setiap makan, beralaskan katel atau plastik yang sama. Semua berperan seperti sebuah keluarga. Bang Adjo dan Bang Cepi berperan sebagai Bapak yang selalu mencari teman nasi dan cemilan. Pagi-pagi, Bang Cepi rajin pergi ke sawah untuk memanen kangkung atau eceng. Sore hari, Bang Adjo rajin memancing ikan di kolam orang. Malamnya, sajian goreng sukun siap menemani.

Pak Ustid berperan sebagai Ibu yang selalu siap masak kapan saja, dan di mana saja. Sering juga ia beres-beres dan bersih-bersih. Sedang Mang Apip dan Cep Ablay, berperan sebagai anak kembar yang ketemu dewasa. Begitu harmonis hidup mereka. Yang satu suka menyamar sebagai anjing dan yang satu lagi menyamar sebagai kucing.

Aku dan Nadfi sebagai anak adopsian yang baru lahir. Lebih banyak perbedaannya ketimbang kemiripannya. Sebagai anak bungsu, kami pun mulai dikenalkan berbagai macam nama dan istilah. Kelak katanya, kamilah yang harus mengurus semuanya. Kami harus bisa survival di alam yang begitu buas ini, terutama di lingkungan kampus yang tak kenal latar belakang.

Kehidupan gubuk derita, menjadi begitu berwarna karena ada donatur tetap. Donatur dalam bentuk materi maupun memberikan keteguhan hati untuk menyingkap kehidupan. Donatur tetap itu selalu di panggil “Appa”, atau Pak Roni untuk sebutan mahasiswa biasa.

Sebelum dan sesudah memberi kuliah, Appa selalu mampir ke gubuk derita. Sering juga ia memberikan kuliah di sana, karena mahasiswa  Tarsif -Hadis waktu itu cuma 4 orang dan laki-laki semua. Aku sering mencontek perkuliahan mereka.

Pada awal bulan februari 2013, aku mengikuti puncak diklatsar Mahapala, yaitu pengembaraan ke daerah Cisompet, Garut, sekaligus menjadi angkatan pertama yang melakukan pengembaraan pasca Mahapala ‘terlahir kembali’. Aku masih ingat, bekal kami waktu itu adalah peta usang dan keberanian bertanya. Setelah pengembaraan selesai, aku pun dinyatakan sah menjadi anggota Mahapala. Aku pun masih ingat, waktu itu kami basah kuyup karena diceburkan ke balong.

Setelah itu, kami makin sering naik gunung atau susur pantai, dan terhitung sekali saja melakukan susur sungai. Kesemua itu sangat erat kaitannya dengan gubuk derita, karena gubuk itu menjadi awal keberangkatan sekaligus menjadi tempat kembali pulang.

Begitu banyak cerita parodi yang terlahir dari gubuk derita, sampai pada akhir hayatnya, gubuk derita itu masih saja menyimpan kenangan.

Kini, gubuk derita menjadi masa silam. Para penghuninya pun sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Mang Apip mengabdi di kampung halamannya, Pameungpek, Garut. Bang Adjo mengabdi pada istri tercintanya, Majalaya, Bandung. Begitu pun dengan Bang Cepi yang punya mainan baru, yaitu kelahiran anak pertamanya dari istri pertamanya juga. Pak Ustid sedang berharap cemas menanti buah hati, sambil masih mengabdi pada kampus. Sedang Cep Ablay sedang menanti pernikahan mantannya, sambil komat-kamit berdoa agar jodohnya mendekat, supaya pas menghadiri pernikahan mantannya, ia pun sudah menggandeng. Kita doakan bersama supaya cita-cita terbesarnya itu tercapai. Intinya, semua sudah punya kehidupan masing-masing.

Pasca kehancuran gubuk derita, kehidupan Mahapala pun ikut terlunta-lunta. Ia seakan kehilangan arah cerita. Berbagai opini disampaikan, hingga membuat tempat kumpul baru di bawah pohon katapang, belakang kampus. Namun diambil alih oleh para pedagang. Lama cerita tenggelam, hingga akhirnya ada usulan membuat saung. Saung dibangun hingga dinyatakan siap pakai, namun tempatnya tergenang karena musim penghujan.

Selain kehilangan cerita karena tempat, Mahapala pun seakan ditampar karena kehilangan dan kerusakan berbagai peralatan yang tak murah harganya. Aku akui, aku lebih sering berbicara soal diri dan eksistensi, ketimbang memerhatikan peralatan.

Kemarin, pada hari minggu, 10/01/16, alumni gubuk derita berkumpul kembali. Kita menyaksikan, keluarga kita bertambah banyak, walau ada yang dulu hadir, kemarin tak terlihat. Kita semua berharap, mereka dapat menjadi apa yang mereka inginkan, namun tak lupa juga kepada para pendahulunya.

Inginnya, kita semua dapat berbicara satu sama lainnya. Bicara tentang semesta dan parodi kehidupan dunia. Bicara tentang Cep Ablay yang suka pada Milda. Atau pun tentang Agus yang baru ketemu saudara lamanya di curug Siliwangi. Namun, suasana belum begitu mencair, aku pun sering mengumpat ketimbang menghadap.

Gubuk derita adalah awal aku lebih dekat dengan Mahapala dan semua yang hadir di dalamnya. Semoga, ada semacam kelahiran baru “gubuk derita”, yang mampu menyingsingkan kehidupan semesta.

Aku tak bermaksud mengajak ke masa lalu dan meniru segala ucap langkah dulu. Berdiri di hari ini adalah sebuah kenisayaan yang tak perlu dinafikan. Aku hanya mengajak bernostalgia, dan berjalanlah untuk hari ini. Namun kita harus selalu memperjuangkan hal yang sama, tentang hidup dan menjadi manusia bersama.

Kini, donatur tetap ilmu dan materi Mahapala, segera akan mendapat gelar doktor. Bukan gelarnya yang hendak kita rayakan, tapi sebuah perjalanan yang menuai puncak. Di puncak, yang menjadi kebanggan bukan keindahannya, tapi karena sudah melewati jalan terjalnya. Kita akan lebih mengenang sebuah perjalanan yang berdarah-darah, ketimbang perjalanan biasa saja, walau puncak yang kita temui sama.

Tuliskan Komentarmu !