BAB 2: Episode Pulang Kampung

SAVANA– Keputusan untuk pulang kampung, sebenarnya begitu mendadak, tak ada rencana sebelum-sebelumnya. Mungkin karena ada satu tragedi yang membuat benakku langsung tertuju pada kampung halamanku, dan seolah memaksaku untuk segera menghampirinya.

Saat melintasi perkebunan teh Cukul, yang berada sekitar 5 km setelah Situ Cilenca, aku terpesona oleh pemandangan alamnya yang indah, aku pun berhenti sekitar 20 menit, cukup untuk menyulut 2 batang rokok djarum super mild (MLD) dan meminum segelas kopi cup. Setelah itu, aku pun meluncur kembali.

           Motor aku simpan di rumah nenek, yang berada di kampung Cikadu, atau sekitar 1 km dari jalan raya. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki, dan menempuh waktu sekitar 20 menit. Cukup membuat kakiku pegal karena jalan yang terdiri dari deretan bebatuan, dan membuat bajuku basah karena keringat. Biasanya, motorku suka aku bawa sampai ke depan rumah, cuma sekarang keadaannya lain, ban depan motorku terlalu kecil untuk menerjang bebatuan terjal itu.

           Setibanya di rumah, kebetulan ibu lagi tidak ada, tapi untungnya rumah tidak dikunci. Aku pun masuk tanpa permisi. Setelah aku duduk beberapa menit di kursi, tiba-tiba ibu datang, lalu menanyakan “kenapa pulang? Sama siapa? Jam berapa berangkat? Gimana kabar nenek di Cikadu? Kapan mau bawa calon mantu?” Dan lain sebagainya. Aku tutup hari itu dengan istirahat sambil baca-baca sedikit buku Pram.

           Keesokan harinya, tak ada yang membuat menarik perhatianku. Aku habiskan waktu hampir seluruhnya untuk berdiam diri di rumah, keluar paling ke rumah Kakak untuk melihat keadaannya dan ke warung untuk membeli rokok dan telur pesanan ibu.

           Hari selanjutnya yang menarik perhatianku. Pagi-pagi aku disuruh membantu ibu untuk mengantarkan makan dan minum ke sawah, karena hari itu sawah ibuku sedang mau dipanen. Ada sekitar 9 orang yang membantu ibu memanen, mungkin bahasa kotanya adalah “buruh”. Aku menyebutnya membantu, karena aku tau upah yang akan didapat oleh mereka, tak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan, dan kadang-kadang ibuku juga suka membantu mereka.

           Perhitungan upahnya 1/10 dari yang dihasilkan. Kalau hasil panennya mendapat 10 karung, maka yang membantu mendapat upah 1 karung, itupun harus di bagi lagi oleh 9 orang. Atau kalau dalam perhitungan kilogramnya, jika hasil panennya mendapat 1.000 kg, maka mereka mendapat 100 kg untuk di bagi 9.

           Yang membantu ibu memanen itu berkelompok lagi, dari 9 orang menjadi 3 kelompok. Setiap kelompok biasanya 3 orang, yang terdiri dari istri, suami dan anak,  atau siapapun yang bisa diajak kerjasama, yang tak akan membuat pusing saat pembagian upah dan kerja.

           Sebelum bekerja, setiap kelompok sudah bersepakat pembagian lahan kerja. Setiap petak sawah sudah diperkirakan akan menghasilkan berapa karung, lalu di bagi 3 kelompok dari seluruh petak sawah yang akan dipanen. Tentu, untuk menghindari perbedaan yang sangat mencolok setiap kelompoknya. Waktu untuk bekerja disesuikan dengan kecepatan dan ketangkasan setiap kelompoknya.

           Jam 11 siang, ada satu kelompok yang sudah selesai, dan menghasilkan 6 karung gabah basah. Setiap karung, dipikul ke tempat penjemuran, sekitar 100 meter dari sawah. Lalu ditimbang terlebih dahulu sebelum dituangkan dan disebarkan di atas giribig. Dari 6 karung itu, mengasilkan 313 kg.

           Kalau di uangkan, setiap 1 kg. gabah basah dihargai Rp. 3.000. Perhitungan mudahnya, 313 X Rp. 300. Maksud Rp. 300 itu 1/10 nya dari Rp. 3.000. Maka mereka mendapat upah sebesar Rp. 93.900 untuk jasa membantu memanen. Jasa pikul dari sawah ke tempat penjemuran dihargai Rp. 3.000/karung. Berapakah hasil mereka sesungguhnya?

           Ini rumus buatanku sendiri, yang entah ada atau tidak dalam pelajaran matematika. Rp. 93.900 + (Rp. 3.000 x 6) = Rp. 115.000. Karena Rp. 3.100 nya untuk infak. Kalau masalah di bagi lagi untuk 3 orangnya, silahkan hitung sendiri, karena aku tak ikut campur dalam pembagiannya, takut-takut salah seorang diantara mereka ada yang ikut berinfak.

           Kelompok A ini memang terhitung cepat dalam bekerjanya, karena memang komposisinya semua laki-laki. Sedang yang lain, ada seorang perempuan dalam kelompok B dan ada dua orang perempuan dalam kelompok C. 

           Kelompok B menyelesaikan pekerjaannya sekitar pukul 15.30, dan menghasilkan 7 karung gabah basah. Setelah ditimbang, hasilnya 344 kg. Mungkin kalian sudah jemu bila bertemu lagi dengan angka-angka. Singkatnya, kelompok B membawa 38 kg. gabah basah untuk dibawa pulang, tidak termasuk biaya pikul, karena dipikulnya oleh orang lain.

           Sedang kelompok C menyetorkan hasil panen keesokan paginya, karena Mang Ape –satu-satunya lelaki yang ada dikelompok C- siangnya ada pekerjaan lain yang mesti diselesaikan, hingga memaksa Rita dan ibunya bekerja berdua hingga larut sore. Mereka menghasilkan 6 karung gabah basah, setelah ditimbang, hasilnya 265 kg. Mang Ape pun memikul 30 kg. gabah basah untuk dibawa pulang.

***

           Saat berada di saung, aku memperhatikan sekeliling, ternyata kampung ini mempunyai misteri tersendiri, khususnya untuk diriku sendiri yang telah dibesarkan di sini. Setidaknya dari tahun 1992 sampai 2003, aku menyusuri setiap lika dan liku kehidupan kampung ini, kampung Cibinong. Jangan sesekali melihat peta, karena itu tak bakal ada.

           Para pembantu ibu untuk memanen pun sudah berkerumun di saung, hampir setiap orang menanyakan kapan aku pulang dan kapan akan pergi lagi ke Bandung, untungnya tak ada yang berani menanyakan kapan mau bawa calon istri. Setelah dipersilahkan, mereka pun langsung makan.

           Aku seakan menjadi borjuis muda di hadapan mereka. Ya, pakai seakan, karena aku tak begitu paham mengenai makna kata itu. Mereka menghormatiku dengan cara mereka sendiri, bahasa yang mereka pergunakan saat hendak bicara denganku terlalu halus, tak seperti ke anak muda lainnya, atau anak mereka sendiri.

           Saat itu juga, Rita bercerita tentang kejadian hari kemarin, yaitu saat memperingati 40 hari kematian Nenek Erum, nenekku dari bapak. Walau aku adalah salah satu cucunya, tapi aku tak diberi perhatian tentang perayaan itu. Perayaan yang berakhir dengan konflik internal, hingga Rita pun seolah tak punya rem untuk menghentikan pembicaraannya.

           Katanya, kemarin Rita ditugasi untuk mengantarkan makanan ke setiap rumah yang berada di Kampung Cibinong, terdiri dari 2 RT dan sekitar 44 rumah. Ia mengerjakan tugasnya seorang diri, sekali pergi membawa 2 rantang, yang satu di tangan kanan dan yang satu di tangan kiri. Setiap rantang terdiri dari 4 bagian, bagian paling bawah berisi nasi, atasnya opor ayam, atasnya lagi tahu dan tempe, dan yang paling atas adalah kerupuk. Tugas tambahan Rita adalah membawa beras bila yang menerima makanan itu menyumbangkan beras untuk meringankan biaya perayaan itu.

           Tugas Rita hanyalah untuk mengantar makanan, dan tak tau persoalan persediaan daging atau nasi. Ada 8 rumah lagi yang belum diantarkan makanannya, tapi persediaan sudah habis. Tentu, itu membuat penyelenggara kucar-kacir, nama Rita pun disebut-sebut sebagai penyebabnya, karena tak becus mengatur dan mengantar makanan, katanya.

           Ibuku yang ikut membantu memasak, menanggapi konflik itu. Saat ibuku memasak, sebenarnya persedian daging itu melimpah ruah. Bahkah ada 8 bakakak ayam dan 30 kg gepuk, namun itu dikhususkan untuk yang ikut tahlil sore kemarin. Dan persediaan daging dan nasi itu sebenarnya ada sisa banyak setelah beres tahlil, tapi saat dibutuhkan, hilang entah ke mana.

           Saat kerabat-kerabat hendak pulang, karena sebentar lagi akan malam. Mereka membawa bingkisan yang lebih dari cukup untuk satu orang. Mungkin cukup untuk persediaannya selama 3 hari.

           Rita memang bukanlah salah satu kerabat dari keluarga besar Nenek Erum, namun ia hanya ingin berbakti, karena dengan materi ia rasa tak mampu. Namun apa jadinya, bila niat bakti itu harus diakhiri dengan caci-maki?

***

           Aku pun menyimak cerita itu dari kejauhan, di pojok saung yang menghadap bukit, dan pura-pura perhatianku dialihkan untuk memandangi awan yang bergelayunan di antara bukit-bukit. Hatiku terasa terisis saat mendengar ibu Rita menanggapi cerita itu dengan penuh emosi. Namun, selamanya orang kecil, ia tak bakal berani bicara lantang di depan orang yang dianggapnya besar. Mereka akan leluasa bicara di depan orang kecil lagi, begitulah kebiasaan yang ada di kampungku.

           Setelah semua beres makan, minum dan merokok bagi laki-laki, mereka pun melanjutkan pekerjaannya. Aku pun ikut tertarik untuk makan di saung, maka aku dan ibuku mengalaskan nasi tumpeng pada piring, lalu makan.

           Siang harinya, ibuku pun mengantarkan kembali makanan. Menunya adalah bubur ketan hitam, kopi dan jeruk bali yang kemarin dipetik di depan rumah. Seharusnya ditambah pepaya, cuma setelah dikupas kulitnya oleh ibuku, aku iseng mengambilnya sedikit, ibuku pun langsung berseru, “ya sudah buat kamu saja. Kalau ada sisa, kasih saja ke Abdul”. Abdul adalah ponakanku, atau anak dari kakakku yang asalnya cantik. Sekarang juga masih cantik, sih, tapi kata suaminya.

           Sebenarnya aku sudah mengalah, dan tak akan mengambil lagi pepaya itu. Tapi ibu bilang kalau yang akan di bawanya sudah cukup, dan kalau ditambah lagi dengan pepaya, akan rumit membawa ke sawahnya. Aku tau kalau itu hanya dalih ibu saja, karena dia tau aku suka pepaya.

           Sore harinya, kakakku yang cantik dan suaminya yang ganteng, datang ke rumah. Katanya kakak datang hendak menjahit celana Abdul dan suaminya yang robek. Di rumahku memang ada mesin jahit yang sudah tua, aku tak tau kalau mesin jahit itu masih bisa dipakai, karena saat kuperhatikan, debu tebal dan sarang laba-laba menyelimutinya. Kakakku pun membersihkannya terlebih daluhu, lalu menjahit. A mahda –suami kakakku- sesekali menggoda dan tertawa karena pekerjaan baru istrinya.

           Tak lama dari itu, A Mahda memintaku untuk mencukur rambutnya. Sebenarnya aku sudah lama tidak mencukur. Seingatku, semasa di pesantren saja aku suka mencukur, apalagi saat musim rajia tiba, santri-santri yang kena rajia berjajar mengantri. Tapi akan aku usahakan selagi kubisa, masalah hasil, lihat saja nanti.

           Setelah selesai, kulihat A Mahda seperti puas akan hasil cukuranku, mungkin lebih tepatnya karena gratisan. Kulihat ia suka sekali melihat kaca, entah karena sedang melihat-lihat kekurangannya atau memang karena lebih percaya diri setelah dicukur, tapi setelah beberapa lama ia tak juga angkat bicara. Kakakku yang sedang menjahit pun ikut menanggapi, “sudah, sudah bagus”.

           Kemudian ibu datang sambil membawa ayam kampung yang diapit oleh tangan kanan dan kirinya, lalu menyodorkan kepada A Mahda untuk segera dipotong lehernya. Alasannya, karena katanya ayam itu muyung dua hari ini, daripada mati sia-sia lebih baik dijadikan teman nasi saja. Saat itu juga, entah kenapa aku jadi berharap ada ayam muyung lagi setiap kali aku pulang.

           Malamnya, aku habiskan untuk menulis tentang Gie dan ideologi pencinta alamnya, karena kebetulan hari seninnya akan dilaksanakan diskusi bersama anak-anak Mahapala Jirim. Waktu itu aku lebih percaya diri untuk menulis, karena sebelumnya sempat baca dulu tulisan Pram, yang mengatakan “bukan urusanku orang mau suka atau tidak kepada tulisanku, urusanku adalah menyuguhkan apa yang aku bisa, dan berbuat yang sekiranya aku mampu”.

           Esok paginya, atau pada hari sabtu, aku disuruh ibu untuk mengantarkan makan dan minum lagi ke sawah, namun bukan mengantar makan untuk yang membantu panen, karena itu sudah selesai tapi untuk yang membajak sawah dan mencangkul. Sawah yang baru kemarin dipanen, mau ditanami padi lagi, soalnya hujan masih suka turun.

           Hampir dua tahun ini, membajak sawah sudah menggunakan traktor. Kerbau-kerbau hilang entah ke mana. Sebelum adanya traktor, masih sering kulihat kerbau berkeliaran di sawah, dan teman-temanku pun selalu asyik bermain dengannya, bahkan aku juga sempat duduk di atas punggungnya yang kenyal.

           Memang kinerja kerbau tak sama dengan kinerja mesin, satu petak sawah besar bisa menghabiskan waktu 3 jam kalau dikerjakan oleh kerbau, sedang pakai mesin, 1 jam itu masih dibilang cukup lama. Bukan hanya soal waktu, tapi pengurusan kerbau pun mesti dengan ketelatenan, karena setiap pagi dan sore harus memberinya makan. Kalau sedang musim panen, para pengurus kerbau itu tak akan kewalahan, karena jerami-jerami bisa dijadikan alternatif untuk makan kerbau, dan saat musim membajak, kerbau itu bisa mendatangkan rezeki bagi pemiliknya.

           Namun tenaga mesin lebih besar dan lebih praktis, perawatannya pun dibilang mudah, tak usah memberinya makan setiap hari, cukup waktu mau digunakan saja. Tentu, hanya yang mempunyai modal besar, sanggup membelinya.

           Membajak bersama kerbau, kini hanya menjadi cerita anak-anak saat di sekolah atau sebelum tidur. Kadang aku merasa kasihan pada anak sekarang, mereka lebih banyak mendengar cerita tinimbang mengalami sendiri.

           Di saung yang sama dengan kemarin, aku mempersilahkan mereka makan. Sekarang cuma ada 5 orang, dan lelaki semua. 4 orang untuk mencangkul dan 1 orang mengendalikan traktor. Yang mengendalikan traktor adalah suami kakakku, A Mahda, cuma traktornya kepunyaan bapaknya, dan setiap ada pekerjaan semacam ini, itungannya bagi hasil. Aku tak tau secara pasti bagi hasilnya berapa-berapa, namun pamanku dari bapak bagi hasilnya 80 untuk yang punya traktor dan 20 untuk pekerjanya, tapi tak ada satu pun warga yang mau jadi pekerja traktor pamanku itu, dan terpaksa pamanku kerjakan sendiri.

           Membajak pakai mesin memang lebih cepat, namun lebih mahal. Biasanya kalau membajaknya pakai kerbau, bisa mencapai waktu 6 hari, setelah menggunakan traktor 2 hari bisa beres. Biasanya biaya membajak pakai kerbau, sampai beres itu Rp. 200.000, tapi setelah menggunakan traktor, mencapai Rp. 400.000.

           Untuk yang mencangkul itungannya perhari, kerja dari jam 06.00 sampai 12.00 dibayar Rp. 25.000, karena modal mereka cuma cangkul dan tenaga.

           Para pekerja biasanya dikasih kopi dan rokok pada jam 06.00. Makan dan rokok jam 07.30. Kopi, rokok dan makanan ringan ala kampung jam 10.30. Itu jadwalku untuk 2 hari ini.

           Aku pun ikut makan bersama mereka, terasa nikmat walau tak ikut bekerja. Salah satu di antara mereka ada yang bercerita tentang tetangganya yang semua pekerjaan dikerjakan sendiri, dari mulai mencangkul, tandur, hingga panen. Katanya itu contoh yang tidak baik, karena menyiksa diri sendiri dan tak memberikan pekerjaan kepada orang lain. Di akhir ia mengatakan “aku senang bila hartaku yang sedikit bisa dimakan juga oleh orang lain karena jasanya, dan aku pun suka memakan harta orang lain karena jasaku.” Sudah semestinya memang, sesama orang kecil harus saling membantu.

           Siangnya aku membantu ibu yang sedang menjemur gabah. Ada seseorang yang bekerja untuk memisahkan antara gabah yang berisi dan yang kosong. Yang berisi dituangkan kembali ke atas giribig, sedang yang kosong dibuang saja, kadang juga jadi makanan ayam.

           Yang bekerja itu adalah bi Een, yang baru pindah sekitar 1,5 tahun lalu. Sekarang-sekarang ini ia memang selalu jadi langganan ibuku untuk diberi pekerjaan, ia tak pernah ngeluh berapa pun upahnya, malah selalu berterimaksih banyak. Sekali waktu aku pernah mendengar cerita pilu kehidupannya, karena sifat ibu yang selalu ingin tau kehidupan orang lain, memaksa bi Een bercerita banyak. Namun raut muka bi Een seolah sudah terbiasa dengan yang aku namai itu penderitaan, ia bercerita tanpa kucuran air mata di pipinya, seolah menceritakan kejadian yang biasa saja, malah ibuku yang kelihatanny menangis.

           Bi Een aku tilai sebagai sosok yang sangat tegar, bahkan ia selalu saja masih bisa memberi, sedang keadaan ekonomi menjepitnya, walau yang diberikannya hanya beberapa pucuk daun singkong dan labu.

           Upah untuk bi Een itungannya perkuintal, 1 kuintal diberi upah Rp. 7.000. Hari itu bi Een mampu memisahkan 5 kuintal gabah berisi, dengan demikian upah untuk bi Een adalah Rp. 35.000.

           Esok paginya, atau pada hari minggu aku berrencana untuk pergi lagi ke Bandung, namun ibu meminta sore saja, karena memang masih banyak pekerjaan. Seperti kemarin, ada jadwal untuk mengantar kopi, rokok dan makan ke saung, terus membantu menjemur dan mengangkat gabah yang sudah kering.

           Sebenarnya berat untuk meninggalkan ibu sendiri di kampung, terlebih saat ibu memintaku untuk tinggal beberapa hari lagi. Namun aku punya tugas lain, dan terlajur sudah memberi janji.

           Saat aku baru selesai mandi, hujan mengguyur. Aku sejenak rebahkan tubuhku di kursi, melihat ke jendela. Di sela-sela guyuran hujan, aku masih bisa melihat bukit-bukit yang menjulang tinggi. Kampung halaman, sudah cukup lama aku meninggalkanmu, dan sekarang kau pun akan kutinggalkan kembali. Baru sedikit saja yang bisa aku ceritakan tentangmu, mungkin lain waktu akan kuluangkan waktuku untuk bercerita tentangmu lebih banyak, terutama tentang kita sewaktu aku masih kecil. Aku hanya titip ibuku padamu, karena kau dan ibuku yang membuat cerita ini ada.

Sekitar jam 15.00, aku pun pergi lagi ke Bandung.

Tuliskan Komentarmu !