BAB 2: 21 MEI 2015

SAVANA- Meresapi kembali Hari Kebangkitan Nasional dengan mengambil api sejarah 65 dan 98, lalu memperhatikan kembali kebijakan yang dilayangkan oleh pemerintahan Jokowi-JK saat ini, apa sudah saatnya untuk mahasiswa turun kembali ke jalan?

Melihat berita yang terjadi pada tanggal 20 mei 2015, aku langsung mengingat novel yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, “Gerakan Punakawan atau Arus Bawah” yang cukup menggelitik hati dan pikiran. Aku tak tahu, apa itu semua hanyalah skenario untuk mencoreng nama mahasiswa dan segenap intelektual lainnya, atau seperti kebetulan saja? Atau mungkin Emha Ainun Nadjib cukup cerdas untuk memperhatikan tingkah-laku dan budaya orang Indonesia, hingga prasangka-prasangkanya tak meleset. K.H Mustopa Bisri pun sempat berujar, “Apa aku yang gila, atau negara ini yang gila” saat hendak membacakan sebuah puisi yang ditulisnya 20 tahun yang lalu, namun masih relevan juga dengan yang terjadi saat ini. Puisinya berjudul “Negeri Amplop”, dan seakan tak ada perubahan, sama seperti 20 tahun silam.

Dalam novelnya, Emha mengambil tokoh-tokoh wayang, seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Sebenarnya ini cerita lawas, yaitu ketika awal mula Islam menyebar di tanah Jawa, namun Emha mampu meramunya hingga terkesan kekinian. Di bagian epilog, Emha menceritkan saat semua elemen masyarakan menyadari akan kebuasan penguasa, kekejaman doktator, lalu berencana untuk menggayangnya. Gareng, Petruk dan Bagong pun ikut serta, karena memang awalnya merekalah yang menyadarkan masyarakat. Namun setibanya di halaman rumah pemimpinnya, telah disiapkan orkestra dangdut dengan penyanyi yang seksi-seksi, berbagai macam makanan dan minuman pun dihidangkan. Semua yang awalnya ingin menggayang pemimpin pun akhirnya malah ikut berjoged, lalu memakan dan meminum berbagai hidangan yang sudah disiapkan, dan acara itu berlangsung tiga hari tiga malam. Sedangkan Semar hanya memperhatikan tingkah laku manusia itu di atas pohon, lalu mendengkur tidur. Setelah acaranya selesai, Gareng panik karena tak mendapatkan Semar di mana-mana, lalu berteriak kepada seluruh warga bahwa Semar telah hilang. Semar sebagai lambang keadilan, kebijaksanaan dan pelawanan kaum tertindas, kini sudah hilang, sudah kalah oleh isi-isi perut pengagumnya. Kaum cendikia, intelektual dan kiayi, kini tak lebih dari piguran yang hanya untuk dipajang di ruang tamu.

Memang tak ada yang bisa berbuat banyak. Kalau sekedar bicara, yang tak tahu-menahu duduk perkaranya pun bicara banyak di media sosial, setidaknya itu menunjukan ketidaksetujuan dan perlawanannya terhadap kepresidenan Jokowi-JK, terlepas ketidaksetujuannya itu melalui pisau analisis atau bersumber kebencian subjektivitasnya.

Walau rezim Jokowi-JK belum genap satu tahun, tapi kebijakannya sudah begitu membuat aku naik pitam. Awalnya aku menganggap Jokowi sebagai anak dari demokrasi, wong deso bisa jadi no satu di Indonesia, yang sekaligus membenarkan anggapan Pramoedya Ananta Toer tentang demokrasi, seperti dalam romannya, “Bukan Pasar Malam” yang mengatakan, “Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Enkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak yang sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu, membuat aku tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh, ini suatu kemenangan demokrasi.” Walau Pram pada akhirnya menyangkal bahwa “kemenangan” itu dapat dicapai jika kau sudah menjadi presiden, menteri, atau setidaknya memiliki modal.

Atau memang sifat Nerimo sing ikhlas dalam ajaran Jawa, begitu diresapi oleh Jokowi, hingga saat ada intervensi asing yang mengobok-obok, ia menerima begitu saja. Memang kata Remy Sylado atau nama aslinya Yapi Tambayon, Nerimo sing ikhlas adalah ajaran tanah Jawa yang begitu luhur, namun ajaran itu hanya cocok untuk wong deso yang yang diapa-apakan oleh pemimpinnya, bukan untuk pemimpin yang akan mengapa-apakan wong deso dan wong cilik. Pemimpin seharusnya bersikap tegas ketika ia sudah mengatakan untuk membela rakyat, bukan goyah dan menerima begitu saja saat berhadapan dengan para investor-investor asing.

Pada akhirnya, ketika harga BBM diserahkan kepada mekanisme pasar, pencabutan subsidi yang absurd dengan dalih pengalihan pada sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ongkos transportasi, harga bahan-bahan pokok, harga jasa dan lainnya yang terlanjur naik, dan tak dibarengi dengan perbaikan ekonomi wong cilik, hingga terasa begitu mencekik, dan dengan sederet alasan lainnya. Aku bersama anak-anak Hima Persis lainnya mendesak agar Jokowi-JK mundur dari kepresidenan dan kewakil-presidenannya. Bukan, bukan karena aku benci pada Jokowi atau Jusuf Kalla, tapi karena aku merasa kasihan pada mereka. Jokowi, kau harusnya mulai menyadari dan berbenah, jika simbol kepresidenanmu tak lagi dielu-elukan oleh wong deso sebagaimana asalmu, dan cita-citamu untuk membela wong cilik harus kalah oleh keluguanmu. Dudukmu di atas sana, tak lagi mengisyaratkan membela kami, maka sebaiknya kau kembali duduk di sini bersama kami, lalu bercerita tentang layang-layang dan tajamnya gergaji, biarkanlah mereka mencari alat lagi.

Pada tanggal 21 mei 2015, aku bersama anak-anak Hima Persis lainnya mengadakan aksi di depan Gedung Sate, di bawah Pimpinan Wilayah Jawa Barat, karena untuk Pimpinan Pusatnya, dilakukan pada tanggal 20 mei di Jakarta. Dengan tuntutan yang sama, yaitu menjemput Jokowi-JK dari kepresidenan dan kewakil-presidenannya.

Sekitar jam 10.10, kami berkumpul di Pusdai. Jumlah kami hanya 15 orang, ditambah 30 dengan malaikat yang berada di sebelah kanan dan kiri kami. Dengan begitu, jumlah 45 tak bisa dikatakan sedikit. Terlebih saat terbesit dalam hati kami masing-masing tentang arti sebuah perjuangan, sebagai mana perjuangan 1945, 1965 dan 1998, kami pun tak pernah goyah walau dengan jumlah yang jauh lebih sedikit ketimbang aksi 65 dan 98. Tak ada iming-iming materi apalagi untuk memperkaya diri, justru ini bukan untuk perut kami.

Setelah bendera dipasang, kami pun berjalan menyusuri jalan dengan membuat dua banjar. Di banjar paling depan, memegang spanduk yang bertuliskan “Cabut Mandat Jokowi-JK”, sedang banjar ke dua sampai akhir memegang bendera Hima Persis. Di depan juga ada orator yang memimpin bernyanyi Halo-Halo Bandung, Buruh Tani dan Mars Mahasiswa, yang dinyanyikan sepanjang jalan, sesekali orator berteriak untuk menyampaikan maksud kami turun ke jalan.

Kami berhenti di depan Gedung Sate, lalu membuat satu saf menghadap ke jalan yang dilewati oleh banyak kendaraan, bermotor maupun bermobil. Aku melihat para polisi sudah bersiap menjaga gerbang Gedung Sate, jumlahnya melebihi kami. Para orator pun kembali menyampaikan maksud kami. Berteriak di tengah jalan adalah satu-satunya cara alternatif, saat dengan tulisan tak dibaca dan dengan khutbah enggan melangkahkan kaki ke mesjid.

Kami pun selangkah demi selangkah maju ke tengah jalan. Aku memperhatikan banyak pengendara yang merasa terganggu oleh kedatangan kami. Dan memang itu maksud kami, mengganggu mereka dari kenyamanannya, mengganggu mereka yang mengurus perutnya sendiri, lalu bersama-sama memperjuangkan banyak perut-perut yang kelaparan. Memang perut kami masing-masing pun masih belum bisa dikatakan cukup dari pikiran manusia kebanyakan, namun niat dan tekad menggadaikan perut sendiri demi perut orang banyak adalah cita-cita kami yang sangat indah. Maka jangan sekali-kali mengatakan, “Urus dulu perut sendiri, sebelum mengurus perut orang lain”, karena itu adalah pangkal apatis, sebab perut tak akan mengenal rasa kenyang.

Saat berada di tengah jalan, para orator bergiliran menyampaikan aspirasinya. Jika sejarah mencatat ada rezim orde lama dan rezim orde baru, maka sekarang kita sedang menghadapi rezim orde paling baru, dan lagi-lagi harus ditumbangkan.

Tak lama kemudian, sang orator menyuruh kami tiduran di tengah jalan. Bukan karena sudah tak waras lagi, bukan pula karena mengantuk, tapi sedang menunjukkan kalau orang-orang yang duduk di Senayan sedang keadaan tertidur pulas sambil memegang perutnya yang kekenyangan. Ya, mereka tertidur pulas, sedang beribu-ribu rakyat menjerit kelaparan. Tentu, bukan “kenyang” sesudah makan nasi dan “lapar” yang hanya dengan makan akan terobati.

Setelah dibangunkan, kami pun membuat satu lingkaran. Lalu berbuat sedikit agak nakal dengan membakar spanduk yang sebelumnya kami kibarkan. Setelah itu, kami bernyanyi lagu Padamu Negeri.

Di akhir, kami duduk dengan membuat lingkaran besar, masih di tengah jalan. Lalu salah seorang di antara kami membacakan pernyataan sikap PW Hima Persis Jawa Barat agar Jokowi-JK mundur, berserta alasan-alasannya. Setelah kurang lebih 2 jam kami berorasi dan bernyanyi, kami pun kembali ke Pusdai. Masih disertai nyanyian dan berjalan berbanjar di tengah jalan.

Memang, berbagai cara manusia untuk menunjukkan kepeduliannya pada Negara dan sesama. Yang dikhawatirkan, saat manusia sudah tak peduli lagi dengan hajat hidup orang banyak, dan memilih mengurusi perutnya sendiri.

Tuliskan Komentarmu !