BAB 2: 20 MEI 2015

Hari Kebangkitan Nasional, itulah yang terselip pada tanggal 20 Mei. Seperti ada sebuah penghormatan buta dengan tragedi 65 dan 98. Sejarah yang pernah tercoret, seperti mengharuskan untuk mengulang tragedi yang sama pada tanggal dan bulan yang sama. Rasanya sudah terlalu sering aku mendengar dan membaca rencana yang bakal terjadi pada 20 Mei 2015 sekarang, seperti ada kerinduan dengan tragedi berdarah-darah. Atau mungkin para penggagasnya itu sudah tau dengan sikap sepeti itu, akan mendapat apa, dan lebih mengharapkan itu ketimbang terilhami oleh ‘api sejarah’nya, karena aku melihat begitu falsnya suara-suara mereka saat di depan polisi atau muka Presiden, tak seperti selentingan-selentingan mereka saat berkata di media-media massa.

Tapi aku tak ingin terus berprasangka soal mereka, walau sudah semestinya setiap perbuatan mendapat penilaian. Aku hanya merasa bahasa ‘kritik’ sekarang sudah banyak disalah artikan. Kritik seolah bukan lagi berarti penilaian atau taggapan, tapi celaan atau bahkan penghukuman. Maka kritik menjadi sesuatu yang mesti dijauhi, karena mencela perbuatan yang tidak baik. Padahal kritik dan mencela dua kata yang berbeda, atau memang ada yang sengaja menyamakannya, yang pada akhirnya menyebabkan manusia dan mahasiswa menjauhi bahasa kritik, lalu lebih doyan mengurusi perut mereka masing-masing. Sekarang aku hanya ingin bercerita soal pengalamanku, dan aku sendiri yang akan menilainya.

Sekitar jam 16.26 aku berangkat ke Viaduc. Sebelumnya aku mendapat kabar bahwa di Viaduc akan dilaksankan bedah film ‘Di Balik 98’. Awalnya aku mengira, aku akan menonton film yang beberapa bulan kebelakang diputar di bioskop-bioskop, namun yang aku tonton ada juga dalam file notebook-ku, namun dengan judul ‘Tragedi 98’. Mungkin yang dimadsud ‘Di Balik’ di sini, karena yang akan dibicarakan bukan soal tragedi berdarah penurunan rezim Soeharto, tapi apa yang melatar-belakaginya, kenapa hampir seluruh elemen masyarakat turut andil atau setidaknya mendukung gerakan tersebut, dan lain-lain. Dan akan berbeda ceritanya bila yang diputar film ‘Di Balik 98’ versi bioskop, yang katanya cenderung romantisisme.

Jam 17.17 aku tiba di Viaduc. Sebagian besar anak-anak Hima Persis yang akan ikut menonton bersama, sudah berkumpul di halaman kantor PP Persis itu. Aku pun menyapa wajah-wajah yang sudah lama tak bertemu. Lalu persiapan pun dilakukan.

Pada jam 19.19, aku merasakan begitu eksotisnya malam itu. 6 lilin dalam gelas dengan elegannya memberikan cahaya di alam terbuka dekat kantor PP Persis. Suara hilir-mudik kendaraan, menjadi alunan tersendiri bersamaan dengan suara senar gitar yang dipetik Deden Delicious. Sebelah kiri layar, ada tenda yang menyediakan kopi gratis, lalu jajanan seperti Ubi Celembu dan Keripik Ubi. Tenda itu bertuliskan “Kafe Lilin. Pujasera ‘98 (pusat jajanan dan sarasehan pergerakan)”. Kami yang berjumlah sekitar 25 orang, duduk lesehan menghadap layar, dimana Deden Delicious sedang memainkan gitar dan bernyanyi lagu-lagu Iwan Fals.

Pada jam 20.02, film ‘Di Balik 98’ mulai dimainkan. Kami pun dengan seksama memperhatikan film itu. Walau aku pernah menontonnya dilain waktu dan tempat, namun suasana yang berbeda, memberikan kesan yang berbeda pula.

Setelah film yang berdurasi 42:33 itu selesai, kang Egi pun langsung maju ke dekat layar, lalu memanggil kedua temannya untuk memperbincangkan film itu, atau lebih tepatnya memoar 98.

Pembincang yang pertama adalah Muhnizar Siagian, ia teman kang Egi yang sama-sama sedang mengenyam pendidikan Pasca Sarjana di Unpad. Aku mendapatkan banyak hal saat itu, bahkan sering aku tersenyum sungging karena banyak hal yang belum terpikirkan olehku, terlebih aku mengakui keterbatasan intelektualku. Namun ia juga mengakui itu, dalam selingan pembicaraan ia mengatakan, “Kita harus mengakui bahwa kita ini masih bodoh”. Ini bukan pelajaran filsafat, seperti saat Socrates mengatakan “Yang aku tau, aku tidak tau apa-apa” adalah ungkapan dari kebijaksaannya. Ini adalah satu pengakuan jujur, karena kami merasa masih terobang-ambing oleh lembar sejarah. Ungkapan “Bangsa Indonesia adalah Bangsa pelupa” pun masih tak bisa dipungkiri, karena sejarah tak ubahnya seperti hiasan kamar, yang hanya dipandang keindahannya saja, tanpa mau berpikir bagaimana cara membuatnya.

Kaum militer mengklaim bahwa kemerdekaan berhasil diraih tak lain dari jerih payahnya. Itu yang menjadikan kaum militer begitu arogannya, terlebih pada masa Orde Baru. Para intelek pada masa itu seakan tak mendapat ruang untuk bernapas, kecuali bagi yang siap mendapat injakan sepatu militer, peluru karet yang bersarang di kaki atau bahkan perut, atau menjadi tapol (tahanan politik). Dari “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” yang ditulis oleh Pramoedya, aku dapat merasakan perihnya menjadi tapol yang dibuang ke pulau Buru, dan sungguh begitu berartinya sebuah kata “kebebasan”. Terlebih yang menjadi tapol waktu itu tanpa proses pengadilan, sebagaimana mestinya negara yang dipayungi oleh hukum.

Sebenarnya pelopor kemerdekaan adalah kaum intelektual. Pramoedya menyuguhkan tokoh Tirto Adji Suryo sebagai pelopor kebangkitan pada awal abad modern, yang mendirikan organisasi Serikat Priyayi, lalu berganti menjadi Serikat Dagang Islam. Di bawah pimpinan H. Agus Salim berganti lagi menjadi Serikat Islam. Tirto juga dijadikan sebagai tokoh pres nasional, karena sebagai pelopor yang mendirikan percetakan untuk Pribumi, pada awalnya bernama Medan Priyayi, lalu berganti menjadi Harian Medan.

Setelah itu, lalu muncullan partai pertama, yaitu Indische Partij, yang digawangi oleh Tjipto Mangunkusumo, Wardi dan Douwager. Berbagai organisasi pun bermunculan, dari organisasi kemasyarakatan hingga berbentuk partai.

Para intelek itulah yang menyadarkan rakyat bahwa sesungguhnya Hindia sedang terjajah, dan mendorong rakyat untuk melawan. Seokarno, Hatta, Syahrir, merupakan bagian dari sosok-sosok intelek yang dengan gagasannya dapat merebut kemerdekaan, walau dari beberapa segi ada kelemahan sebagiamana lumrahnya seorang manusia.

Tragedi 65 pun tak lepas dari sosok-sosok intelek. Soekarno yang seakan lupa pada cita-cita awal kemerdekaan, digayang oleh para mahasiswa yang akhirnya menyudahi Orde Lama. Namun malah menjadi petaka, karena militer yang menjadi berkuasa pada jaman Orde Baru. Begitupun dengan tragedi 98, sosok-sosok intelek menyadarkan masyarakat akan kekejaman Orde Baru. Hingga pada finalnya terjadi reformasi, walau sebagian besar penggagas reformasi mengakui belum sempurna, dalam pengertian harus terus dilakukan.

Lalu di mana sosok intelek sekarang? “Kita harus mengakui bahwa kita ini masih bodoh”, bangsa ini bangsa pelupa, yang tak bisa berkaca pada sejarah, maka harus terus diingatkan. Lalu siapa yang akan mengingatkan jika Profesor dan Doktornya hanya sibuk mengurusi Universitasnya masing-masing? Para sarjana pun masih dipertanyakan keintelektualannya.

Kang Muhnizar selanjutnya mengatakan bahwa demokrasi itu adalah eksperimen. Presiden pertama, Soekarno, adalah sosok intelektual. Seoharto adalah sosok militer yang senantiasa memakai baju militernya saat berkuasa. Habiebie adalah sosok intelektual, namun tak diberi kesempatan banyak. Gus Dur adalah sosok Kiayi. Megawati adalah sosok Ibu yang mempunyai darah Soekarno. Susilo Bambang Yudiono adalah sosok militer yang tak memakai baju militernya saat berkuasa. Dan yang terakhir, Jokowi, rakyat biasa (bukan termasuk golongan priyayi) yang diberi kapercayaan untuk memimpin. Karena demokrasi adalah eksperimen, kang Muhnazir menyarankan untuk mempertahankan Jokowi sementara waktu, karena ditakutkan militer akan berkuasa lagi.

Di akhir, kang Muhnazir mengatakan, kalau kita terlalu pusing memikirkan semberawutnya negri ini, maka harus mengakui ucapan Seo Hok Gie yang mengatakan lebih baik mati muda, atau tak pernah dilahirkan samasekali. Karena semakin banyak mengetahui, maka semakin banyak pula tuntutan dan kewajiban, dengan demikian, semakin bertambah usia, maka semakin bertumpuk pula dosa. Setelah kang Muhnizar mendeklarasikan adanya jomblo struktural, di sini aku pun seakan ingin mendeklarasikan adanya dosa struktural. Tentu, itu hanya gurauan untuk mengistirahatkan pikiran yang sedang dipacu.

Selanjutnya giliran kang Fahmi untuk bicara. Ia amat menyayangkan, yang semestinya menjadi lubung kader intelektual, yaitu orang-orang yang bercokol di perguruan tinggi, tak menunjukan keintelektualannya. Ia pun berbicara banyak mengenai sejarah, bahkan menyuguhkan juga sejarah negara lain sebagai pembanding.

Di Chili, ada sebuah judul lagu yang selalu diteriakan oleh orang Indonesia saat berdemo, yaitu “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan”. Ini menunjukan bahwa seni juga berperan dalam semangat perjuangan, terutama seni sastra. Di Indonesia ada Iwan Fals dengan lagu-lagunya, dan berpuluh-puluh orang dengan puisi, cerpen, sajak, roman, novel dan prosa yang menunjukan perlawanannya terhadap pemimpin yang berkuasa.

Kata Freire, dunia adalah tempat manusia untuk menciptakan sejarah, melawan segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Sejarah kemerdekaan, tragedi 65 dan tragedi 98 merupakan sejarah besar yang melawan ketidakadilan dan penindasan. Dalam penggalan ayat Quran, “Allah tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu yang mengubahnya sendiri.” Satu tuntutan untuk manusia berusaha sekuat tenaga, sebelum semuanya diserahkan kembali pada-Nya.

Selanjutnya kang Egi mengambil alih pembicaraan, setelah mengutip beberapa kata, ia pun mempersilahkan kepada khalayak untuk berbincang bersama. Berbagai pertanyaan dan tanggapan menghiasi telingaku. Saat itu, seperti biasa aku hanya mendengar saja. Bukan berarti kosong sama sekali, namun yang terlintas saat itu berupa curahan hati yang hanya melihat satu lingkup kampus.

Bahasa kritik sangat dijauhi di kampusku, walau dalam slogan-slogan selalu dilayangkan harus kritis, seperti ada doktrin “Lebih baik berkaca dulu pada diri sendiri sebelum menilai orang lain”, yang menyebabkan kampusku begitu sunyi dari berbagai pemikiran, lebih jelasnya apatis. Entah kadung kritik diartikan sebagai celaan yang membuka aib seseorang.

Selanjutnya terlalu gampang mengucapkan “utopis” kepada gagasan yang mencoba ideal, yang pada akhirnya kebanyakan menganut realisme. Aku pun masih kebingungan, apakah kata utopis itu lebih tepatnya dilayangkan kepada subjek yang menggagas, atau objek yang digagas. Aku merasa utopis itu tepatnya dilayangkan kepada objek yang tak mampu mengejawantahkan gagasan yang dikatakan ideal itu. Dengan demikian, aku merasa tak ada satu pun pemikir yang utopis. Namun kadang kala ukuran ideal satu orang dengan orang lain tak sama.

Memang sulit untuk menangkap pembicaraan secara utuh, namun sebelum semua hilang, tak ada salahnya untuk menyimpan yang sedikit. Acara itu pun sekaligus pembukaan Kafe Lilin, dan setiap bulannya akan diadakan diskusi dengan berbagai cara, seperti bedah film, bedah buku, dan lain-lain. Sekitar jam 22.00, acara itu pun ditutup.

Meresapi kembali Hari Kebangkitan Nasional dengan mengambil api sejarah 65 dan 98, lalu memperhatikan kembali kebijakan yang dilayangkan oleh pemerintahan Jokowi-JK saat ini, apa sudah saatnya untuk mahasiswa turun kembali ke jalan? Lebih detailnya bisa dilihat pada catatan 26 Mei 2015.

Tuliskan Komentarmu !