Asep dan Euis (Kisah dari Masalalu)

legenda dari selatan
Ilutrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Apa yang biasa dilakukan manusia ketika marah? Mengajak gulat, memaki, atau menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan? Atau duduk lalu mengambil air wudhu?

Wajah Asep memerah, tapi ia tak tau mesti berbuat apa. Mau mengajak gulat, tubuhnya ceking, kena satu pukulan bisa langsung ambruk. Mau memaki di depan wajahnya, itu sama saja dengan mengajak gulat; memaki di belakangnya, itu adalah dosa yang paling memalukan bagi seorang pria. Mau menahan amarah, ia sudah cukup bosan melakukan itu, dan kini ia merasa amarahnya harus ditunjukkan. Tapi dengan cara apa?

Terlahir sebagai pria yang punya tubuh gemulai memang serba salah. Mau bermain dengan cewek, dikatain banci; mau main dengan laki-laki, tubuhnya terlalu lunglai untuk bertarung. Dia memang punya keinginan, tapi apa artinya sebuah keinginan di dalam dunia .

Hidup Asep berangsur berubah setelah ia mengenal Euis, perempuan yang ototnya lebih kekar ketimbang dirinya. Jika pada dasarnya lelaki selalu kalah dari wanita (yang sayangnya kaum feminis jarang menyadari itu), maka yang terjadi selanjutnya akan mudah kita tebak.

***

Asep duduk di bangku paling depan. Itu bukan keinginannya sendiri. Awalnya ia duduk di belakang, tapi laki-laki yang berotot kekar itu mengusirnya, sedang ia tak punya keberanian untuk mengusir murid lain yang lebih lemah darinya (paling tidak ototnya lebih kuat dari wanita keumuman). Maka tertawanlah Asep sekarang, berhadapan langsung dengan meja guru yang sacral itu.

Pak Kasir –begitu anak-anak yang duduk di belakang sana memanggilnya- datang dengan membawa jidar besar. Sebenarnya nama aslinya adalah Dadang, atau Pak Guru Dadang. Tapi karena ia lebih sering masuk kelas untuk menagih bayaran ketimbang mengajar, maka anak-anak nakal yang duduk di belakang itu jadi lebih suka memanggilnya dengan sebutan Pak Kasir –tentu tanpa sepengetahuan Pak Guru Dadang.

Sebentar lagi akan ada acara study tour, kata Pak Kasir, eh Pak Guru Dadang, maka setiap siswa harus membayar sebesar seratus dua puluh ribu. Tentu anak-anak itu senang saja jika ada acara semacam itu, yang meringis adalah orang tuanya –walau tak semua.

Belajar di kelas itu membosankan, begitu kilahnya, maka sesekali harus belajar di luar. Ya, maksudnya adalah belajar di luar yang harus naik bis dan pergi ke tempat-tempat jauh. Tentu, bukit-bukit dan sawah itu baginya tak ada pembelajaran, yang ada adalah kesengsaraan para petani.

Asep dan yang lainnya mengangguk saja. Bagaimana pun, orang tua mereka harus punya uang, entah dengan menjual sawahnya atau meminjam-minjam ke tetangga.

***

Apa yang bisa dilakukan lelaki lebay jika dipalak uang jajannya? Ya, menyerahkan uang itu dan tak akan pernah bilang kepada siapa-siapa. Asep harus rela pergi ke Yogya tanpa ada uang jajan. Disaat murid lain beli minuman dan makanan, Asep hanya melamun saja. Dan di saat itulah, ia bisa lebih dekat Euis, adik kelasnya yang kesohor galak.

Euis datang sambil memegang dua minuman di tangannya. Ia menawari Asep. Dengan sedikit canggung, Asep pun menerima sodoran Euis. Begitulah, mereka pun akhirnya dekat dan akrab.

Bersambung…

Tuliskan Komentarmu !