Apalagi yang Aku Tunggu Selain Kematian?

Sumber gambar: steemkr.com

SAVANA- Mak Karmah duduk terpekur di depan saung bututnya. Ia lebih suka menyebutnya sebagai saung tinimbang rumah, begitu pun para warga yang lewat atau yang sengaja bertamu. Hari ini ia sudah menyelesaikan segala pekerjaannya yang patut ia kerjaan, maka tinggal lah sekarang ia menantikan malam dengan melamun di depan saungnya.

Tadi pagi ia sudah pergi ke ladang; sekedar memungut rumput-rumput liar yang bisa saja mengganggu tanaman palawijanya, memberi pupuk organik, dan memanggul sedikit kayu bakar agar nanti malam tungkunya dapat mengepul. Tadi siang pun ia sudah pergi ke sumber air untuk membersihkan tubuhnya yang keriput, memcuci perabot dan pakaiannya yang tinggal beberapa helai lagi, dan pulangnya menjingjing sekompan air.

Di depan saung Mak Karmah sebenarnya tak ada apa-apa; selain pohon-pohon, sungai dan bukit yang tiap hari ia saksikan. Namun tiap sore Mak Karmah menatap itu semua dengan nanar, seolah semuanya memberikan pesan sesuatu.

Ketika Mak Karmah masih bocah ingusan, tempat yang didiaminya sekarang merupakan hutan belantara; hanya para pemburu saja yang berani menginjakkan kakinya di atas tanah ini. Mak Karmah hanya berani bermain sampai perbatasan dengan sungai kecil. “Bila kau berani-berani ke sana, nanti ada Kolongwewe yang akan menculikmu, lalu memakanmu.” begitu ancam para orang tua, juga kakak-kakaknya. Mak Karmah dan bocah ingusan lainnya pun tak berani bermain lewat sungai kecil itu.

Keadaan berubah ketika Mak Karmah sudah menjadi gadis, dan mulai menjadi incaran para lelaki. Penduduk bertambah, maka kebutuhan pun bertambah. Warga pun mulai membuka lahan-lahan baru. Yang tadinya hutan menjadi ladang, yang tadinya ladang menjadi rumah. Tak sedikit di antara mereka juga yang menjual ladangnya ke orang-orang baru, yang berasal dari kota; dengan alasan untuk biaya sekolah anaknya dan mereka tinggal membuka lahan lagi di hutan. Ladang-ladang yang dijual itu berubah menjadi vila-vila yang ditempati hanya setahun sekali.

***

Sewaktu gadisnya, Mak Karmah menjadi incaran banyak pemuda. Semuanya petani, dan semua berani mati demi Mak Karmah. Ada yang tinggal satu kampung dengannya, ada yang tinggal di desa tetangga sebelah utara, ada juga yang tinggal di desa tetangga di sebelah selatan. Sedang sebelah barat dan timurnya masih rimbun oleh pepohonan.

“Mekar, nanti malam akan ada pertunjukkan wayang golek di Balai Desa. Mau kah kau ikut menonton denganku?” Rayu salah satu pemuda yang sekampung dengannya, dan entah dari mana usulnya memangggil Mak Karmah dengan Mekar.

“Maaf, saya tak berani keluar malam-malam sendirian, Kang.” tolak Mak Karmah halus.

“Nanti akan saya ajakkan Sari untuk menemanimu, bagaimana?”

“Orang tua saya tak mengijinkan, Kang. Maaf.”

Karmah terkenal sebagai gadis yang tak mudah ditaklukkan. Semakin bersikeras ia, maka semakin penasaran orang-orang kepadanya.

Tiga orang pemuda tertolak mentah-mentah. Selain karena Karmah merasa dirinya masih belia, tapi juga pemuda-pemuda itu baginya tak cukup punya etika untuk menyampaikan rasa cintanya.

Semakin matang, Karmah semakin dipuja orang. Karmah tak hanya mendapat rayuan gombal lewat surat-surat, tapi juga mendapat gangguan saat malam tiba; kata orang tuanya, itu pelet. Karmah semakin dijaga ketat oleh orang tuanya, bahkan sempat sampai memanggil ustad. Ustad itu hanya menasehati agar memperbanyak mengingat-Nya, karena hanya Dia lah yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Karmah bukan keturunan bangsawan; orang tuanya petani biasa. Kulitnya pun cokelat langsat, kulit yang selalu tersinari matahari. Wajahnya sedikit ayu, wajah lazim khas pedesaan. Namun Karmah hanya punya satu ketertarikkan, yakni tak mudah tergoda orang. Belum ada seorang pemuda pun yang berhasil membujuk rayunya.

Beragam cara para pemuda itu untuk menunjukkan rasa cintanya. Ada yang lewat surat, ada yang mengirimi bunga, ada yang hanya lewat doa, ada juga yang berani sampai mendatangi rumah kedua orang tuanya. Dan semua harapan itu, tak terbalas.

Sebenarnya Karmah sempat tertarik kepada beberapa orang pemuda. Ia manusia biasa yang di dalam hatinya ada bulir-bulir cinta. Namun keadaan belum menyatukan mereka. Kadang Karmah ingin melihat seberapa jauh pengorbanannya, namun setelah Karmah memutuskan untuk membalasnya, pemuda itu sudah menyerah dan berpindah haluan ke lain hati. Kadang Karmah menyukai pemuda yang diam-diam suka meliriknya, menyempalkan nama Karmah dalam doanya. Namun karena melihat betapa susahnya untuk mendapatkan Karmah, ia pun bercinta hanya lewat doa dan Karmah tak kuasa untuk mengungkapnya duluan. Kadang juga Karmah menyukai pemuda yang tak sedikit pun meliriknya. “Ini hanya belum waktunya.” bisik Karmah di dalam hati.

Pemuda-pemuda yang memuja Karmah mulai berguguran. Penantian dan pengorbanan ada batasnya. Kehidupan harus berlanjut, dan kalau tak mendapatkan mutiara, emas pun tak mengapa, atau perak, atau besi sekali pun.

Karmah kadung menganggap dirinya mutiara, maka ia pun sangat rikuh jika harus mulai berbicara. “Kadang, mutiara tak mesti ada yang memiliki.” begitu bisiknya.

Orang tua Karmah mulai mengingatkan, bahwa tak selamanya ia akan hidup dan sanggup menghidupi Karmah. “Lahan kita semakin sempit dan gersang. Kau harus segera mencari pasangan, Neng!” nasihat Bapak Karmah.

“Jangan terlalu banyak pilih, Neng. Toh tiap manusia ada baiknya, ada jahatnya.” Nasihat Ibu Karmah.

***

Matahari kian menepi ke Timur. Bukit yang dulunya rimbun oleh pepohonan, kini sudah gersang oleh ladang. Petani-petani hanya mengandalkan musim hujan untuk menumbuhi bebijian mereka. Sumber air sudah sangat mengecil, hanya mampu memfasilitasi kebutuhan sehari-hari, tidak untuk menyiram ladang; apalagi mengairi sawah.

Mak Karmah makin menatap nanar. Orang tuanya sudah lama meninggal dan hanya meninggalkan ladang yang kini ia tempati. Kakak-kakaknya merantau entah ke mana, dan kini ia sudah tak ingin mengingatnya. Tentu ia tak punya anak, tak punya cucu untuk ditimang-timang.

Jikalau ia menyelesaikan semua pekerjaan agak siang, Mak Karmah selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Mak Sari, atau sebaliknya.

Rumah Mak Karmah dan Mak Sari dibatasi dua ladang dan satu sungai kecil. Rumah Mak Karmah agak terpisah dari perkampungan, karena rumahnya yang dulu di jual untuk menutupi biaya pemakaman ayahnya, dan sisanya untuk membangun saung dan menyulam kehidupannya. Sedang rumah Mak Sari berada di ujung kampung, yang langsung berbatasan dengan sungai kecil.

Mak Sari merupakan satu-satunya sahabat Mak Karmah yang masih hidup. Dari dulu mereka suka saling membantu, dan tanpa ragu-ragu mereka pun saling meminta bantuan. Mak Sari sudah punya tiga orang anak, dan lima cucu. Dua anaknya tinggal di desa tetangga, dibawa mantunya, dan menjadi buruh tani. Satu anaknya yang masih tinggal sekampung dengannya kerja serabutan; kadang jadi buruh tani kadang juga jadi penjaga vila. Mak Sari pun kerja sendiri untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari, sedang suaminya sudah meninggal.

“Beruntung kita ini, bisa hidup sampai setua ini.” ucap Mak Sari di satu waktu.

“Teman-teman kita sudah tak menyaksikan dunia sekarang. Tapi sepertinya kita akan segera menyusul.” balas Mak Karmah.

***

Matahari sudah hilang di balik bukit. Kini yang tersisa hanya pancaran warna jingga. Mak Karmah berbegas ke dalam saung; mengambil cempor yang lalu menyalakannya dengan korek api.

Ia langsung bergegas ke dapur, ke depan tungku. Masih ada beras untuk dimasak, daun singkong dan sambal terasi sebagai lauknya, dan ubi jalar sebagai cemilan malamnya.

Sebelum tidur, ia tak lupa memanjatkan doa kepada Tuhan. “Semoga besok air masih dapat mengalir jernih. Tanamanku bisa tumbuh walau tanpa disiram. Dan matahari masih terbit.”

Tuliskan Komentarmu !

Nurdin A. Aziz merupakan anak bungsu bagi ibu kandungnya dan adik terkecil bagi kakak-kakaknya.