Antara Naik Level atau Hancur Sendiri: Mau Pilih yang Mana?

Sumber gambar: klikpositif.com

SAVANA- Masalah selalu melekat pada diri kita. Ini sudah menjadi sunnatullah, dan juga di sisi lain, menjadi kebutuhan dan kebaikan bagi kita sendiri. Sehingga, jika sudah selesai masalah yang satu, muncul masalah yang lain. Bahkan jika masalah itu tidak selesai dengan baik, tetap muncul masalah yang lain lagi.

Ke mana pun dan di mana pun, masalah akan terus menghampiri dan menimpa kita. Tak perlu berlari dari kenyataan itu, sebab Allah s.w.t sudah mempersiapkan diri kita dalam beradaptasi hingga menyelesaikan berbagi masalah. Allah s.w.t berikan berbagai potensi yang sengaja mesti kita fungsikan dengan baik.

Masalah membuat diri kita terangsang bahkan terpaksa untuk berpikir dan bergerak. Semakin bertambah dewasa, semakin bertambah masalah. Semakin naik strata sosial, semakin kompleks juga masalahnya. Puncaknya, masalah itu harus menambah kuat keimanan yang tertancap di hati.

Masalah dan kompleksitasnya, sengaja dibuat melekat oleh Allah s.w.t agar kita senantiasa berserah diri kepada-Nya. Kita memiliki keterbatasan menampung beban-beban masalah. Satu-satunya cara yang harus ditempuh adalah menyerah kepada Allah s.w.t.

Berserah diri lah pada Allah s.w.t, terima semua ketetapan-Nya. Ikuti dan jalani apa yang diperintahkan-Nya. Meski pada awalnya sulit, meski kita awalnya menderita.

Jika keberserahan diri kita hanya kepada Allah s.w.t saja, maka akan timbul harapan dan sangka sangka baik (positive thinking). Harapan dan sangkaan baik ini akan menambah tenaga pada diri kita untuk terus berjuang. Menguatkan daya tahan (endurance) terhadap masalah yang sedang dijalani. Hingga pada akhirnya kita memiliki kesabaran yang baik.

Kesabaran dan Batas Masalah

Pahamilah bahwa masalah itu memiliki kadarnya. Jika kadarnya sudah habis, dan prosesnya kita jalani dengan sabar terbukti dengan semua perintah Allah s.w.t kita jalankan. Biasanya Allah s.w.t akan memberikan karunia-Nya untuk kita.

Sebaliknya, jika kita menyerah pada masalah, lari dari Allah s.w.t, yang terjadi adalah ketidakpuasan, kekecewaan, hati nurani kita akan menjerit-jerit. Ada kekosongan dan kehampaan yang pasti mencekam hatinya. Mungkin ia bisa senang-senang, tapi jelas tak bahagia. Hanya satu hal yang bisa memutus ‘kegilaan’ dirinya, yaitu taubat.

Sadarilah, saat kita harus berhadapan dengan berbagai masalah yang begitu kompleks, sekecil dan sebesar apa pun masalah itu, berserah diri lah pada Allah s.w.t. Bersamaan dengan itu, kesabaran menjalani masalah akan muncul. Harapan dan sangka baik kepada Allah s.w.t juga muncul. Bahkan potensi terbaik, Allah s.w.t memunculkan wasilah kita belajar dari masalah yang dihadapi. Naik lah level derajat kita di pandangan-Nya.

Tapi jika kita memilih lari dari Allah s.w.t, menjauh dan tak mau berserah diri, maka rasakanlah kehancuran. Rasakan sendiri kehampaan, kenestapaan, dan perihnya tak ada sakinah dalam hati dan pikiran. Beban-beban masalah itu pada akhirnya justru memadamkan potensi terbaikmu.

Jadi, mau naik level atau hancur sendiri?

Tuliskan Komentarmu !