Anakku Berteriak Uno tapi Tanpa Kata Sandi

sandiaga uno
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Aroma Pilpres semakin riuh di seantero jagad. Di dunia nyata atau di dunia maya, sama saja. Apalagi sejak berita-berita kontroversial yang ada sangkut pautnya dengan politik, mata dan telinga kita ini dimanjakan dengan kehebohannya. Hambok yakin, orang-orang yang dulu cuek-cuek saja, sekarang mau tidak mau akan melirik berita. Paling tidak mereka akan mengenal nama-nama yang rutin diperbincangkan publik dan netijen. Salah satunya adalah abang idola kita Sandiaga Uno. Iya, kaaaan?  Iya doooong.

Kalian para pendukung Jokowi, tidak perlu memandang sebelah mata dengan sosok ini. Tidak perlu juga merasa alergi. Di deretan temlen facebook namanya hangat diperbincangkan. Sehangat tempe mendoan yang baru diangkat dari penggorengannya.

Statemen Abangda satu itu juga ramai jadi buah bibir kita semua. Ngehits dan cetar.  Tempe setipis kartu BPJS, eh.. kartu ATM misalnya. See, selain rupawan beliu ini rupanya pintar membuat topik pembicaraan yang tidak berat-berat amat, tapi juga tidak ringan-ringan amat. Pas. Penuh pertimbangan sosial dan ekonomi, juga mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kapan lagi kita dengan sangat enjoy menyandingkan irisan tempe dan sebuah kartu bernama ATM dalam bingkai yang sarat makna? Belum lagi tempe saset, yang biasa kita dengan hanya shampo saset. Brilian, kan? Tidak terpikirkan khalayak. Denger-denger, sekarang beliu ini lagi terkejut dengan fenomena tempe segede tablet. Amazing daaahh.

Saya kagum atas kekaguman beliu terhadap fenomena tempe dan ragamnya. Saya kagum atas segala pernyataannya yang mengatasnamakan tempe. Saya kagum atas kelihaiannya menyulap hal-hal biasa jadi tampak luar biasa dan layak diperbincangkan netijen seantero Nusantara. Saya kagum atas penjelasannya terhadap hal-hal sederhana menjadi hal-hal yang begitu out of the box dan mbulet tiada tara. Saya kagum akan perhatiannya terhadap tempe. Segitunya, loh!  Maka, apakah kalian semua mau ikutan kagum juga, wahai para netijen?

Semakin ke sini, sepertinya Abangda Sandiaga Uno ini makin terkenal aja. Mendadak jadi idola di sana sini. Bagi emak-emak apalagi, hmmm… Iya,  hmmmm aja deh. Saya takut untuk berkomentar.  Nanti nganu. Mending saya raup dulu gaessss.

Bahkan beberapa teman yang biasanya agak garang dengan masalah pengidolaan kecuali atas Nabi dan orang-orang sholeh, tiba-tiba tanpa malu-malu menyatakan bahwa Sandiaga Salahudin Uno adalah idola. Oohhh yes, maybe, sekarang Abangda Sandi sudah resmi masuk jajaran orang-orang sholeh dengan gelar barunya sebagai ulama. Untuk hal ini, monmaap sekali, tiba-tiba saya pengin nyamar jadi pohon biar ndak usah ikut komentar.

Atau saya lanjutkan pekerjaan masak di dapur sambil pura-pura baca postingan kalian yang memuja muji Abangda Sandi itu?  Kepura-puraan ini perlu saya lakukan supaya nanti hubungan kita sebagai sesama teman masih baik-baik saja terlepas dari dukung mendukung capres dan cawapres. Mau selantang dan senyaring apapun kau berteria, saya anggap itu sebuah nyanyian dari radio yang boleh didengarkan atau disetel volumenya.

***

“Unoooo!!  Unoo… Unooo!!”

Tiba-tiba saya terhenyak. Pekikan itu terdengar sangat dekat. Seperti dari dalam rumah sendiri. Ramai dan riuh.

Saya shocked. Memang dari dalam rumah, dan itu suara anak-anak saya.

Oke, fain. Saya harus mengakhiri penyamaran saya menjadi pohon. Saya tidak mau anak-anak saya ikut-ikutan bicara tentang politik sebelum masanya. Saya harus turun tangan dan berkomentar. Apalagi saya ini pendukung Jokowi-Ma’ruf, eh. Maksud saya,  saya juga dukung lah Prabowo-Sandi, untuk mencalonkan diri tentunya.  Begini sudah kelihatan fair, kan?

Wahai netijen yang budiman, saya harus menjelaskan apa ke anak-anak? Apakah saya harus bicara tentang pemilihan umum yang LUBER? Ah, tidak relevan. Harusnya LUBE saja, toh R alias rahasia itu semacam pemanis belaka untuk sekarang ini.  Hmmmm.. atau tentang capres cawapres? Tapikan mereka belum saatnya punya hak pilih! Atau tentang kampanye politik santun tanpa hasut dan hoaks? Berat. Kalian yang dewasa saja belum tentu bisa mencernanya, apalagi anak-anak.

Atau saya jelaskan saja tentang Sandiaga Uno?  Tapi.. mau ceritakan bagian yang mana?  Ibarat menyusuri jalanan, jejak kakinya sudah banyak tersapu hujan. Berganti jejak baru yang sungguh tidak saya mengerti. Terlalu indah dan menyilaukan.  Aaarrggggghhhh….

Ya sudahlah, mendingan saya tanyakan dulu pada anak-anak. Apa yang terjadi dan mengapa bisa demikian, karena  bertanya pada netijen seringnya bukan solusi yang didapat, tapi masalah baru. Bukankah begitu, Kisanak?

Belum sempat beranjak, terdengar lagi teriakan yang sama, “Uno..!  Unooo…!” Lalu terdengar sedikit keributan.

Saya kok jadi agak khawatir jika terjadi pertengkaran anak-anak akibat kecenderungan politik. Belum waktunya. Dan jangan pernah.

Bergegas saya menghampiri.

Anak-anak saya dan anak-anak tetangga sedang duduk melingkar di lantai. Tidak ada tanda-tanda tawuran. Okesip.

Tangan mereka sibuk mengambili kartu dari tumpukan di depannya. Kasak kusuk sebentar. Mamadupadankan kartu-kartu. Lalu,  “Unoo!!” Saya lihat kartu-kartu itu bertuliskan UNO. Berserakan di tengah.

Yaelah… mendadak saya merasa nganu. Mendadak saya pengin raup.

Batin saya protes, “Bisa nggak sih, UNO-nya diganti jadi SATU aja, gitu!”

Baca Juga: Sok Jadi Pengamat Politik

Tuliskan Komentarmu !