AMONG US DAN HAL-HAL YANG ADA DI SEKITAR KITA

among us

SAVANA- Barangkali salah satu sifat dasar manusia adalah latah, atau mungkin hanya saya saja? Entahlah. Tapi yang pasti, baru-baru ini dunia peryutuban sedang ramai-ramainya game Among Us, bahkan seorang Raditiya Dika pun (yang kita kenal sebagai penulis cum komika cum sutradara itu), ikut memainkannya. Sebagai orang yang ingin dipuji kritis, tentu saya tidak latah begitu saja…

sampai akhirnya salah satu teman saya mengajak untuk bermain game tersebut, dan akhirnya saya pun mengunduh game tersebut di play store, dan mulai belajar cara memainkannya.

Setelah beberapa kali bermain, saya pun mulai agak paham bagaimana game ini bekerja. Secara teknik, game itu tidak terlalu sulit, yang sulitnya adalah  bagaimana kita menganalisis (kalau sebagai manusia biasa), dan mengibuli atau memfitnah kalau menjadi Impostor (pembunuh).

Bagi orang yang terbiasa berbohong dan memfitnah, tentu enteng saja bermain game ini. Tapi bagi saya yang alim dan baik hati (anda boleh tertawa sepuasnya), bermain game ini sangat-sangat-sangat merepotkan.

Memang kita bisa saja bermain game ini tanpa berbohong dan tidak memfitnah, tapi kita hanya punya dua pilihan. Pertama menjadi manusia biasa (bukan pembunuh), dan kedua akan kalah kalau terpilih menjadi pembunuhnya.

Bagi anda yang belum mengerti alur permainan ini, saya akan jelaskan sedikit.

Jadi begini, kita bermain dengan sepuluh orang, lalu saat memasuki area game, ada orang yang dipilih oleh sistem game sebagai pembunuh (bisa 1, 2 atau 3 tergantung pengaturan kita). Si manusia biasa diberikan misi untuk menuntaskan beberapa hal, dan si pembunuh harus membunuh mereka sebelum misi mereka selesai, tentu tanpa diketahui oleh si manusia biasa yang lain.

Saat mayat yang terbunuh ditemukan, kita bisa melapor, maka kita bisa memulai diskusi, siapa diantara sembilan orang yang masih hidup ini yang menjadi pembunuhnya? Di sinilah kita bisa menjadi detektif (kalau menjadi manusia biasa), dan jadi tukang bohong dan pemfitnah kalau jadi pembunuhnya.

Kalau mereka si manusia biasa menjawab tepat, maka mereka pemenangnya. Namun jika tidak, maka si pembunuh inilah yang jadi pemenangnya.

Apakah game ini seru? Tentu iya. Kalau si pembunuhnya jago mengibuli. Coba kalau dari awal si pembunuhnya bersifat jujur dan mau mengaku kalau ia pembunuhnya, apalagi tantangan yang ada di dalam game ini?

Tapi apakah diperbolehkan kita berbohong dan memfitnah di dalam sebuah permainan? Yang baru saya tau, kita tidak tidak boleh berbohong hanya untuk membuat orang lain tertawa. Tapi untuk sebuah permainan, saya belum tau . Kita tunggu saja sampai ada fatwa haram dari MUI.

Tapi tunggu dulu, sebelum kita mengharamkan game ini, coba lihat dulu dengan hal-hal yang ada di sekitar kita. Atau mungkin, game Among Us ini sebenarnya keseharian kita yang sesungguhnya?

Sekali lagi saya tegaskan, game ini menjadi menarik kalau si pembunuhnya jago mengibuli dan memfitnah. Apakah dengan hidup di Indonesia juga begitu? Kalaulah para koruptor itu mengaku, kalaulah Pak Terawan mau angkat suara ke Mata Najwa, kalaulah kasus Pak Novel Baswedan itu dituntaskan, kalaulah pembunuh Munir itu terungkap, kalaulah para pelanggar HAM itu ditangkap, dan sebagainya dan sebagainya, lalu apalagi tantangan kita hidup di Indonesia ini?

Ya, game Among Us ini sebetulnya hanya ingin menunjukkan bagaimana hidup kita yang sebenarnya di Indonesia ini. Dan kita si manusia biasa, emang sangat suka sekali asal nuduh dan melabeli sesuatu, sebelum nantinya kita sendirilah yang menjadi korbannya.

Gimana, sudah sangat menantang kan bermain Among Us nya di dunia nyata ini?

Tuliskan Komentarmu !