Aminah Yang Janda Itu

sumber gambar: umminani.com

“Maling datangnya cuman sekali, tapi kita rondanya harus tiap malam.” gerutu Pak Kosim sambil menumpuk ranting-ranting kering di depan pos ronda. Sudah seminggu ini mereka menghabiskan tiap malamnya di depan pos ronda, sambil catur atau main gaple.

“Ya enak kalau punya uang, tinggal bayar, kelar!” jawab Pak Sutarna sambil melempar kuntung rokoknya ke atas tumpukan ranting-ranting yang disusun Pak Kosim.

Seminggu lalu, rumah Aminah kedatangan maling, dan ia mencuri televisi beserta perhiasan. Sejak itu, Ketua RT mengintruksikan untuk mengadakan ronda kembali, setelah beberapa bulan divakumkan. Jadwal ronda sudah disusun, bahkan sudah disahkan. Namun banyak yang keberatan dengan alasan ini-itu, hingga jalan keluarnya, yang tidak bisa meronda harus membayar uang sebesar Rp. 10.000,- sebagai konsumsi untuk orang yang meronda. Karena keputusan itu, akhirnya banyak yang memilih untuk membayar saja, ketimbang begadang semalaman hanya untuk main catur atau gaple. Pak Kosim, Pak Sutarna, Pak Bahrun dan Pak Taryat yang akhirnya harus menanggung ronda tiap malam.

“Duh, aku jadi rindu istriku. Sudah seminggu coba gak menengok-nengok.” ujar Pak Taryat sambil cekikikan.

***

Aminah sudah punya dua orang anak, sedang umurnya baru berkepala dua; usia yang umumnya sedang khusu-khusunya mencari ilmu. Aminah menikah di usia 17 tahun, setelah seminggu mempunyai KTP. Teman sebayanya banyak yang memilih merantau ke kota, untuk menjadi penjaga toko atau apa yang penting dapat uang. Ia sempat diajak temannya untuk merantau juga ke kota, tapi nyalinya kecil dan memilih untuk terus hidup saja di desa.

Sejak kecil, Aminah sudah terbiasa bekerja di sawah atau ladang. Ia pun melihat calon suaminya begitu, maka tak ada alasan baginya untuk menolak pinangan calon suaminya itu: Lantang. “Satu keberkahan jika ada yang berniat baik untuk anak gadis saya.” ujar Ayah Aminah saat menjawab pinangan Ayah Lantang.

Aminah dan Lantang pun menikah disaat sawah-sawah baru selesai dibajak, dan mereka hanya tinggal menanam, merawat, hingga memanennya.

Tak ada aral melintang yang cukup berarti di tahun pertama dan kedua, hingga mereka mempunyai seorang anak yang bisa dijadikan penghibur. Kegundahan terjadi di tahun ke tiga, saat Lantang tergiur untuk berangkat ke Sumatera menyusul teman-temannya yang bekerja di perkebunan sawit.

“Gajinya besar, Tang! Gaji buruh pabrik di kota gak ada apa-apanya.” rayu teman-temannya, hingga membuat Lantang tidak begitu nyeyak tidurnya, hingga esoknya ia memutuskan untuk berangkat juga ke Sumatera.

“Kalau Ade ada apa-apa, gimana? Kalau di sana terjadi sesuatu sama Kakang, gimana?” rengek Aminah.

“Kan di sini masih ada bapak dan ibu yang bisa jagain kamu sama Ade. Lihat Pak Danu, ia sudah lima bulan bekerja di Sumatera, lihat kan hasilnya? Dan semua akan baik-baik saja.” bujuk Lintang.

“Itu kan Pak Danu! Yang terjadi pada Pak Danu, belum tentu terjadi pada Kakang.”

“Kok sekarang kamu jadi cengeng gitu, sih.”

“Kata ibu, aku ngisi lagi, Kang!”

“Oya…? Bagus dong! Berarti Kakang harus lebih semangat lagi cari duitnya.”

***

Di depan pos ronda, Pak Bahrun mulai menggelar tikar. Ranting-ranting yang disusun Pak Kosim sudah disulut, dan mulai memercikkan api. Pak Taryat mulai menyiapkan untuk menyeduh kopi hitam, empat gelas. “Ingat, ngoceknya 33 kali putaran, ya!” komentar Pak Kosim. Pak Sutarna mengambil kartu gaple yang disempilkan sela-sela tiang pos ronda.

“Tiap malam kerjaannya gini mulu.” sela Pak Bahrun.

“Terus situ maunya main apa? Main janda?” komentar Pak Kosim berkelakar.

“Kalau mau, sekalian sama Taryat, katanya ia sudah kebelet tuh. Hahaha” timpal Pak Sutarna.

“Ya bukan gitu juga. Habisnya tiap kali kita ngeronda, malingnya selalu gak ada. Padahal aku sudah gak kuat ingin menggebukkin tu maling.”

“Kalau ada yang ngeronda, maling juga mikir-mikir, kali.”

Hampir selalu begitu. Tiap ngeronda diberhentikan, maling selalu muncul lagi; entah membobol rumah warga atau membobol kandang domba. Tapi tiap kali ngeronda digelar, aksi maling tak terdengar lagi. “Kita yang goblok atau maling yang terlalu pintar?” tanya Pak Sutarna retoris, sambil membagi-bagikan kartu gaple.

“Tapi kenapa juga rumah Aminah yang dibobol? Padahal kan tv-nya jelek, perhiasannya sedikit. Kasian juga dia, kan. Suaminya gak ada, anaknya dua. Sungguh maling yang tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Coba kalau ke rumah Pak Danu. Tv-nya bagus, perhiasannya juga banyak. Sungguh maling yang tolol.” ujar Pak Taryat sebelum membuka kartunya. Dan ketika kartunya di buka, ia sedikit menelan ludah, pasalnya balak enam dan balak kosong ada di tangannya.

“Situ yang bego.” timpal Pak Sutarna sambil membuka kartunya. “kalau yang dibobol rumah Pak Danu, jika yang punya rumahnya bangun, bisa babak belur tuh maling. Tapi kalau rumah Aminah yang dibobol, kalau Aminahnya bangun, tinggal tendang, sudah mampus.”

***

Tiga bulan kepergian Lantang ke Sumatera masih menyisakan kabar, bahkan Lantang sempat juga mengirimkan sejumlah uang yang dititipkan kepada temannya yang pulang. Bulan selanjutnya tak ada lagi kabar dari Lantang.

Menurut kesaksian teman sepekerjaannya, Lantang menolak saat diajak pulang, malah ia hanya menitipkan uang. Saat bekerja, Lantang ditilai sebagai orang yang giat, bahkan selalu disanjung oleh bosnya. Tapi setelah sebulan bekerja, ia selalu menghilang setelah pekerjaan usai. Tak ada yang tau ke mana Lantang pergi. Konon alasan Lantang tidak pulang karena bosnya mengajak ia bekerja lagi di bagian perkebunan lain.

“Apa bosnya itu punya anak gadis?” introgasi Aminah.

“Ya nggak tau. Ia tak pernah bawa keluarganya saat bekerja.”

“Kalian pernah ke rumahnya, mungkin.” tanya lagi Aminah.

“Ya pernah. Tapi hanya di luar, hanya untuk makan. Itu pun cuma sebentar.”

Bagi Aminah, atau perempuan lainnya yang sedang mengandung, kabar dari suaminya yang bekerja jauh adalah segalanya. Malam-malam selanjutnya Aminah hampir tak bisa tidur. Ia mencemaskan suaminya. Aminah sempat menyangka kalau handphone suaminya hilang, hingga ia tak bisa memberikan kabar. Aminah menyangkan kalau suaminya kepincut gadis Sumatera, anak bosnya atau siapa pun itu yang pasti Aminah yang akan ditinggalkan. Aminah sempat berpikir kalau suaminya kecelakaan, hingga ia tak kuasa memberikan kabar. Aminah tak tau pasti yang mana yang harus lebih dipercaya.

Sudah enam bulan Lantang belum juga ada kabar, hingga sampai waktunya Aminah melahirkan. Teman-teman Lantang yang sudah kembali bekerja ke Sumatera, sama tak taunya dengan Aminah; mereka hanya tau dari bosnya kalau Lantang enam bulan lalu, pergi tanpa mengundurkan diri. Tak ada juga berita tentang kecelakaan atau penemuan jenazah yang hanyut di kali. Lantang pergi tanpa secuil pun pesan.

Anak Aminah yang pertama adalah Wulan. Lantang yang memberi nama itu. Sedang anak keduanya, Aminah sendiri pun masih kebingungan mau mengasih nama apa, karena belum genap seminggu. Aminah masih memikirkan Lantang.

***

“Timpa enamnya, biar balak enam gak bisa keluar…! hahaha” teriak Pak Kosim.

“Wokeh…” timpal Pak Sutarna sambil menimpa angka enam. Pak Tarya hanya bisa menelan ludah, sambil membatin.

***

Seminggu lalu, rumah Aminah kedatangan maling. Sebenarnya Aminah terbangun saat lemarinya diobrak-abrik maling yang wajahnya bersembunyi di balik sarung ala-ala ninja itu, namun Aminah memilih bungkam. Aminah hanya memeluk Tasya, bayinya yang baru berusia delapan bulan.

Setelah sekian lama, kini Aminah baru merasa kalau dirinya adalah janda. Orang-orang sudah memberi taunya, kalau suami sudah tidak menafkahi dan memberi kabar selama tiga bulan, maka secara tidak langsung sudah terjadi perceraian. Namun Aminah bersikeras, bahwa Lantang masih menjadi suaminya, dan suatu saat akan kembali.

***

“Kasian sekali si Aminah itu, yah?” ujar Pak Taryat sambil mengocok kartu gaple.

“Yang perlu dikasihani itu yang seusia dengannya tapi belum merasakan enaknya kawin. Hahaha” jawab Pak Sutarna mengolok-olok.

“Kawinnya enak, berrumah-tangganya yang berat. Kaya yang belum ngerasain saja bagaimana jika istri marah.” sela Pak Kosim.

“Tapi ya kita lihat sikap si Aminah itu; lebih dewasa ketimbang pemudi-pemudi yang belum menikah. Bandingkan dengan si Susi; tiap hari dandan, kerjaannya cuman jalan-jalan.” timpal Pak Sutarna lagi.

***

Susi adalah anak Pak Kayat. Selesai sekolah ia merantau ke kota, dan menjadi penjaga toko pakaian. Namun ketika pulang kampung saat lebaran, Susi disuruh oleh ibunya untuk terus tinggal di kampung, merawat neneknya yang sudah mulai sakit-sakitan. Setelah neneknya meninggal, Susi kebingungan mau melanjutkan hidup seperti apa: mau merantau lagi ke kota belum tentu akan diterima lagi kerja, mau bertani masih ogah, mau menikah tapi entah dengan siapa. Akhirnya Susi hidup sekedarnya, bagaimana nafsu menggiringnya.

Susi suka bertamu ke rumah Aminah, membantu mengasuh anak-anak Aminah sekemauan hatinya. Saat itu Susi agak sungkan untuk cepat-cepat menikah. Akhirnya ia membuat kriteria calon suami yang tidak seperti Lantang: anak petani miskin yang punya sawah sedikit, cuma lulusan SMP, dan suka bepergian jauh. Susi sempat menolak pinangan seorang lelaki yang kriterianya seperti itu.

***

“Mimpi apa kau semalam? Kalah melulu.” ujar Pak Sutarna kepada Pak Taryat.

“Semalam kan kita di sini, main gaple, gak ngimpi apa-apa.” jawab Pak Taryat sayu, karena kalau sekali lagi kalah, maka ia akan dinobatkan sebagai RT, dan harus terus mengocok sampai ada RT baru.

***

Aminah menggendong Tasya yang sedang rewel, sedang Wulan sudah terpulas tidur.

“Nak, ayo tidur Nak! Besok ibu harus kerja.” bisik Aminah.

“Kenapa Nak? Kangen Ayah, yah? Bentar lagi ia akan datang.” bisik Aminah lagi membujuk Tasya.

***

“Selamat!” ucap Pak Sutarna kepada Pak Taryat. “Ayo-ayo, yang lain kasih selamat juga kepada RT kita.” Pak Taryat membatin.

“Sudah dulu yah, sekarang waktunya patroli.” ucap Pak Taryat sambil mengambil senter.

“Lha, kok gitu? Gak asyik nih…”

“Tugas kita adalah ngeronda, bukan main gaple.” tegas Pak Taryat.

***

Tasya sudah mulai tak merengek lagi, tapi napasnya masih tersenggal-senggal karena terlalu lama menangis.

“Sudah ya sayang, sudah…” bisik Aminah sambil mencium kening Tasya. Tasya mulai memejamkan matanya, walau bernapasnya masih belum lancar seperti biasa. Aminah membaringkan Tasya di kasur kamarnya.

Saat Aminah hendak memejamkan mata di antara Wulan dan Tasya, bulu kuduknya berdiri, pikirannya tak karuan.

***

“Yat Yat, lihat di dekat kandang itu.” bisik Pak Banrun kepada Pak Taryat sambil menunjuk kandang yang dimaksud.

“Kamu gak percaya hantu, kan?” tambah Pak Badrun.

Pak Taryat memicingkan matanya, memerhatikan dengan seksama. “Percaya gak percaya sih. Tapi biasanya hantu kan berbaju putih, yang itu lain.”

Pak Taryat kembali ke pos ronda untuk memberitahu yang lain, sedang Pak Badrun terus memerhatikan dari kejauhan. Pak Taryat menyuruh Pak Sutarna agar mendekati kandang itu dari arah timur, sedang Pak Kosim dari arah utara. “Jangan menimbulkan suara, apalagi menyorotkan senter, mengerti?” tegas Pak Taryat. Pak Kosim dan Pak Sutarna mengangguk. Pak Taryat kembali lagi ke tempat Pak Badrun bersembunyi.

“Aneh sekali dia itu, dari tadi terus mundar-mandir dari situ ke kandang.” bisik Badrun.

“Sepertinya dia sedang mengincar rumah Aminah lagi.” terang Pak Taryat. “Ayo sedikit-sedikit kita bergerak. Kau tetap dari arah sini, saya dari arah selatan. Jangan menimbulkan suara, apalagi menyalakan senter, mengerti?” Pak Badrun mengangguk.

Pak Taryat mengendap-endap di balik semak. Jalan yang ia lewati memang jalan yang paling terjal; ia harus melewati benteng yang tersusun dari batu agar ladang yang berada di atasnya tidak longsor, hingga rumput ilalang yang dapat menggatalkan kulit. Saat makhluk yang sedang diincarnya begerak ke arahnya, Pak Taryat tiarap, saat makhluk itu memunggunginya, ia bergerak perlahan lagi.

Saat Pak Taryat berada di antara ilalang, makhluk misterius itu sepertinya menyadari ada orang yang datang dari arah utara, hingga ia berlari ke arah selatan, ke arah Pak Taryat bersembunyi. Pak Sutarna yang bergerak dari arah timur dan Pak Badrun yang bergerak dari arah barat langsung memunculkan diri, dan mulai mengejar.

Makhluk misterius itu meloncat dan mendarat di sebuah ladang menuju ilalang. Pak Taryat yang masih berdiam di balik ilalang itu menunggu dengan gelisah, menghitung kapan waktu yang tepat untuk menikam.

Hingga datang satu keadaan makhluk itu berlari sekitar lima meter lagi dari tempat persembunyiannya. Pak Taryat pun muncul dan langsung mengambil kuda-kuda untuk menendang. Kehadiran Pak Taryat yang tak diduga-duga dari arah depan membuat makhluk itu tak bisa mengelak. Satu tendangan cukup untuk menjatuhkannya karena kaki makhluk itu dalam keadaan tak seimbang. Pak Taryat langsung menindih makhluk itu, dan menghadiahi satu pukulan sebelum sarung yang menutupi wajah makhluk itu ia singkap.

“Hah, Lantang?” teriak Pak Taryat sembari merasa tak percaya.

“Saya hanya mengambil apa yang menjadi kepunyaan saya.” tutur Lantang.

Tuliskan Komentarmu !