Aku Punya Doa, Abang dan Nyonya Punya Uang, Boleh Ditukar?

dilarang mengkhayal
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Malam minggu kemarin saya diajak jalan ke pusat Kota Bandung: Jalan Braga dan Jalan Asia-Afrika. Tentu ini petualangan yang agak lain, karena biasanya saya jalan menyusuri kampung-kampung atau menuju puncak gunung. Tapi Jalan Braga dan Jalan Asia-Afrika pun bukan tempat yang asing bagi saya, tiap kali ada kumpulan Ormawa Hima Persis di Jalan Perintis Kemerdekaan, saya selalu melewati kedua jalan itu, walau keseringannya hanya lewat sepintas tanpa numpang selfi-selfi.

Sebagai orang yang terlahir dari pedalaman Garut, menyaksikan keriuhan pusat kota macam di Jalan Braga dan Asia-Afrika itu membuat saya seakan diseret ke dunia fantasi penuh imajinasi; apalagi waktu itu malam minggu, malam perayaan sebelum hari libur sekolah atau kerja. Waktu itu gerimis menyertai, membuat rambut yang tadinya tak beraturan menjadi klimis. Orang-orang yang berlalu-lalang dan lampu-lampu pijar pun sudah seperti bait-bait puisi.

Saya berjalan seakan memasuki lorong kehidupan yang liyan, kehidupan negeri dongeng yang hanya diisi oleh keceriaan dan ketentraman. Sebelum jalan kami seolah diperingati, “Semua yang jalan di sini harus takjub dan gembira.”

Tapi, dua orang pemuda mengubah suasana melankolis itu.

Saat saya dan kawan saya menepi di emperan mal, saya melihat dua orang pemuda menyapa hampir setiap orang yang lewat. Gerak tubuhnya amat sopan –selalu membungkukkan pundaknya saat hendak berbicara, ucapannya pun lemah lembut.

“Abang dan Nyonya saya doakan rezekinya melimbah dan berkah. Anaknya pun semoga menjadi anak yang baik dan bermangfaat bagi bangsa.” tutur pemuda yang satu, yang telinganya bolong dan rambutnya berdiri. Sedang pemuda yang lain, yang memakai topi dan celananya sudah sobek-sobek, asyik menyanyi sambil memainkan gitar kecilnya.

“Ade, saya doakan menjadi wanita karier dan sukses. Usahanya terus maju, rezekinya terus mengalir. Barangkali punya seribu duaribu untuk mengganjal perut kami. Saya doakan semua cita-cita Ade dapat terwujud, dan karier Ade semakin maju.” ucap pemuda itu lagi kepada segerombolan pemudi sambil melebarkan telapak tangannya.

Kedua pemuda itu hendak menghampiri kami, namun sepertinya sedikit ragu ketika melihat saya yang hanya memakai sandal jepit dan switer yang sudah agak kumal. Tapi setelah melihat kawan saya yang berpakaian agak perlente –karena hendak jalan bareng pacarnya, kedua pemuda itu pun menghampiri kami.

“Ade, saya doakan menjadi pemuda karier yang sukses. Usahanya banyak, istrinya banyak, anaknya banyak…” Sebelum ia melanjutkan doa-doanya lebih lanjut, saya melambaikan tangan isyarat sedang tak ada uang receh, soalnya yang saya dengar sebelumnya ia hanya minta seribu duaribu. Kawan di sebelah saya meraba sakunya. Pemuda itu pun langsung sumringah, sembari melantunkan lagi doa-doanya dan tentu lebih menggebu-gebu, walau yang kawan saya berikan dua koin lima ratusan.

Tuliskan Komentarmu !