Aku, Pidi Baiq 2007 dan Kemelut Dilan Corner

sumber gambar: revius.com

SAVANA- Alhamdulillah, akhirnya saya bisa duduk santai untuk menulis tentang ini. Teman-teman tarik nafas dulu sebelum membaca tulisan ini.

Begini…. Meski Dilan adalah sosok fiksi dalam novel yang ditulis oleh Pidi Baiq, tapi saya yakin, Dilan adalah Pidi Baiq itu sendiri.

Saya pertama mengenal beliau di 2005 melalui tulisan-tulisannya di blog pribadi. Nyeleneh, aneh, di luar logika keumuman. Saya sering bacakan tulisan-tulisannya ke teman, waktu itu teman-teman di Moshi2 book corner yaitu Acuz, Yoga Zaraandrita, Miftah Farid Hijau, Asri Nurani Afifah, dll. Kami sering ketawa-ketawa bareng pas saya bacain tulisan dari blog Kang Pidi Baiq yang sudah saya print.

Selanjutnya, dosen saya Kang Dul Wahab merajuk Pidi untuk membukukan tulisannya. Waktu itu Kang Dul adalah editor Mizan.

Pidi nggak percaya dan gak mau pada awalnya. “Tulisan aneh semacam ini gak layak jadi sebuah buku.” Itu katanya. Tapi Kang Dul terus meyakinkan kalau ia akan menyulap tulisan Pidi menjadi buku best seller, akhirnya terbitlah buku pertama dengan judul “Drunken Monster”.

Tak disangka buku tersebut betul-betul best seller, sampai profesor di ITB yang serius menjadi endorsment di buku yang tidak serius itu. Wah beneran ini proyek Kang Dul.

Melalui Kang Dul saya mengundang Pidi Baiq alias Dilan untuk menjadi pembicara di acara SMF Psikologi UIN Tahun 2007.

Waktu itu saya langsung jadi hostnya, konsep acaranya talkshow sambil ngebedah isi buku Drunken dan membongkar pikiran-pikiran dan akhlak nyelenehnya. Tak lupa dia membawa gitar kesayangannya. Capek ditanya, dia menggenjreng gitarnya dan menyenandungkan lagu-lagu di album The Panas Dalam. Tau kan The Panas Dalam? “Tong Gandeng”, “Urang Mah Bae”, “Cita-citaku”, “Budak Baheula” adalah judul-judul lagu yang hits saat itu.

Apa hubungannya Dilan dan The Panas Dalam? Dia adalah Imam Besar The Panas Dalam, hampir seluruh lagu dia yang ciptakan dan yang nyanyiin lagunya adalah si Dilan ini.

Urang mah tara biasa kikieuan euy“. Itu komentarnya pas diundang di acara tersebut.

Saya masih ingat waktu itu mengundang dia saya bilang, “Bang haji (panggilan saya ke Dilan), saya ngan boga 300 rebu, teu nanaon nya?”

Atuh ulah euy, tambahan deui we euy gocap mah, pan pamajikan sok menta bagean, ka si Deni manusia ikan we mayarna mah“.

Tak menyangka antusiasme orang-orang saat itu. Awalnya mahasiswa gak ngeh siapa Pidi Baiq, pas denger celetukan-celetukannya, apalagi pas nyanyi lagu-lagu yang sudah akrab di telinga, akhirnya banyak mahasiswa berkerumun menyaksikan acara tersebut dengan khidmat. Kebetulan wakti itu acaranya outdoor di halaman kelas dan dilewati oleh setiap mahasiswa yang mau pulang.

Sejak saat itu, Pidi Baiq sering diundang oleh anak-anak UIN, di antaranya oleh anak-anak akfil, mahapeka, LPIK, teater, dll. Sampai saking seringnya, Bang Pidi buka Negara Bagian Republik The Panas Dalam di UIN Bandung.

Sejak saat itu buku-bukunya terus ditelurkan seperti: Anak Tikus, Buburudulan, Drunken Mama, Drunken Molen, Drunken Marmut, Kitab Al-asbun, dll. Terakhir ini adalah buku Dilan 1990 dan 1991 yang sedang jadi sorotan ini.

Menurut saya, Pidi Baiq atau Dilan adalah orang yang cerdas dan langka. Celetukan, gagasan berpikir dan kenyelenehannya menggugah ruang bawah sadar kita, bahwa kita harus lebih peka terhadap sekitar, dengan tetap humoris sebagaimana ciri khas orang Sunda anu resep “banyol”.

Bahkan saya sempat mau buat penelitian skripsi dengan judul “Korelasi antara Kecerdasan dengan Sense of Humor”, dengan menjadikan Pidi Baiq dan buku-bukunya sebagai subjek penelitian, tapi gak jadi karena proposalnya ditolak. Variabelnya kurang valid katanya.

Namun demikian, tampang premannya, sikapnya yang urakan, celetukannya yang nyeleneh, dan gayanya emang nyebelin, secara akhlak bukan untuk ditiru. Namun jiwa berbaginya, kepekaannya terhadap masyarakat sekitar itu menjadi pelajaran penting bagi kita.

Hari ini Dilan digugat karena namanya mau dijadikan nama taman. Saya sedang membayangkan mesem-masemnya Pidi Baiq saat tokoh bualannya jadi kontroversi. Saya membayangkan bagaimana perasaan Rosi (Istrinya), Timur dan Bebe (anak-anaknya) ketika ayahnya digugat. Kita boleh menghujatnya sedemikian rupa, namun hujatan kita yang hanya 2 baris belum cukup untuk mengalahkan karya-karyanya yang berbuku-buku dan sudah dicetak beribu-ribu eksemplar.

Dilan 1990 & 1991 tentu berbeda dengan Pidi Baiq 2007 saat saya mulai mengenalnya, atau 2019 saat namanya dihujat. Apakah harus menjadi Pahlawan ketika akan dijadikan nama taman? Saya kira tidak, jomblo, lansia, badak, mereka juga bukan pahlawan yang kemudian dijadikan nama taman. Ini hanya sekedar apresiasi atas gaya milenial alias kekinian.

Jadi sangat tidak tepat membandingkan Dilan dengan pahlawan-pahlawan Jawa Barat, atau tokoh-tokoh fiksi legendaris lainnya semisal Kabayan, Dilan tidak ada apa-apanya, Dilan hanya mewakili gambaran anak muda pada zamannya.

Tulisan saya ini tidak sedang membela Ridwan Kamil yang sudah nyeberang ke grup seberang. Kenapa dulu tidak digugat juga saat buat taman jomblo dan taman-taman lainnya? Gak suka taman Dilan ya tinggal sepikan, nanti juga diganti fungsinya.

Namun ada baiknya tulisan lawan dengan tulisan. Tulisan Pidi Baiq yang comfort dan diterima oleh banyak anak bangsa gak cukup jika dilawan oleh tulisan 2 baris yang berisi hujatan dan nyinyiran. Termasuk jika tidak setuju dengan tulisan ini, silakan hujat dengan tulisan, kuatkan budaya literasinya juga.

Jika anda tidak sampai pada titik ini, tak perlu juga berkomentar karena itu sudah menunjukkan bahwa budaya literasi kita memang masih lemah. Yang sudah tamat bacanya, saya ucapkan selamat datang di alam literasi.

Dan judul tulisan ini sebetulnya adalah Budaya Literasi vs Budaya Penghujat.

Tuliskan Komentarmu !
Nana Wijaya

Founder Dakwahpreneur