Aktivis 1998 dan Aktivis 2018

Hari ini kita disuguhkan kembali dengan hiruk pikuk pemerintahan yang antah berantah. Puncaknya dengan naiknya harga Pertamax, 51% Freeport dan isu akan dijualnya Pertamina.

Saya nulis begini bukan seorang ahli, sih! “Terus loe ngapain ikut-ikutan nulis dan bahas masalah macam gini, Ma?” tanyamu.

Baik, ini hanya pendapat saya.

Kita (aktivis 2018) sering dibanding-bandingkan dengan aktivis 98. “Lihat aktivis 98 mah BBM naik langsung turun jalan, langsung ngepung istana,” dan gerutuan lain sebagainya. Intinya, membandingkan dengan segala keistimewaan aktivis 98 dibanding aktivis 2018.

Tentu zaman yang kita hadapi berbeda, kondisinya berbeda, sosio-politiknya pun berbeda, psikologis masyarakat juga berbeda.

Pada zaman Soeharto, tepatnya Tahun 1998, saat mahasiswa turun ke jalan, kondisi masyarakat tidak terlalu dipusingkan dengan masalah (contoh: macet), alias feel free saat mahasiswa turun ke jalan. Kondisi masyarakatnya pun masih satu asa satu rasa (sekalipun ada masalah yang berkaitan dengan ras).

“Rame gak sih Tahun 98? Gaduh gak sih?” Sekalipun saya belum mendapatkan data, masyarakat pasti gaduh. Hanya saja setiap perorangan masyarakatnya kita tidak tau kegaduhannya seperti apa.

“Maksdunya, Ma?” Hari ini kita merasa gaduh karena setiap kita buka sosial media, isinya keluhan, opini, kegaduhan-kegaduhan tentag ketidak-becusan pemerintah mengelola aset negara. Belum ditambah dengan meme-meme, belum ditambah dengan berita hoaks. Semua terpampang di depan kita. Dari ujung Timur sampai ujung Barat, kita tau apa yang diresahkan oleh masyarakat.

Setiap zaman, setiap waktu, memiliki jiwa zamannya tersendiri. Memiliki masalah dan memiliki ruangnya sendiri.

Aktivis 98 berhasil (katakanlah begitu) menangani masalah pada zamannya dengan “caranya” sendiri. Nah aktivis 2018, gimana?

Ini yang dimaksud dengan jiwa zamannya. Tahun 2018 berbeda dengan 1998. Kita hidup di era teknologi, dunia digital. Maka… jangan heran, jangan jengah, jangan pusing saat buka sosial media yang kita temui kericuhan, kegaduhan tentang pemerintah, atau jomblo yang gagal nikah. Kenapa? Karena umumnya kita hidup di sini, di dunia digital.

Side effect negatif dari teknologi adalah salah satunya kita mulai mengalami gejala individualisme, yang dalam artian: loe loe, gue gue. Kita bisa lihat hal begini saat kita (para aktivis 2018) turun ke jalan.

Yang para aktivis perjuangkan adalah hak dan keadilan untuk rakyat, loh! Yang artinya, loe juga kite perjuangin hak-hak loe. Tapi tidak semua masyarakat bisa menerima hal ini, dengan alasan macet lah, karena macet menghambat jalannya perekonomian lah, dan bla bla bla.

Karena alasan hampir tiap orang sekarang berkumpul di dunia digital, ya sampaikan aja langsung, mention kek! Nah dalam hal ini, ada beberapa yang tidak cukup hanya sekedar mention, memberitahu, tapi ada hal yang lebih penting, yakni: M. E. N. D. E. S. A. K

Cita-cita dan perjuangan aktivis 2018 mungkin terasa berat kita rasakan. Karena aktivis 2018 bukan aktivis 98. Hari ini kita lebih banyak disuguhkan dengan hal-hal pragmatis. Zaman serba instan dan gamau repot. Maka manusia-manusia sekarang pun terkonstruk untuk serba instan dan gausah repot.

Berat memang, karena yang kita hadapi adalah mindset masyarakat umum, bukan personal saja. Dan bahkan tantangan aktivis 2018 adalah disangkanya musuh oleh masyarakat.

Jika kita merasa berat, aktivis 98 pun saat itu juga merasa berat. Tidak usah ada lagi mebanding-bandingkan aktivis 98 dan aktivis 2018 –apalagi dengan begitu serampangan.

Tidak mengapa, zaman, ruang dan tantangan berbeda. Tapi RUH kita harus sama.

Oia satu lagi, aktivis duaribudelapanbelas berbeda dengan aktivis dualipa.

Curhatan: Pekan-pekan ini saya sedang merasa malu dan merasa minder jadi mahasiswa, sebab banyak mahasiswa yang jual murah. Dulu aktivis 98 selalu digaungkan dan dijadikan panutan. Hari ini ternyata kita salah menerima informasi. Harusnya ruh aktivis 98 yang kita terima bukan dari politikus yang gimanaaa gitu..

Merasa malu juga, ternyata ajaran bapak dan ibu untuk menyingkirkan paku di jalanan tidak membekas. Ajaran untuk jujur hanya ada dalam pelajaran PKN. Mungkin kita bukan aktivis 2018. Tapi aktivis dualipa.

Tuliskan Komentarmu !