Air Mata Perempuan

air mata perempuan
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Bagi sebagian orang, tangisan adalah obat mujarab dari penyakit yang menggores hati. Pun dengan seorang anak remaja perempuan yang saya temui di halte kemarin. Dia mengeluarkan bulir air mata begitu dahsyat, sampai-sampai matanya sembap. Kalau orang daerah saya sih sering bilang, ceurik kanyenyerian (nangis karena kesakitan). Biasanya tangisan ini dikeluarkan saat-saat tertentu, kehilangan orang terkasih, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati yang sulit diungkap, ~ya begitulah.

Karena saya khawatir, maka saya pun mengelus punggung anak remaja tersebut, “Dek, kenapa?”.tanya saya sopan.

Eh Gusti Nu Agung (Allah Maha Besar), bukannya menjawab, malah nangisnya tambah keras. Karena saya teringat perkataan ibu, bahwa menangis bagi perempuan bisa meringankan beban, yaudah, jadi saya elus lagi punggungnya sampai hatinya tenang. Setelah tenang, barulah saya tanya lagi, “Dek, kenapa?”

“Putus sama pacar, Kak.” jawabnya.

Eh gusti, Kakak aja belum sanggup punya pacar, dek. Jerit batin saya. “Oh gitu, kenapa sampai nangis kesakitan gitu?”

“Aku ngerasa digantung, Kak. Kan perempuan butuh kepastian,” jawabnya.

Ehiya, bener juga sih. Ya ampun… saya jadi kasihan lihatnya.

Seorang ibu paruh baya tiba-tiba memotong perbincangan kami. “Nak, kasihan sekali kamu, nangis sampai sebegitunya. Boleh ibu bantu meredakan lukamu?”

“Boleh banget, bu.” jawabku. Diikuti dengan manggutnya si anak tersebut bertanda setuju.

Karena saya lupa redaksi pembicaraan ibu itu persisnya gimana (lupa direkam), maka kurang lebih esensinya begini: sakit hati terhadap seseorang merupakan hal yang wajar dan menangisinya pun hal yang wajar pula. Apalagi yang nangisnya perempuan. Karena Qadarullah, Allah ciptakan perempuan itu dengan dominan penguasaan hati. Tapi, ibu itu bilang, sakit hati yang berkelanjutan dan diratapi itu tidak baik. Apalagi untuk seorang perempuan.

Perempuan itu berharga lho. Ibu itu mengutip perkataan Mochtar Lubis dalam buku Nawal el-Saadawi (Perempuan di Titik Nol), yang berujar, “bukankah kata perempuan itu sendiri berasal dari kata ‘empu’ yang punyai pengertian penuh kehormatan dan kesaktian?”

Aha, iya juga~

Perempuan itu berharga dan terhormat, agaknya bila berlarut dalam kesedihan karena terputusnya hubungan dengan si pacar adalah suatu kebodohan. Saya jadi teringat kisah Firdaus dalam novel Nawal el-Saadawi (Perempuan di Titik Nol), Firdaus yang terjebak dalam kungkungan permainan laki-laki hingga medapati putus asa ke pojok yang kelam, bisa bangkit kembali.  Demi apa? Demi menegakkan kebenaran, bahwa perempuan itu berhak mendapati penghormatan dan bangkit kembali dari rasa keterpurukan, khususnya karena putus dengan si pacar.

Guys, masalah gantung-menggantung, selaku perempuan rasanya juga tidak berhak menyalahkan laki-laki. Saya tahu, perempuan butuh kepastian, tapi sosok perempuan pun harus memikirkan laki-laki. Karena bagaimana pun, laki-laki memiliki rasa khawatir, sama seperti perempuan. Khawatir akan pendidikannya nanti bila sambil berkeluarga, khawatir akan ekonominya nanti setelah berkeluarga, bagaimana laki-laki bertanggung jawab pada orangtuanya atau istrinya dan lain sebagainya. (Asumsi kekhawatiran telah teruji, ketika saya mengambil sample 5 dari 10 orang di komunitas Café Baca Library. Haha)

Tapi, cuma mau mengingatkan, Allah telah berfirman dalam Q.s Al-Isra ayat 31. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

Allah sebaik-baiknya pemberi rezeki. Ya Razaq, ya Razaq, begitu panggilannya.

Dan Rasul pun pernah bersabda dalam HR Bukhari-Muslim, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan atas kalian adalah apabila dunia dibentangkan atas kalian seperti yang telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu, kalian berlomba-lomba mendapatkannya seperti yang mereka lakukan dan harta itu membinasakan seperti telah membinasakan neraka.”

Hmmm, balik lagi ke masalah sakit hati karena putus. Coba deh buat para perempuan, jangan terlalu fokus pada laki-laki yang memutuskan untuk meninggalkanmu. Fokuskan pada masa depanmu, masa depanmu masih panjang kok.

Saya mengutip perkataan teman saya, Maya Siti Maryam, bahwa perempuan itu harus berani ambil resiko. Bila yakin, maka teruskan. Bila sekiranya berhubungan dengan si dia hanya membuang waktu atau unfaedah, yaudah, tinggalkan.

Dan by the way, mau ngingetin, kalau anak hebat berhak lahir dari seorang perempuan yang kuat dan tidak cengeng. So, jangan cengeng karena diputusin ya, dear! Hehe.

 Baca Juga: Dari Singelillah sampai Menikah; Teladan untuk Sohibul Hijrah

Tuliskan Komentarmu !