Adu Domba di Media Sosial

adu domba media sosial
Ilustrasi: Rizki Agustian Savana Post)

SAVANA- Di tahun politik seperti sekarang ini, menyerang lawan atau musuh politik bukanlah hal yang sama sekali baru. Mahalan menjadi sesuatu yang sah dan di dibolehkan dalam iklim demokrasi yang sehat. Ukuran sehatnya alam demokrasi adalah ketika kebebasan berekspresi tidak diintervensi dari pihak mana pun, orang bebas berpendapat dan dapat bertindak selama tidak melanggar kebebasan orang lain. Itulah prinsip yang paling utama dalam berdemokrasi secara sehat.

Mungkin apa yang dikatakan Winston Churchil benar, bahwa dalam perang anda hanya bisa bunuh satu kali, tetapi dalam politik anda bisa dibunuh berkali-kali. Itulah prinsip berpolitik dalam demokrasi, orang dapat berkali-kali mati dan tumbang, namun seketika itu pula dapat bangkit dan hidup kembali. Manusia politik memiliki banyak nyawa dan amunisi, ia tidak akan bisa benar-benar mati selama ia tak menghendakinya.

Di arena politik, orang boleh saling serang dan menjatuhkan, sebab itu bagian dari stategi pemenangan untuk meraih kekuasaan. Tetapi strategi penyerangan yang bagaimana dan cara-cara apa untuk dapat menjatuhkan lawan? Pada tahap ini, banyak orang melakukan berbagai macam cara untuk dapat menang, mahalan seringkali cara-cara yang tidak sehat juga cukup produktif menjadi kekuatan dalam melawan musuh politiknya.

Saat ini, salah satu di antara sekian banyak cara yang dijadikan jalan untuk berkempanye adalah media online dan media sosial sekaligus. Sebagai sebuah jejaring, media sosial memang cukup efektif dalam menarik masa, membangun opini dan menggerakkan perspesi masyarakat untuk ikut pada satu kubu politik dan melawan kubu yang lain.

Tetapi, seringkali modal kampanye yang dibuat tidaklah memenuhi kriteria-kriteria berdemokrasi secara sehat. Akibatnya, berita bohong muncul di mana-mana, bukan hanya bertujuan untuk melawan dan menjatuhkan kubu politik yang berbeda, tetapi juga merupakan bagian dari gaya politik adu domba dan memecah belah masyarakat.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa berita hoaks begitu berkembang tak terkendali, orang jadi sulit membedakan kebenaran informasi yang dikandungnya. Lagi-lagi, hal ini terjadi akibat gaya perlawanan politik yang tidak sehat dan boleh jadi mungkin ada pula aknum-oknum tertentu yang sengaja menginginkan suasana menjadi gaduh untuk membelah masyarakat dan saling serang satu sama lain.

Langit media sosial kita hari ini sekan-akan dipenuhi dengan dominasi berita palsu. Tak jarang, jika melihat arus wacana politik yang berkembang, banyak kelompok tertentu memproduksi berita hoaks dengan dibumbui dengan ayat-ayat suci. Padahal, konteks dan maknanya mungkin tidak sesuai. Karena tujuan berita itu memang salah sedari awal, maka sudah jelas para pembawa berita itu bukanlah ahli di bidangnya, sehingga ia dapat dikatakan telah menyesatkan pembacanya secara dua kali sekaligus.

Motif berita bohong pun sebenarnya bermacam-macam, tetapi sekarang ini banyak yang lebih condong pada adu domba. Yakni membenturkan satu kelompok dengan kelompok lain atas dasar beda sikap politik dan memang niatnya saling menjatuhkan dengan cara yang keji. Akibatnya, dengan adanya hoaks yang bertujuan adu-domba ini, jurang pemisah di masyarakat semakin menganga.

Guru Besar bidang Sejarah dan Peradaban Islam UIN Jakarta, Azyumardi Azra mengatakan bahwa saat ini gejala adu domba di media sosial sudah semakin menguat. Jika hal ini dibiarkan atau malah diviralkan, menurutnya, akan merusak tatanan di masyarakat, bahkan juga dapat merusak peradaban. Dan, memang demikianlah tujuan si pembuatnya, agar berita hoaks itu menjadi viral dan berusak.

Memang, masyarakat kita ini tak mudah diadu domba, tetapi pihak pengadu-domba seringkali lebih licik dari masyarakatnya. Sehingga, masyarakat luas, khususnya yang masih awam, terkelabui oleh berita yang seolah-olah berupa fakta, bukan bohong dan sejenisnya. Selain itu, masyarakat kita ini sebenarnya mudah termakan arus yang sengaja diolah oleh kelompok tertentu untuk mensukseskan misi adu domba tersebut.

Budaya mudah termakan omongan dan suka dengan gosip, menjadi bagian yang paling penting di mana berita bohong mudah sekali bekerja secara produktif di tengah masyarakat, khususnya melalui media sosial. Apalagi, berita itu sifatnya provokatif dan dirasa memiliki muatan isi yang menguntungkan bagi membacanya.

Ada beberapa alasan mengapa kelompok tertentu sengaja memilih media sosial sebagai wadah untuk mengadu-domba. Pertama, kurangnya budaya literasi. Masyarakat kita sekarang ini, khususnya generasi milenial, umumnya daya membacanya lemah. Dalam penelitian UNESCO tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001.

Senada dengan itu, di tahun yang sama, hasil penelitian Programe for International Student Assesment (PISA) menyebutkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia berada di titik yang rendah. Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara yang dijadikan objek penelitian ini.

Fakta bahwa daya literasi masyarakat yang rendah, memungkinkan konten-konten berita hoaks menjadi sangat mungkin, bahkan menjadi makanan empuk. Dengan sedikit dibumbui fakta, maka masyarakat Indonesia, yang minat bacanya kurang tentu saja, akan mudah percaya dan diperdaya.

Kedua, daya kritisnya kurang, alasan ini sebenarnya bagian dari dampak kurangnya minat baca tersebut, orang menjadi tidak dapat berpikir secara baik dan kritis. Cek n ricek pada suatu informasi tidak lagi dijadikan sebagai langkah utama ketika menerima suatu berita. Akibatnya, berita hoaks disebarkan dan dianggap sebagai sejenis kebenaran.

Ketiga, mudah terbawa arus. Salah satu ciri khas masyarakat Indonesia adalah suka ikut-ikutan, semacam ‘taklid’ kalau dalam bahasa agama. Dan memang benar, sebagian besarnya adalah orang-orang awam, tidak sebanding dengan kaum intelektualnya, sehingga budaya ikut-ikutan pada seorang figur tak dapat dihindari.

Namun demikian, berita hoaks sebenarnya mudah ditangkal. Anti-hoax dapat ditangkal, sekurang-kurangnya, berangkat dari individu masing-masing, khususnya ketika berselancar di media sosial. Selain itu, kita juga perlu untuk bersikap hati-hati dalam melihat berita, baca dulu dengan seksama, baru putuskan apakah kemudian harus dilike dan share.

Mengenali berita hoaks juga bagian dari langkah menangkal berita-berita palsu. Jika lebih diteliti lagi, hoaks sebenarnya dapat terdeteksi sejak awal. Misalnya, jangan mudah percaya dengan berita-berita provokatif. Dan, cermati apakah berita itu sudah mengandung informasi yang logis dan empiris. Maka cek and ricek haruslah lebih dikedepankan, misalnya dengan mencari lagi di google dan menelusuri sumber-sumber berita terpercaya.

Selain itu, sikap diam juga perlu, terkadang berita hoaks menjadi viral disebabkan kita terlalu aktif, yang lalu mengundang perdebatan dan gampang menyulut suasana panas. Agar tidak semakin menjadi-jadi, maka lebih baik diam dan jangan sebarkan, apalagi harus berdebat di ruang publik dengan kurang memperhatikan etika.

Tuliskan Komentarmu !