#2 Aku Bukan Joker

lds
Ilustator: Rizki Agustian

SAVANA- “Apa saya boleh dengar, bagaimana awalnya kamu melakukan ini?” tanya Aulia.

Saya menunduk lagi. Buat apa saya bercerita? Apa ia mau menjebak saya agar dipenjara lebih lama setelah saya ungkap semuanya? Saya memang bodoh, tapi tak setolol itu juga.

“Apa yang ingin kamu tunjukan? Bahwa negara tak becus urus rakyatnya? Bahwa agama tak bisa urus umatnya? Atau mau sok-sok an saja jadi jagoan?”

Saya geram juga ditanyai seperti itu. Apa pula urusannya. Saya sudah dipenjara, sudah mentaati hukum di negeri ini. Dan sekarang, ia menceramahi saya begitu cara.

“Apa Mba datang ke sini hanya untuk ini?” Akhirnya saya angkat suara setelah lama terdiam dan gemetar.

“Nggak, saya ke sini hanya mau mengantar ini,” jawab Aulia sambil menyimpan rantang di sebelah saya. “Dan mendengar bagaimana awalnya Kakak melakukan kejahatan ini.”

Saya menatap Aulia dengan detail, lalu mengingat apa di masa lalu wajah seperti ini pernah ada atau belum. Saya berhenti mengingat, saya rasa percuma. Tapi bagaimana bisa ia memanggil saya Kakak?

“Untuk apa semua ini?” Tanya saya ragu.

“Agar Kakak mau bercerita bagaimana awalnya Kakak mau melakukan ini.”

“Ya untuk apa cerita itu?”

“Saya yakin, tidak ada seorang pun yang bercita-cita jadi perampok, atau kalau bagi perempuan, jadi pelacur. Jadi, saya ingin tau bagaimana awal mulanya.”

“Setelah tau?”

“Ya siapa tau aja bisa bantu.”

“Mau memberi makan semua perampok dan pelacur?”

“Ya tidak semuanya juga, paling tidak bisa mengurangi populasinya.”

“Bukan untuk memperpanjang masa tahanan saya?”

“Kakak tidak percaya sama saya yang manis ini?” Katanya sambil tersenyum.

“Yang manis biasanya yang lebih jahat.”

Aulia pun cemberut.

“Oke, besok saya akan mulai bercerita. Dengan syarat, tidak ada perekam.”

Aulia tersenyum kembali, lalu mengangguk. Saya tak tau ada apa dibalik semua ini. Tapi yang pasti, punya teman bicara saat ini sangat menyenangkan. Semoga saja benar ia ingin membantu saya. Walau, marampok bagi saya adalah ideologi, bukan untuk cari makan semata.

***

Hari ini Aulia datang kembali. Memang tanpa alat perekam, tapi di kantongnya sudah disiapkan secarik kertas beserta balpoinnya.

“Tidak usah ditulis, dengarkan saja”, ungkap saya karena merasa tak nyaman. “Kamu, bukan jurnalis, kan?”

“Bukan, bukan. Saya mahasiswa biasa Kak. Tapi saya sulit sekali kalau mengingat tanggal dan tempat.”

“Buat apa diingat? Lagian, saya sendiri juga sudah lupa kapan tanggalnya dan di mana tempat pastinya. Saya tidak akan bercerita sedetail itu.”

“Oh, oke siap kak. Kita mulai ya. Mulai sejak kapan Kakak mengambil paksa barang orang lain, dan kenapa?”

“Kira-kira sejak umur 7 tahunan lah, setelah bisa manjat pohon. Mungkin sewaktu bayi juga saya suka mengambil mainan orang lain, tapi sebelum usia 7 tahun, saya benar-benar lupa apa yang sudah terjadi. Waktu itu, biasanya sepulang sekolah kami tak langsung pulang ke rumah, tapi ke kebun orang dulu. Ya untuk nyolong mangga, rambutan, dan lain-lain. Alasannya ya senang saja, serasa punya gairah. Apalagi jika ketahuan.”

“Ya kalau usia segitu kan belum baligh, belum bisa berpikir panjang, belum tau sebab-akibat. Kalau setelah baligh, atau setelah umur 17 tahunan deh, apa Kakak pernah melakukan hal seperti itu lagi?”

“Kalau nyolong mangga sih sudah tidak lagi, tapi mulai nyolong barang lain. Semisal uang, sepatu, sandal, tas atau handphone.”

“Kenapa? Apa karena merasa uang jajan Kakak kurang?”

“Itu mungkin alasan ke tiga. Alasan pertamanya karena senang aja, alasan keduanya karena banyak orang yang lengah.”

“Kok bisa sih? Apa Kakak merasa merampok itu passion Kakak, bukan karena sebuah desakan?”

“Ya enggak. Kalau karena sebuah desakan, nanti disamain lagi sama Joker, atau Robinhud. Ha ha ha.”

“Kakak ketawanya jelek ah…”.

Saya pun langsung terdiam. Mulut gadis manis ini benar-benar sadis.

“Apa Kakak pernah punya pasangan?” Tanya lagi Aulia, dan pertanyaan itu membuat saya memandangnya terpana. Saya merenung sejenak, dan kenapa yang sudah pergi harus dihadirkan kembali?

Bersambung.

Tuliskan Komentarmu !