Salah Kartini atau Feminisme?

ilustrator by: Tirto.id

SAVANA- Aku ingin sedikit nostalgia tentang masa kecilku. Waktu itu sedang pawai Agustus, dan aku didandani layaknya seorang menak Sunda yang didampingi perempuan berkebaya. Ketika itu pemimpin pawai mengawali nada suara dengan,”Ibu kita Kartini, Putri sejati, Putri Indonesia..” Tentu saja kami bangga menyanyikan lagu itu, apalagi pawai dengan rekan-rekan itu sangat seru dalam ingatanku.

Ketika aku beranjak dewasa, aku membaca tulisan bahwa Kartini itu adalah seorang feminis. Aku bingung feminis itu apa, lalu aku mencoba mencari tahu. Setelah mendapat sedikit definisi mengenai feminisme, kok aku tak menemukan itu dalam sosok Kartini. Lalu, apakah layak menjadikan Kartini sebagai icon feminisme di Indonesia saat ini?

Bagiku tidak. Saat ini kita hanya bergelut dan counter suatu ideologi itu hanya momen-momenan. Contoh ketika Mayday yang diperingati 1 Mei, pasti kita kritik, “Woi Karl Marx, itu Iluminati”. Padahal jauh sebelum ada materialis-dialetika, di mana buruh memaksa untuk mengambil produksi agar kesejahteraan antara pemilik modal dan buruh sama rata, justru ini sudah ada sebelum Marx dituduh Illuminati.

Begitu pun dengan konteks Kartini yang selalu disalahkan ketika 21 April saat ia diperingati, kaum Islamis memaksa Kartini itu Feminis, Feminis itu Bid’ah, Bid’ah itu dosa, dosa itu Neraka, Feminis itu kafir.’ Padahal sebelum 21 April, justru feminisme itu hadir baik membuat wacana-wacana nasional atau hal pelik seperti agama sekalipun, sayangnya Kartini lagi yang salah, fiks Kartini Feminis, Illuminati dan bla-bla lainnya.

Malah kubu Islamis seperti menawarkan penggantinya, 21 April kita ganti saja dengan Cut Nyak Dien, atau tokoh muslimah lainnya. Menurut saya, agitasi mengenai Kartini sudahlah jangan diteruskan, mau feminis atau bukan gak jadi masalah. Justru yang jadi masalah, bagaimana kita menghadapi budaya eksploitasi perempuan dengan menghegomoninya media menjadikan perempuan objek, mulai dari iklan jamu hingga di goda-goda sebagai tokoh adegan serial sinetron, di tempat lain kita melihat perempuan banyak dilecehkan bahkan perempuan sendiri seolah-olah ingin di begitukan.

Perempuan sebagai Madrasatul Ula, justru harus diformalisasikan dan dididik. Toh dalam sejarah Islam memang perempuan dimuliakan. Hanya saja yang menjadi masalah, di Barat perempuan malah jadi sosok menakutkan. Salahnya kita jadi banyak yang latah pada Sejarah Barat yang kelam ini.

Justru yang harus dipikirkan, bukan membicarakan Kartini dengan mitos-mitosnya setiap 21 April, namun bagaimana menghadirkan muslimah-muslimah tangguh di era post-strukturalis ini, dimana sudah tidak ada lagi objek-subjek, petanda dan penanda sebagai mana yang dibahaskan oleh Dee Lestari dalam novel Supernova-nya, tapi yang ada hanyalah seimbang.

Ya, bagaimana kita menghadirkan sosok Ibunda Aisyah raddhiyallahuanha yang bukan hanya dengan seni musik saja, tapi menerap juga ilmu dan akhlaknya. Lalu bagaimana kita menghadirkan sosok muslimah-muslimah tangguh lainnya, katakanalah seperti Rohana Kudus, Rahmah El Yunusiyyah, Nyai Dahlan dan mujahidah lainnya, bahkan sosok Kartini sekali pun, karena toh Kartini sendiri rela dipoligami dalam fakta sejarahnya.

Kartini justru berupaya melakukan dekonstruksi tatanan budaya perempuan yang penuh eksploitif dan cenderung diremehkan pada waktu itu, jadi apakah terus akan menyalahkan Kartini? Aku rasa sudahlah kita bikin lagi sosok baru, baik di keluarga kita, madrasah kita, dan lingkungan kita. Ibumu, mungkin.

Tuliskan Komentarmu !