#1 Rasa Takut Ini Abadi

ilustrator by: Rizki Agustian


SAVANA- Sejak kecil, saya sudah ditanamkan rasa takut. Harus takut pada hantu agar tak berkeliaran malam-malam, harus takut pada Tuhan agar tak menjahati sesama manusia. Rasa takut itu ada yang terbawa hingga dewasa, ada juga yang gugur seiring bertambahnya usia. Dan sialnya, yang gugur itu adalah rasa takut kepada Tuhan.

Saya lupa awalnya dari mana, dan kenapa pula itu bisa terjadi. Saat remaja saya banyak diajari bahwa hantu itu tidak ada, Tuhan yang abadi. Hantu itu hanya rekaan manusia, dan Tuhan yang menciptakan kita.

Pelajaran-pelajaran itu tak membekas sama sekali. Saya lebih takut bagaimana orangtua menakuti saya, saya lebih takut bagaimana ustadz yang mengancam saya. Sedang, yang saya takuti sesungguhnya adalah hantu.

Memang saya belum pernah bertemu langsung dengannya. Saat saya diospek dan disuruh lewat kuburan tengah malam sendirian pun, hantu belum mau menunjukkan wujud aslinya. Tapi ia akan selalu ada di hati saya. Rasa takut ini abadi.

Beda halnya saat saya hendak menjahili orang, merampok, atau bahkan membunuh. Tuhan tidak ada di hati saya. Yang ada di pikiran hanya bagaimana caranya agar saya mendapatkan uang. Jika sudah terpenuhi, sudah, selesai. Walau sesekali ada penyesalan. Tapi untuk apa? Bukankah saya akan melakukan hal yang sama selama perut meronta-ronta minta makan, sedang negara tidak bisa menjamin? Yang sudah terjamin saja hidupnya masih suka nyolong duit orang, kan? Apalagi kami.

Andai saja hantu-hantu yang saya takuti itu mendatangi saya dan melarang saya untuk merampok dan membunuh lagi, tentu saya tak akan pernah percaya bahwa ia itu hantu yang saya “takuti”. Dan yang saya takuti itu hanya hantu.

Tapi semua berubah saat saya hendak merampok perempuan berjilbab yang baru turun dari angkot. Saya benar-benar dibuat malu.

***

Kata Kiai saya dulu, keluar dari pesantren tak selamanya harus jadi ustadz, tapi bisa jadi apa pun. Dan mungkin, jadi perampok salah satunya. Tapi tentu, pesantren sangat mengutuk perbuatan ini. Maka saya tak pernah bilang profesi ini ke teman-teman.

Pagi ini, seperti biasa, saya ngopi dan ngudud di warung Bi Ucu. Tentu, kasbon dulu. Kalau hutang saya sudah lebih dari seratus ribu, baru saya mau bayar. Itu pun jika Bi Ucu tidak rewel nagih-nagih.

Lalu seperti biasa, Bi Ucu mengingatkan saya, “kalau hutangnya sampai dibawa mati, nanti tidak akan masuk surga, lho!”.

“Surga diciptakan untuk mereka, Bi! Kita mah sejak hidup sudah di neraka.”

“Sembarangan aja kamu ngomong! Kamu pikir Bibi tidak layak masuk surga?”

Tentu saya lebih memilih tak menjawab, lalu kabur. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab.

Saat saya sedang berjalan, angkot menepi di hadapan saya, lalu turun seorang perempuan berjilbab. Awalnya saya enggan, tapi kesempatan tak akan datang dua kali. Saya pun mengambil tas yang sedang ia jinjing, lalu lari.

Dan merampok tanpa persiapan hanya akan mendatangkan malapetaka. Saya lari ke tempat yang belum saya cek kondisinya.

***

Nama perempuan yang berjilbab itu adalah Wilda Aulia. Ia sedang ada di hadapan saya, di kantor polisi ini. Mungkin ia belum puas melihat saya digebuk masa lalu dipenjara, hingga ia mau menemui saya sekarang.

Saya menunduk malu. Sangat malu. Ia mengingatkan saya pada teman-teman saya di pesantren, juga pada seseorang yang sangat saya idamkan.

“Apa yang kamu harapkan dari isi tas saya?”

Saya semakin menunduk. Tentu saya mengharapkan uang. Tapi saya masih punya tenaga untuk bekerja, untuk menjadi kuli bangunan atau tukang angkut-angkut di pasar, dan itu pekerjaan yang mulia dibanding merampok. Saya tau ia akan berpesan seperti itu.

“Di dalam tas saya hanya ada uang Rp.79.000,-. Jika mau, ambillah!.”

Saya gemetar. Saya benar-benar merasa dipermalukan. Bukan hanya uang itu yang saya harapkan, tapi gairah mendapatkan uang dengan cara ini.

“Maaf jika lancang, apa kamu lebih takut hantu ketimbang Tuhan?”

Saya pun menatap matanya.

Bersambung.

Tuliskan Komentarmu !